02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

DPW Partai Nasdem Jatim Gelar Debat Bacalon Walikota Surabaya

DPW Partai Nasdem Jatim Gelar Debat Bacalon Walikota SurabayaSurabaya, KabarGress.Com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Jawa Timur, Selasa (17/3/2015) menyelenggarakan debat Bakal Calon (Bacalon) Walikota Surabaya periode 2015 – 2021 di Jl. Kartini 88 Surabaya. Acara tersebut dihadiri sejumlah Bacalon yakni, Dhimam Abror, DR Sutjipto Joe Angga, Dr Rahmad, Hendrik Purnomo dan Sukoto, hanya satu yang tidak hadir yaitu Vinsensius Awey.

Dalam debat tersebut masing – masing Bacalon satu persatu diminta oleh moderator yang tidak lain adalah Imam Syafi’I Pimred/Redaktur dari media local di Surabaya untuk menyampaikan visi dan misi jika nantinya terpilih sebagai Walikota Surabaya.

Direktur Koran Harian memorandum, Sukoto maju pertama untuk menyampaikan visi misinya. Pria kelahiran tahun 1966 itu berjanji dalam pidatonya ia mengatakan, akan menjadikan kota Surabaya dalam pusat perdagangan jasa dan kota budaya yang aman.

“Kalau seandainya saya jadi Walikota saya akan wujudkan dua hal ini. Dan yang tidak kalah penting saya akan membenahi pasar tradisional yang saat ini sangat jorok, dan akan berusaha untuk mengurangi kemacetan di Surabaya ini,” ucapnya.

Selanjutnya adalah giliran Dr Rahmad. Pria yang membidangi ahli kedokteran tersebut menyampaikan, ada 5 hal untuk menjadikan kota Surabaya menjadi lebih maju. Yakni dengan progam Ekologi, Reformasi Birokrasi yang transparan, memajukan Pendidikan, Wisata dan Kesehatan.

“Memang kepemimpinan bu. Risma (Walikota) saat ini sangat bagus dalam membangun taman – taman. Tapi sebenarnya itu adalah kulitnya saja. Artinya, ada yang dilupakan yaitu sampah.misalnya seperti di derah Benowo sampahnya numpuk dan tidak dimanfaatkan,” kritiknya.

Pada giliran ketiga penyampaian visi misi diberikan oleh Dhimam Abror. Mantan pimred media Jawa Pos tersebut mengatkan, untuk memajukan kota Surabaya harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat baik kecil, menengah, maupun atas.

“jika ingin perubahan yang besar itu dimulai dari drinya sendiri. Artinya, di dalamnya harus ada masyarakat yang sejahtera dan mempunyai martabat. Masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang mau bekerja keras untuk membangun kotanya,” tegasnya.

Berikutnya adalah Bacalon Hendrik Purnomo, yang ternyata hanya lulusan SMK , dan kini sedang bekerja sebagai outshourching di lingkungan Dispendik kota Surabaya. Pergunjingan miring mulai terdengar, saat Purnomo menyampaikan visi dan misinya yakni melaksanakan pemerintahan yang berdasarkan Pancasila dan berkiblat pada kesehatan.

“Intinya adalah, jika tubuhnya sehat maka akan mampu berlaku bijak di segala hal. Pokonya kita harus mampu bekerja sama antara satu dengan yang lain jika ingin kota Surabaya menjadi kota yang hebat,” tuturnya.

Setelah itu, Sutjipto Joe Angga menyampaikan visi yang bertajuk “menjadikan Surabaya Kota metropolitan modern yang humanis, bersih dan korupsi dalam memimpin dan memerintah. Namun demikian, Cak Angga juga sepakat dengan protes Dhimam Abror, yang mengharapkan semua pihak tidak mencari-cari kelemahan pemerintahan incumbent (Tri Rismaharini).

“Saya tidak bisa menerima soal rendahnya serapan sehingga berakibat besarnya silpa APBD setiap tahun di Pemkot Surabaya, artinya tidak memiliki program yang jelas untuk mensyarakat, padahal dananya sudah disiapkan tetapi malah tidak digunakan, ini sebuah kenaifan yang tidak bisa diterima akal sehat,” tandasnya. (tur)

Teks foto: Suasana debat bakal calon walikota Surabaya.