31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Tampil Trendi Saat Lebaran dengan Sepatu Modular

IMG_20160628_110701-800x600Surabaya, KabarGRESS.com – Tidak lengkap rasanya jika hanya wanita yang tampil trendi dan gaya di hari lebaran, untuk itu Galih Phuja Argian mahasiswa Jurusan Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Ubaya angkatan 2013 membuat prototype sepatu khusus pria. Sepatu ini menggunakan sistem modular merk Ostha, pada bagian tengah sepatu terdapat resleting yang dapat dibongkar pasang. Karya tersebut memang bertujuan untuk membuat sebuah karya yang berbeda dari biasanya sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Lifestyle Produk Desain Project 4. Produk ini dipublikasi di Samping Tata Usaha Fakultas Psikologi Kampus Tenggilis Universitas Surabaya, jln Raya Kalirungkut Surabaya, Selasa (28/6/2016).

“Ide ini terinspirasi dari kehidupan pribadi saya dan teman-teman. Kita sering membeli sepatu dengan jenis dan model yang sama karena cepat rusak. Jadi saya berpikir mengapa tidak membuat produk yang lebih efektif dan efisien, hingga akhirnya terpikirlah untuk membuat sepatu sistem modular ini,” ujar Galih kelahiran Surabaya.

Dengan menggunakan sistem modular, para pengguna sepatu ini diberi kemudahan untuk mengganti bagian sepatu yang rusak. Bila bagian atas atau bawahnya rusak, pengguna bisa mengganti salah satunya dengan yang baru tanpa harus membeli yang baru. Tidak hanya itu, pengguna sepatu ini juga bisa mengekspresikan style mereka. Dengan sistem bongkar pasang, pengguna sepatu ini dapat memadu padankan warna sepatu yang mereka inginkan sesuai selera.

Untuk bagian luar, sepatu modular ini menggunakan kulit sapi dan untuk bagian dalam menggunakan bahan kulit domba. Pemilihan warna yang natural, seperti cokelat membuat produk ini cocok digunakan untuk segala penampilan. Sepatu modular ini tidak hanya cocok untuk dipakai saat jalan-jalan, namun juga sangat pantas dipakai ke kantor. Pembuatan prototype ini menghabiskan biaya sebesar Rp1.500.000 untuk 2 pasang sepatu.

Dan bila dipasarkan, produk ini rencananya akan dipasarkan dengan harga sekitar Rp400.000 – Rp500.000 dengan menggunakan magnet sebagai pengganti resleting agar lebih mudah dalam penggunaannya. Proses pembuatan sepatu tersebut berlangsung kurang lebih 1 bulan dan Galih pun terlibat sepenuhnya dalam penggarapan desainnya.

“Sebagai dosen pembimbing saya sangat bangga dengan hasil karya dari mahasiswa saya ini karena idenya yang unik. Saya berharap kedepannya produk ini bisa dipasarkan dan masyarakat pun dapat menggunakannya untuk sehari-hari, tidak hanya untuk pria tetapi juga untuk wanita,” ujar Wyna Herdiana, S.T., M.Ds. (ro)