21/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Baktiono: Proyek Trem, Bikin Surabaya Makin Macet

Baktiono
Baktiono

Surabaya, KabarGress.Com – Proyek pembangunan trem di Kota Surabaya yang segera dibangun oleh PT KAI ternyata mendapat sorotan dari lembaga legislatif. Selain belum ada kesepakatan resmi atau Memory of Understanding (MoU), antara Pemkot dengan PT KAI, proyek yang direncanakan memakai badan jalan raya tersebut diprediksi tidak bisa menjadi solusi kemacetan.

Baktiono, Anggota DPRD Surabaya dari PDIP dengan tegas mengatakan proyek pembangunan trem di Surabaya belum tentu bisa mengurai kemacetan. Pasalnya, jika memang jalur trem menggunakan badan jalan yang sudah ada, tentunya akan menambah kemacetan.

“Mungkin bisa saja ada rekayasa arus lalu lintas, tapi kan bukan menjadi solusi. Coba bayangkan, kalau memakai badan jalan, kan makin macet,” kata Baktiono kepada wartawan, Kamis (18/9/2014).

Baktiono menjelaskan, saat ini pengendara angkutan massal pribadi seperi sepeda motor dan mobil yang paling sering dipakai oleh masyarakat. Untuk itu, solusi kemacetan bisa terlaksana apabila warga meninggalkan kendaraan bermotor.

“Apa benar bisa pengendara mau memarkir kendaraan di park and ride dan naik trem. Harus ada kajianya yang jelas, jangan hanya bangun dan tidak tepat sasaran seperti biasanya. Kecuali arifnya gratis,” kata Anggota Dewan yang sudah menjabat empat periode ini.

Terkait perjanjian antara Pemkot dan PT KAI, sampai saat ini pihaknya sebagai anggota dewan belum menerima laporan ada kerjasama resmi. Namun, dirinya sempat diundang dalam presentasi perencanaan saja.

“Waktu itu saya sempat menanyakan apakah bisa mengurai kemacetan, tidak ada yang bisa menjawab. Malah saya dengar biaya tarifnya sebesar Rp37 ribu, itu kan nanti malah semakin membuat rakyat Surabaya semakin tertekan dengan membayar tarif sebesar itu,” katanya.

Pembangunan proyek trem yang akan dikerjakan oleh PT KAI direncanakan mulai bulan depan. PT KAI menyanggupi pembiayaan sebesar Rp400 juta. Rencananya, pembangunan proyek yang mencakul trem dan monorel akan menggunakan sistem multiyears selama dua tahun yang diperkirakan menelan biaya Rp2,2 trilliun. (tur)