Rapor Akuntabilitas Kinerja Pemprov Jatim Memuaskan

Pakde Karwo foto bersama dengan Wakil Presiden RI dan para penerima penghargaan dengan kategori  memuaskan dari Kementerian, Lembaga dan Pemerintah ProvinsiJakarta, KabarGress.com – Pemerintah kembali menyerahkan laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja pemerintah terhadap kementrian/lembaga dan pemerintah provinsi seluruh Indonesia. Salah satu hasilnya, adalah diraihnya laporan akuntabilitas kinerja instansi Pemerintah Provinsi Jatim jadi yang terbaik dengan perolehan skor 80,04 atau berpredikat “A” yakni memuaskan. Hal tersebut terungkap pada saat Wakil Presiden Republik Indonesia H. M. Jusuf Kalla menyerahkan Piagam Penghargaan Laporan Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Kementrian/Lembaga dan Pemerintah Provinsi kepada Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (15/12).

Penilaian tersebut menunjukkan tingkat efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran dibandingkan dengan capaian kinerjanya, kualitas pembangunan budaya kinerja birokrasi dan penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi pada hasil di Pemprov Jatim. Evaluasi itu bertujuan untuk menilai tingkat akuntabilitas atas hasil (outcome) terhadap penggunaan anggaran dan kemajuan implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di instansi pemerintah.

Jatim di bawah kepemimpinan Gubernur Soekarwo dinilai sangat baik merumuskan dan menjabarkan berbagai indikator RPJMD ke dalam berbagai sasaran strategis. Tak hanya itu, Jatim juga dinilai telah mampu menjabarkan renstra SKPD bahkan hingga ke pejabat pelaksana di tingkat eselon III dan IV. Kondisi ini setidaknya telah mulai menumbuhkan budaya kinerja yang baik pada sebagian besar aparatur Pemprov Jatim.

Di temui seusai acara, Pakde Karwo menegaskan, bahwa apresiasi yang diberikan oleh pemerintah ini merupakan program yang sudah diatur dalam undang-undang terkait mengatur tata cara mengukur kinerja pemerintahan.

Menurutnya, pemerintah telah menetapkan standar akutansi pemerintahan. Pemerintah telah menyiapkan hal terpenting dalam pelaporan, pembukuan yang dikerjakan menjadi suatu kegiatan untuk diaplikasikan di lapangan apakah cocok atau tidak dengan yang akan dilaporkan.

Pada saat penyusunan program yang akan dilakukan oleh pemerintah tersebut, Pemprov Jatim selalu menggunakan cara demokrasi partisipatoris. Artinya, semua elemen dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan kebijakan.

Setelah dilakukan pengambilan keputusan langkah selanjutnya adalah dimonitor setiap tiga bulan sekali. “Jadi program yang berjalan akan dicek setiap tiga bulan sekali apakah ada kekurangan dan perlu dilakukan perbaikan atau tidak. Masyarakat, yang bersentuhan langsung dengan kegiatan tersebut diajak untuk merumuskan kebijakan,” ungkapnya.

Pakde Karwo mencontohkan, daerah yang akan dilakukan penggemukan sapi. Program yang dilaksanakan oleh daerah akan dimonitor dan dievaluasi selama 3 bulan. Pada program tersebut nantinya akan bisa dilihat apakah sapi tersebut bisa gemuk sesuai dengan perencanaan awal, mulai dari biaya makan sampai harga dagingnya sudah sesuai dengan yang direncankan.

Contoh lainnya, adalah berkurangnya lahan pertanian di Jatim sebanyak 1.080 ha/tahun. Tetapi meski lahan berkurang, produktifitas pertanian harus terus meningkat, paling tidak sekitar 11 hingga13 persen. Maka hasilnyapun bisa dilihat, meski lahan subur berkurang, tahun ini Jatim mengalami peningkatan produksi padi mencapai 5,2 persen.

Ke depan, Pemprov Jatim akan memfokuskan permasalahan pengangguran dari banyaknya kasus PHK perusahaan. Selain itu, meningkatknya kemiskinan yang stagnan pada Januari-April hingga 0,06 persen menjadi perhatian. Menurutnya, setelah dilakukan evaluasi menyeluruh, ternyata penyebab naiknya kemiskinan karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok sehingga indeks kemiskinan juga ikut naik.

“Ini yang harus segera kita lakukan, karena program Jatim 2016 adalah memaksimalkan industri primer. Industri primer yang dimaksud disini adalah hasil dari pasca panen, jangan langsung dijual. Akan tetapi, dihentikan dulu untuk kemudian diolah dan diproses. Jangan menjual pisang saja namun di proses menjadi keripik atau selai pisang,” terangnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla berpesan, agar seluruh instansi pemerintah membangun etos kerja sebagai budaya pemerintah yang mengutamakan hasil yang memberikan manfaat nyata baik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Seluruh anggaran yang dikelola harus sesuai dengan tugas dan fungsinya. Anggaran yang dikelola juga harus memberikan kepentingan dan kemanfaatan bagi publik serta berotientasi pada hasil. “Kinerja tidak hanya dilihat dari sisi penyerapan anggaran tetapi juga kesesuaian pada hasil yang diperoleh,” tegasnya.

Pada gilirannya, lanjut Wapres etos kerja akan menjadi budaya yang melekat di seluruh instansi pemerintah, pegawai akan berlomba-lomba, berkompetisi untuk menghasilkan kinerja yang terbaik bagi organisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI Prof. Yuddy Crisnandi mengungkapkan, tahun ini terdapat empat kementrian dan lembaga serta dua pemerintah provinsi yang memperoleh predikat memuaskan dengan nilai diatas 80.

Keempat lembaga kementrian tersebut antara lain, Kementrian Keuangan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kementrian Kelautan dan Perikanan, Badan Pemeriksa Keuangan. Sedangkan, untuk Pemerintah Provinsi diraih oleh Jatim dan DIY. (hery)

Leave a Reply


*