20/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Awey: Saya Hanya Menjalankan Fungsi Kontrol

Surabaya, KabarGress.Com – Politisi Partai Nasdem Vinsensius memilih bersikap dingin pasca dituding melakukan kampanye hitam (terhadap pasangan calon Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana. Anggota Komisi C DPRD Surabaya ini berdalih hanya melakukan fungsi kontrol terhadap kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Diketahui, pernyataan Vinsensius yang kecewa dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini lantaran Pemkot Surabaya menduduki peringkat tertatas penimbun APBD menuai reaksi keras. Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya ramai-ramai menghujat politisi Partai Nasdem tersebut.

Awey, sapaannya, menegaskan, kekecewaannya terhadap Pemkot Surabaya bukan berarti melemahkan posisi Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana yang maju lagi sebagai calon walikota dan wakil walikota Surabaya pada Pilwali 2015.

“Saya tidak sedang melakukan black campain, ini hanya bentuk perhatian agar kinerja Pemkot ditingkatkan, terutama terkait dengan belanja APBD, apalagi yang bilang Surabaya penimbun APBD menteri keuangan, bukan saya,” ungkapnya, Selasa (25/8/2015).

Sektretaris DPD Nasdem Surabaya ini menerangkan, sebagai anggota dewan memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) mengontrol pemerintah. Ketika Pemkot gagal memaksimalkan penyerapan APBD, maka yang gagal bukan hanya eksekutif, legislatif juga ikut gagal mengawal APBD Surabaya.

“Jadi sangat disayangkan dana mengangur seperti ini kalau tidak dibelanjakan untuk kepentingan Surabaya,” terangnya.

Dia menyayangkan sikap Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya yang terlalu reaktif menyikapi komentar penimbunan APBD Surabaya.  Bisa jadi, sikap tersebut bentuk dari kesalah pahaman memahami akar persoalan. Pasalnya, sebelum-sebelumnya para anggota dewan juga sering menyoroti penyerapan APBD Surabaya.

“Kami hanya mengingatkan, jangan terlalu reaktif. Ini mengingatkan, mumpung masih Agustus. Kok malah direspon sebagai kampanye hitam, ada apa sebenarnya, karena sebelumnya dewan paling sering menyoroti serapan APBD,” katanya.

Awey meminta kepada Pemkot dan DPRD Surabaya agar terus melakukan pertemuan rutin untuk membahas pembangunan Surabaya ke depan. Memang selama ini sudah dilakukan, namun pertemuan itu perlu diintensifkan lagi.

Sebelumnya, Anggota Komisi C DPRD Surabaya Sukadar, menilai, pernyataan Awey sebagai kampanye negatif yang bertendensi menyerang pasangan calon walikota dan wakil walikota Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana. Pasalnya, mereka adalah pasangan petahana. Pasalnya, penyerapan anggaran bisa dilihat pada akhir tahun. Seperti pengalaman tahun–tahun sebelumnya, serapan anggran banyak terjadi pada bulan September, Oktober dan Nopember hingga Desember.

“Itu teknis dan bukan domain kita (DPRD). Seluruhnya kewenangan eksekutif,” terangnya.

Bahkan Sukadar mengungkit kembali usulan tentang kocok ulang kelengkapan dewan khususnya di komisi dan fraksi. Ide tersebut karena sulitnya partai-partai melakukan komunikasi politik yang baik untuk mensukseskan Pilwali Surabaya. Terutama sikap Partai Nasdem yang merupakan bagian dari Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang dinilai sulit diajak kerja sama politik.

“Saya yakin kocok ulang akan terjadi, kalau Nasdem dikeluarkan dari Fraksi Handap, maka tidak akan memiliki fraksi kecuali diterima fraksi lainnya, karena syarat mendirikan fraksi minimal 4 orang, sementara Nasdem hanya dua orang,” ucapnya.

Terkait isu itu, Awey menegaskan tidak ambil pusing. Bahkan dirinya akan terus bersikap kritis terhadap kebijakan Pemkot Surabaya. “Reposisi sudah disampaikan, sikap saya tetap, kalau ada yang ngak beres tetap saya suarakan lantang, jadi saya tidak takut itu terjadi,” tandas Awey. (tur)