23/11/2020

Jadikan yang Terdepan

“Di Balik Selembar Kain Batik Pamekasan”

Rupa Ragam Batik Pamekasan Kerjasama KIBAS, House of Sampoerna dan Pemkab Pamekasan

IMG_2291-640x427Surabaya, KabarGress.Com – Pamekasan adalah salah satu sentra batik terbesar di Jawa Timur. Hampir disetiap kecamatannya terdapat sentra perajin batik seperti misalnya di Candi Burung, Toket, Nong Tangis, Podhek, Klampar, Banyumas, Kowel, Bedung, Toroan, Parteker,  Pandemawu dan sebagainya. Masing masing daerah menghasilkan batik dengan karakter yang berebda-beda sesuai dengan geografi budayanya. Keunikan dan keragaman motif batik Pamekasan inilah yang dibawa Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya (KIBAS) dalam pameran yang bertajuk ” Dibalik Selembar Kain Batik Pamekasan” yang digelar mulai tanggal 16 – 29 Oktober 2015 di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS).

Batik Pamekasan saat ini dikenal sebagai batik yang memiliki warna-warna berani, keluar dari ’pakem’ seperti oranye, hijau menyala, ungu, kuning dan warna pop lainnya. Motifnya pun bebas, ekspresif dan tidak dibatasi oleh patokan yang mengikat sehingga batik Pamekasan berbeda dengan batik-batik pada umumnya. Namun apabila melihat batik pamekasan klasik, batik batik tersebut memiliki pewarnaan yang cenderung mengarah kepada soga, motif motif klasik tersebut  terlihat pada motif Per Keper (kupu kupu) dan Tong Centong (alat tempat mengambil nasi), Melate Seto’or (rangakain melate), Sabet Rantai,Kar Jagad, Ngai sungai . Mereka juga memiliki motif isen (motif isian pada batik) yang tidak dimiliki di tempat lain seperti Isen Mok Ramok (akar) dan Bek Tebek (berudu). Secara istilah atau kosa kata khas, mereka pun memiliki istilah khusus seperti gurik, yaitu teknik membatik lebih dari satu kali lorod (…..)

Seiring dengan perkembangan industri batik seperti hadirnya industri batik besar memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan batik di Pamekasan baik dalam hal pewarnaan dan motif. Seperti beberapa tahun terakhir, terdapat sekelompok masyarakat yang mengadopsi teknik dan pola Hokokai, yaitu teknik pengerjaan yang sangat halus serta pewarnaan yang bervariasi dan munculah istilah HOKOSAN (hokokai Pamekasan). Hokosan saat ini menjadi Ikon baru diperbatikan nasional, khususnya dikalangan para kolektor dan pecinta batik.  Teknik halusan yang sudah jarang diikuti banyak orang saat ini justru berkembang di Pamekasan hingga saat ini.

Batik Pamekasan merupakan salah satu potensi perbatikan di Indonesia yang dapat dikembangkan lebih baik. SDM yang handal dan kreatif menjadikan perajin batik Pamekasan mudah untuk dikembangkan, selain itu peran pemerintah, stake holder sangatlah diperlukan agar tujuan menjadikan Pamekasan sebagai sentra batik terbesar dalam segi kualitas, produski dan desain batik di Jawa Timur dapat dicapai. Pameran kali ini tidak hanya menghadirkan lembaran batik, tetapi juga menghadirkan kehidupan sehari hari pembatiknya dari segi sosial, ekonomi, dan budaya.

Kekayaan motif dan teknik pada batik Jawa Timur mendorong KIBAS terus aktif melakukan berbagai kegiatan untuk melestarikan budaya batik Jawa Timur. Dengan visi ”Peduli batik dan melalui batik membantu masyarakat  berapresiasi  untuk mencapai kesejahteraan”, KIBAS terus berkomitmen mengapresiasi dan mengembangkan batik sebagai kekayaan budaya bangsa melalui pendidikan, penelitian, pelatihan dan manajemen tentang pengetahuan batik berdasarkan keunggulan dan keunikan yang didukung oleh tenaga profesional sesuai dengan perkembangan teknologi.

Khusus tahun ini akan dihadirkan beberapa hal yang dangat menarik pada saat pembukaan yang akan berlangsung pada tanggal 15 Oktober 2015, dengan tema ‘ PAMEKASAN NIGHT’ selain batik juga budaya  masyarakat pemekasan akan dihadirkan seperti:

‘Son son’ adalah satu metoda merawat kain panjang atau dalam bahasa umunya spa batik.  Dalam bahasa jawa dikenal dengan nama ratus. Pada prinsipnya ‘son son’ ini adalah selain mengasapi supaya kain awet, juga bertujuan agar kain menjadi harum. Son son khususnya dipakai pada waktu ritual mantenan. Istilah lain dari ‘son son’ adalah Okop, dalam budaya mantenan madura memiliki maksud dan tujuan yaitu :

Suasana d arena manten beraroma harum supaya perjalanan hidup mempelai juga harum.

Kain yang di asap memiliki kekuatan gaib untuk menangkal hal-hal yang negatif dari alam, manusia dan mahluk-mahluk halus sehingga mempelai berhasil dengan selamat mencapai tujuan (jika dbacakan mantra).

Kain panjang yg dipake mempelai sebagai pusaka turun temurun selama kain tersebut masih ada, agar karakter orang tua yang baik akan menurun juga kepada turunannya (anak cucu).

Adapun macam macam Okop adalah:

Bangsawan : Kain panjang dselimutkan kepada mempelai Wanita dan di dudukkan di Kursi yang berlobang yang di bawahnya di okop/di asap dengan dupa. Dimana dupa tersebut dberi irisan tipis buah nanas yang tua/masak dengan maksud agar harum buah nanas berbaur dengan bau dupa.

Rakyat : yang di okop /di asap hanya kain panjang yang akan di kenakan mempelai saja.

Sedangkan bahan bahan dan peralatan yang digunakan adalah  :

Dhemar Kambeng  : Piring kecil/leper , minyak kelapa, pelepah pisang lobangi n masukkan sumbu yang dari bahan kapas agar api menyala awet, syarat api tidak boleh mati hingga prosesi pernikahan selesai, dengan maksud karena sebenarnya manusia tdk mau mati dan kehidupannya terang benderang.

Bunga 7 rupa  dan bedak kembeng : harum bunga/bedak agar kehidupan mempelai jg harum.

Nasi tumpeng  : rokat kain panjang dengan maksud agar rejeki mempelai sebesar gunung (berlimpah).

Buah-buahan  : dengan maksud setiap orang berharap/bercita-cita menghasilkan buah, misal keturunan yang baik, amal perbuatan yg baik

Gula aren/gula cobbu’  : mempelai di jalan hidupnya memiliki karakter dan perbuatan yang manis dan enak baik bagi dirinya sendiri, keluarga dan orang lain.

Pisang 1 sisir : mempelai seiring sejalan dan seperjuangan dalam mengarungi hidupnya.

Kapur dan sirih : agar mempelai selalu berucap dan bersikap akan terdengar harum.

Jejen pasar  : sesaji bagi mahluk-mahluk gaib agar tidak menganggu kehidupan mempelai

Peralatan kecantikan  : bedak, kaca, parfum dsb.

Tempat dupa yang terbuat dari tanah liat dan arang.

Langkah-langkah  melakukan pengasapan mengikuti urutan sebagai berikut:

Kain yang akan di okp di lipat menjadi 3bagian, di angin-anginkan di atas bara dupanya sambil kain tersebut di bolak balik sesuai lipatannya.

Di bacakan mantra-mantra

Durasi okop selama 2-3 menit, setelah itu kain panjang di buka lebar dan langsung dkenakan pada mempelai.

 

 

Batik Halusan, pamekasan akhir akhir ini memang dikenal dengan kualitas batikan yang sangat halus, bahkan di jawa timur, kualitas batik ini hanya ada di pamekasan. Perkembangan ini sangat significant dengan hadirnya anak anak muda yang memiliki dedikasi tinggi pada batik dan Peran Pemerintah Kabupaten Pamekasan sebagai fasilitataor. Terbentuknya Komunitas Desainer Batik Pamekasan sangat memberikan kontribusi besar terhadap perkambangan batik Pamekasan. Teknik Batik Halusan ini dikalangan para kolektor saat ini telah menjadi trend baru. Sehingga harga yang dicapaipun sangat fantastis dan telah mencapai 20 kali lipat. Orang yang sangat berjasa pada perkembangan batik ini adalah Rusdy pemilik galeri ‘Nargis Batik Podhek’.

 

 

mengkuwuk, adalah metode yang sudah lama ditunggalkan, tujuannya adalah untuk menggilapkan batik.  Proses ini dilakukan dengan metode yang sangat sederhana tetapi memberikan hasil yang luar biasa. Proses mengkuwuk ini dilakukan secara manual dengan perlengkapan kayu dan kuwuk (kerang besar). Hasil akhir dari kain yang dikuwuk adalah kain menjadi gilap, tetapi gilap ini tidak terjadi untuk selamanya, tetapi hanya bisa berlangsung hingga 8 kali pencucian, sesudah itu akan cenderung kembali normal lagi. Di tempat lain seperti di Sidoarjo jaman dulu, proses menggilapkan kain ini dilakukan dengan cara mekanik yaitu mengepres kain dengan menggunakan giliingan besi.. dampak dari proses ini juga kain terlipat maka kain cenderung akan rusak.  Setelah melalui reseach,  maka salah satu proses untuk menggilapkan kain berhasil diperagakan pada acara hari ini.

 

Jebluk, adalah musik tradisional pamekasan yang sudah jarang dikenal oleh kalangan umum (anak muda), alat yang digunakan sangat sederhana berupa bejana bejana tanah liat (klenting bahasa jawa) yang diberi peniup dan kemudian menimbulkan bunyi bunyian yang menarik. Kelompok ini juga dilengkapii dengan terompet dan juga vokal. Komposisi ini banyak dilakukan oleh para pria.

 

Topeng  Getta’ , adalah tarian yang semua pemainnya adalah laki laki. Tarian ini menggunakan topeng sebagai cirinya, dan juga merupakan tarian selamat datang. Masyarakat madura memiliki seni topeng yang masih hidup hingga saat ini. Tari Topeng Getta’ merupakan penggambaran dari Raja Madura yaitu Prabu Baladewa. Tari Topeng Getta’ mempunyai gerakan yang dinamis dan patah-patah sesuai karakter Prabu Baladewa. Awalnya tari Topeng Getta’ ini bernama tari Klonoan yang mempunyai arti berkelana, disebut tari Topeng Getta’ karena disetiap gerakan tari Topeng Getta’ selalu diiringi music kendang yang berbunyi Ghe dan Tak. Sehingga tari Klonoan berubah nama menjadi tari Topeng Getta’.

 

Fashion show karya Emran, batik yang diangakat adalah pamekasan dengan model kacong dan cebing pamekasan. Batik pamekasan yang baru dan di sajikan untuk anak anak muda.

 

Beberan, adalah metoda edukasi KIBAS tentang batik batik lawasan pamekasan yang memiliki nama dan filosofi serta kegunaan dalam kehidupan sehari hari.

 

Kuliner Madura:  Wedang Pokak, bubur Madura dan  jajan pasar. (ro)