29/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Museum Hidup Polrestabes Surabaya Kembalikan Memora Hoofdbureau

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Yan Fitri menunjukkan koleksi Museum Hidup Polrestabes Surabaya Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Yan Fitri menunjukkan koleksi Museum Hidup Polrestabes Surabaya.
Surabaya, KabarGress.com – Mengumpulkan barang-barang atau benda bersejarah memang bukan perkara mudah, apalagi yang menyangkut sebuah institusi, seperti kepolisian. Namun tidak bagi jajaran di Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya yang pada, Sabtu (10/10/2015) malam melaunching secara resmi Biro Besar Polisi Surabaya atau dulu akrab disebut Hoofdbureau van Politie te Surabaia sebagai Museum Hidup Polrestabes Surabaya.“Butuh sekitar 4 bulan untuk kami jadikan Polrestabes Surabaya ini sebagai Museum Hidup. Silakan, siapa saja untuk datang berkunjung di museum ini. Karena dibuka untuk umum,” aku Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Yan Fitri Halimasyah disela persiapan peresmian Museum Hidup Polrestabes Surabaya.

Untuk menjadikan jati diri Hoofdbureau kembali seperti masanya dulu, Yan Fitri harus merenovasi gedung yang sudah banyak perubahan dari wajah aslinya itu. Ia mengaku, di bagian luar gedung, 90% kondisinya masih asli. “Kalau di dalamnya, sekitar 40 masih seperti dulu. Tapi, kalau keseluruhan kami kembalikan dalam bentuk aslinya, ruang kerja bisa tidak ada disini,” tuturnya.

Menurut kisah yang terabadikan, istilah Hoofdbureau dikenal secara umum tahun 1928. Gedung museum tersebut, adalah pertama dimiliki polisi Surabaya, yang sebelumnya selalu berpindah-pindah tempat. Pernah, polisi Surabaya numpang di gedung Residen, kemudian menempati gedung kantor Pos Kebunrojo. “Dulunya, kantor pos Kebonrojo bernama Hoogere Burger School di Regenstraat,” ungkap Yan.

Selanjutnya, pada masa penjajahan Jepang, gedung Hoofdbureau berhasil direbut Jepang. Namun, pasukan negeri matahari terbit itu tidak mengubah fungsi gedung dan masih digunakan sebagai markas kepolisian Surabaya. “Yang pasti, gedung ini menyimpan saksi sejarah besar kepolisian, khususnya polisi Surabaya,” cetunsya.

Museum ini, lanjut Yan Fitri, banyak mengoleksi benda-benda yang dulu digunakan polisi, mulai dari senjata, alat alat penyelidikan, identifikasi, hingga meja tugas polisi. Ada beberapa senjata koleksi buatan tahun 1895, berupa pistol jenis Lee Enfield buatan Inggris. Benda sejarah polisi lainnya adalah pistol Leger Parabellum buatan tahun 1898, Shotgun Colt Doble Hammer buatan Amerika Serikat pada 1875.

“Ada juga Pistol Cold Revolver 38 buatan 1945, SMR Bren MK III buatan Britania pada 1935, SKS/Coeng buatan Uni Soviet pada 1935 dan ada juga beberapa senjata lainnya yang kami koleksi di museum ini,” papar Yan.

Sebelumnya, Yan Fitri yang memandu langsung, menunjukkan barang-barang sejarah yang dimiliki polisi pada masa lalu. Di dalam lemari kuno di museum, ada kamera dengan beragam usia yang dulu kerap digunakan polisi dalam proses identifikasi.

“Ini (kamera, red), kami temukan di gudang Polrestabes. Malah ada yang ditemukan diatas atap gedung. Saya juga tidak tahu, kenapa ada disana,” katanya sambil terheran.

Jika menilik satu demi satu, ada beberapa peralatan polisi yang digunakan intel pada masa lalu. Sebut saja, alat penyadap dan alat perekam, termasuk alat mencetak foto para tersangka serta alat pengganda.

“Ada juga benda dari hibah, seperti seragam polisi istimewa zaman perjuangan. Baju seragam ini disumbangkan khusus dari keluarga salah satu anggota Polisi Istimewa. Ada juga seragam hibah dari Jenderal Sutarman dan Komjen Ito Sumardi,” ujar Yan.

Masih banyak lagi, koleksi yang dipajang di museum, seperti halnya seragam dari Jenderal Bimantoro yang pernah menjabat sebagai Kapolri ke 16 pada 2000 lalu yang sekaligus pernah menjabat Kapolwiltabes Surabaya di era 1993-1996. Museum Hdiup Polrestabes Surabaya ini juga dilengkapi dengan ruang kerja Muhammad Yasin. Di ruang Bapak Brimob Polri ini terdapat meja dan kursi kerja model kuno dari anyaman rotan.

“Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti yang meresmikan,” sambung Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, AKP Lily Djafar dalam pesan pendeknya. (ro)