30/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Gus Ipul Ajak Petani Tingkatkan Produksi Pertanian dengan Teknologi

Gus Ipul Ajak Petani Tingkatkan Produksi Pertanian dengan TeknologiMojokerto, KabarGress.Com – Wakil Gubernur Jatim, Drs. H. Saifullah Yusuf mengajak petani untuk menggunakan teknologi dalam meningkatkan produksi pertanian. Dampaknya efisiensi dan tingkat produktifitas para petani akan meningkat. Ajakan tersebut disampaikan Gus Ipul sapaan akrabnya saat Grand Launching Fasilitas Pengolahan Gabah dan Beras Modern Terpadu PT. Lumbung Padi Terpadu di Jl. Raya Mojosari – Japanan Km. 7 Desa Jasem, Kec. Ngoro, Kab. Mojokerto, Minggu (7/9).

Menurutnya, para petani harus merubah paradigm caraberfikir. Petani harus berfikir jauh kedepan dengan menggunakan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi dan kesejahteraan hidup. “Dengan menggunakan teknologi, tidak akan gabah yang terbuang.Apabila menggunakan cara manual tingkat terbuangnya gabah sekitar 11 persen dari produksi, akan tetapi dengan menggunakan teknologi modern akan tercipta zero wasteproduksi. Dengan demikian semakin menambah pendapatan yang diterima petani,” ujarnya.

Saat ini, Jatim menjadi lumbung padi nusantara. Pada tahun 2013, produksi gabah kering giling mencapai 12 juta ton, dan menghasilkan sekitar 8 juta ton. Jatim berkontribusi 17 persen terhadap kebutuhan nasional, dengan rata-rata konsumsi  91,26 persen/kapita persen. Secara keseluruhan, beras di Jatim surplus 4 juta ton per tahun.

Adanya teknologi fasilitas pengolahan gabah dan beras modern terpadu dari  PT. Lumbung Padi Indonesia, tingkat produktifitas pertanian di Mojokerto dan Jatim akan meningkat. Didukung dengan heler (mesin penggiling) padi raksasa, jumlah, tingkat produktifitas dan kuantitas produksi beras Jatimakan meningkat. “Teknologi PT. Lumbung Padi Indonesia, dengan heler padi raksasanya menjadi solusi di bidang pertanian, dan pastinya akan mendapatkan respon positif dari masyarakat dan Pemprov Jatim, “ucapnya.

Dengan adanya heler raksasa, apabila bekerja sesuai dengan harapan,akan mengatasi persoalan di tengah dunia pertanian seperti jumlah penduduk yang banyak, lahanpertanian yang semakin berkurang, dan Sumber Daya Manusia (SDM) dikalangan pertanian berkurang. “Selain pentingnya tersedianya bibit, pupuk, dan saluran irigasi, hadirnya teknologi yang efisien dan meningkatkan prooduktifitas seperti yang ditawarkan PT. Lumbung Padi Terpadu sangat dibutuhkan, “ jelasnya.

Selanjutnya, menurut Gus Ipul, yang menjadi pokok permasalah lainnya adalah cara menjalin kemitraan dengan petani dan heler yang telah ada. Di Jatim, ada sekitar 27 ribuheler dimana komposisinya satu persen adalah heler skala besar, 40 persen heler skala sedang, dan sisanya adalah helerskala kecil. “ Keberadaan heler yang telah ada harus diperhatikan dan dibantu untuk bekerjasama serta bermitra dengan PT. Lumbung Padi Indonesia agar tingkat produksinya meningkat. Kedua belah pihak harus saling supply. Misalnya, saat musim kemarau dan hujan pendapatan yang diterima berbeda bagi petani. Saat musim hujan,  harga gabah turun karena petani tidak bisa menjemur langsung. Akan tetapi dengan adanya PT. Lumbung Padi Indonesia bisa langsung dikeringkan disini” tegasnya.

Ia menambahkan, kedepannya, selain bekerjasama dengan PT. Lumbung Padi Indonesia, Pemprov Jatim akan memberikan bantuan kepada petani, agar nilai tukar petani (NTP) meningkat yakni dengan cara tidak menjual gabah kering panen tapi gabah kering giling. NTP-nya akan lebih mahal, yaitu selisih Rp. 1.000,-/kg. “Petani itu prinsipnya sederhana, apabila diberikan harga bagus dan berkelanjutan maka akan setuju, akan tetapi apabila Cuma dilakukan sekali dengan harga bagus pasti tidak mau. Intinya petani ingin kepastian dari perusahaan dalam hal harga, “ tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama PT. Lumbung Padi Indonesia, Rachmat Gobel mengatakan,  dibangunnya fasilitas ini bertujuan membantu pemerintah dalam menciptakan swasembada dan ketahanan pangan.Keberadaan PT. Lumbung Padi Indonesia diharapkannya mampu meningkatkan industri pertanian di Indonesia secara menyeluruh.

Ia menuturkan , pembangunan pertanian bukan tugas pemerintah semata, akan tetapi juga pihak swasta agar pertanian bisa lebih baik dan cerah. Dengan begitu, tujuan Indonesia untuk bisa berdaulat pangan akan mudah terwujud. Didukung dengan tanah yang luas dan subur, Indonesia seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil produksi dan tidak tergantung produk impor. “Oleh sebab itu, demi tercapainya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian pengelolaan lahan secara tradisional harus dikembangkan dengan mengadopsi system pertanian modern,” ujarnya

Rachmad Gobel menjelaskan PT. Lumbung Padi Indonesia berambisi menghasilkan produk bermutu,bernilai tambah dan berdaya saing tinggi dengan menggunakan inovasi di bidang teknologi. Selain itu, juga  mengedepankan keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan melalui memberdayakan petani beserta lingkungan. PT. Lumbung Padi Indonesia berinvoasi untuk mengolah gabah ahsil panen petani di wilayah Mojokerto dan Jatim menjadi beras berkualitas premium yang bersih alami tanpa penggunaan zat tambahan dengan menggunakan teknologi mesin pertanian modern dari Satake Jepang.

Sementara itu, Menteri Pertanian RI, Ir. H. Suswono, MMA mengatakan, Kementrian Pertanian menyambut baik upaya mulia PT. Lumbung Padi Indonesia dalam rangka peningkatan produktivitas pertanian di Jatim. “Efek positifnya bukan hanya di Jatim, akan tetapi juga Indonesia sehingga  swasembada dan ketahanan pangan bisa tercipta,” jelasnya.

Ia mengaku kagum dengan PT. Lumbung Padi Indonesia, dengan kapasitas pengolahan sebesar 150 ribu metric ton /tahun tentunya produksi beras akan naik signifikan. Dengan semakin menyempitnya lahan pertania bukan tidak mungkin produktifitas semakin menurun yakni dengan menggunakan teknologi sebagai invoasinya.

Ia membandingkan, kondisi pertanian di Indonesia dan Thailand dimana memiliki kondisi iklim yang sama. Rata-rata petani di Jatim memiliki 0,3 ha lahan pertanian, sedangkan di Thailand tiga ha/ keluarga. Akan tetapi , tidak mengurangi tingkat produksinya, di Thailan lahan panen  sebanyak 9juta ha dengan produktifitas20-22 juta ton, sedangkan di Indonesia sebesar 13-14 juta ha dengan produktifitas 40 juta ton .”Hal itu menandakan, luas sebuah wilayah tidak bisa dijadikan acuan tingkat produksi besar, akan tetapi penerapan teknologi pertanian yang tepat menjadi indicator utama pada saat ini,“ ucapnya. (Eri)