24/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Bude Karwo: Kerja Keras Kader Posyandu Selamatkan Ibu Melahirkan di Jatim

Bude Karwo= Kerja Keras Kader Posyandu Selamatkan Ibu Melahirkan di JatimSurabaya, KabarGress.com – Jumlah kematian ibu melahirkan di prov. Jatim  mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari 642 jumlah kematian ibu melahirkan pada Tahun 2013 turun menjadi 291 kematian ibu melahirkan hingga Agustus 2014. Keberhasilan tersebut tidak lain adalah hasil kerja keras para kader posyandu dan tenaga kesehatan yang terus memberikan pendampingan pada ibu-ibu hamil dengan resiko tinggi yang ada diseluruh wilayah Jatim.

Pernyataan itu disampaikan Bude Karwo panggilan lekat Ibu Nina Soekarwo Ketua Tim Penggerak PKK prov. Jatim saat memberikan pengarahan pada acara Temu Kader Tahun 2014 dalam rangka Kampanye Penurunan Angka kematian Ibu (AKI) di Atrium Mall Of City Surabaya, Rabu (15/10).

Dikatakan, kerja keras dan ikhlas yang dilakukan oleh ibu- ibu para kader PKK ini sangat mulia  dan sangat positif dampaknya. Hal  ini bisa kita lihat dan rasakan dampaknya, yakni dari 749 kematian ibu melahirkan  di tahun 2013 turun menjadi 291 ibu di tahun 2014. Ini  sungguh sangat luar biasa, walaupun tanpa gaji tapi sengat  ibu- ibu terus bekerja dengan hati  dan kesabaran  yang luar biasa sehingga hasilnya  bisa dirasakan oleh semua orang.

Bagaimana tidak, sebagai kader posyandu yang sekaligus memberikan pendampingan pada ibu hamil beresiko tinggi ini sangat  membutuhkan tenaga ekstra dan waktu 24 jam dalam seharinya. Dan pekerjaan ini, mereka lakukan dengan Cuma- Cuma tanpa memperhitungkan atau memikirkan honor ataupun gaji,padahal pendampingan ini mereka lakukan mulai dari kehamilan sampai dengan 40 hari setelah ibu melahirkan. “ Kerja  semacam inilah yang harus kita acungi jempol dan kita apresiate pada mereka semua (para kader posyandu) yang telah berhasil mengangkat nama Jawa Timur ke Tingkat nasional,” jelas Bude Karwo.

Selanjutnya Bude Karwo menambahkan, berdasarkan data dari Dinkes Kab/Kota Angka kematian Ibu di Jatim saat ini sudah dibawah target yang ditetapkan MDGs yakni tahun 2011 sebesar 101,4, tahun 2012 sebesar 97,43 dan tahun 2013 sebesar 97,39 per 100.000 kelahiran hidup. Sedang target MDGs AKI tahun 2015 adalah 102/100.000 kelahiran hidup, namun secara absolute jumlah kasus kematian ibu masih tinggi tahun 2013 sebanyak 642 jiwa.

Untuk itulah, lanjutnya, Jawa Timur dengan Tim penggerak PKKnya terus melakukan kegiatan dengan memberikan pendampingan pada ibu hamil yang beresiko tinggi. Pendampingan ini dilakukan mulai dari awal kehamilan hingga masa nifas, dan satu orang kader memberikan pendamping satu orang ibu hamil. Kalau pada tahun 2013 lalu sebanyak 400 orang kader  dengan memberikan  pendampingan pada 400 orang ibu hamil  semuanya selamat dan sehat bayinya. Bahkan, tahun ini meningkat menjadi 740 orang ibu kader yang memberikan pendampingan pada ibu hamil beresiko tinggi, dan hasilnyapun sangat luar biasa.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Bude Karwo mengaharapkan, semoga keberhasilan penurunan AKI ini akan terus memacu dan memotivasi biu- ibu kader di 38 Kab/ Kota yang ada di Jatim. Sehingga kedepan Jawa Timur akan lebih baik dan sejahtera serta bertambah jaya.

Sementara itu, ditempat yang sama Dirjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI dr. Anung Sugiarto,MKes, mengatakan  kemenkes RI mengapresiasi inovasi upaya kesehatan yang telah dilakukan oleh ketua Tim Penggerak PKK Jatim serta oleh jajaran kesehatan di Jawa Timur. Seperti; forum penurunan kematian ibu dan bayi (PENAKIB), gerakan bersama amankan kehamilan (GEBRAK) dan pendampingan ibu hamil resiko tinggi.

Keterlibatan PKK atau kader masyarakat menjadi sangat penting dalam pendampingan dimana satu kader mendampingi satu ibu hamil resiko tinggi mulai dari hamil hingga 40 hari setelah melahirkan, ini adalah satu gebrakan yang luar biasa yang telah dilakukan di Jawa Timur.Dan kegiatan ini diintegrasikan dengan kegiatan yang ada di masyarakat yakni Posyandu, dan dasawisma. Selain itu, tambahnya, program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K), serta secara aktif memberikan informasi terhadap orang tua agar mencegah pernikahan dini di kalangan remaja juga telah dilakukan di provinsi ini.

Anung mengatakan, mengutip data hasil survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI di Indonesia masih tinggi, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dihitung berdasarkan angka tersebut, maka ada 16.155 orang ibu yang meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas pada tahun 2012.Jumlah tersebut setara dengan jumlah korban kecelakaan 40 pesawat boing 777 yang jatuh dan seluruh penumpangnya meninggal. Di samping  AKI, AKB juga masih tinggi di Indonesia. Pada tahun 2012, angkanya 32 per 1000 kelahiran hidup atau setara dengan 144.000 dan setara dengan penumpang 360 pesawat Boing 777.

Sebaga upaya agar penurunan AKI dan AKB di Indonesia bisa teratasi dengan baik maka pemerintah menghapus semua hambatan financial masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan melalui pelaksanaan system jaminan Kesehatan nasional (JKN) yang dijalankan oleh BPJS kesehatan yang berlaku sejak 1 Januari 2014 ini. (eri)