31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

GEBER Ungkap Petani Jual Tebu ke PG Swasta Lebih Menguntungkan

IMG-20160816-WA0009Surabaya, KabarGRESS.com – Keberadaan pabrik gula milik swasta dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani tebu. Hal ini disampaikan Koordinator Gerakan Bersama Rakyat Jawa Timur (GEBER), H Amak Junaedi kepada media di Surabaya, Selasa (16/8/2016).

“Kebijakan pemerintah untuk membangun pabrik gula dengan melibatkan swasta sangat tepat dalam upaya mewujudkan swasembada gula nasional. Akan tetapi kehadiran pabrik gula milik swasta tersebut tidak disambut positif oleh produsen yang lama berada di bawah BUMN,” kata Junaedi.

Dia melanjutkan, sebagai bukti di lapangan, perusahaan-perusahaan gula swasta lebih bisa bertahan dan berjaya dibandingkan dengan perusahaan negara. Katanya, ini harus disadari dan diakui, jika selama ini pabrik gula swasta dinilai membuat harga gula di pasaran naik. “Kini saatnya paradigma tersebut harus dihilangkan,” lanjutnya.

Peran PG swasta dalam penyediaan stok gula tidak boleh dipandang sebelah mata. Kedudukan pabrik gula swasta seharusnya sebagai motivator sekaligus sebagai mitra. Diapun menilai, manajemen dan keuletan perusahaan-perusahaan swasta layaknya diacungi jempol.

“Komitmen tinggi mulai tingkat pimpinan hingga karyawan pantas dicontoh. Jika tidak demikian maka nasib perusahaan swasta menjadi jaminannya,” terangnya.

Sejauh yang dialami, dia mengatakan PG swasta adalah pabrik gula berkonsep moderen yang ramah lingkungan yang didesain untuk bisa menghasilkan produk derivate melalui industri hilir, seperti listrik dari ampas, bio-ethanol dari tetes tebu dan bio-fertilizer dari limbah padat blotong.

“Sehingga keberadaan PG swasta menjadi angin segar bagi para petani dan menjadi alternatif pilihan yang tepat bagi para petani untuk menjual tebu. Pabrik gula yang tidak efisien akan ditinggalkan petani sehingga praktis kekurangan tebu,” ujarnya.

Kehadiran PG swasta didedikasikan untuk peningkatan produksi gula nasional dalam membantu terwujudnya percepatan swasembada gula nasional dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Ratusan bahkan ribuan tenaga kerja lokal yang bekerja secara langsung di pabrik, belum termasuk tenaga kerja kebun dan tenaga tebang angkut yang jumlahnya lebih banyak lagi, sehingga turut membantu percepatan pertumbuhan ekonomi regional.

Pihaknya mengajak, agar pabrik gula nasional, baik BUMN dan swasta harus bersinergi dalam upaya memperkuat dan meningkatkan produksi gula nasional. Sehingga tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. Malah lambat laun Indonesia akan dapat memenuhi kebutuhan gulanya sendiri, dan secara otomatis akan mengurangi impor raw sugar yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, pada akhinya dapat menutup pintu kran impor.

Di samping itu, pihaknya juga meminta agar pabrik gula milik BUMN tidak hanya sekedar dirancang langkah-langkah meningkatkan produksi gula, akan tetapi perbaikan internal perusahaan perlu dilakukan, baik restrukturisasi kepemimpinan maupun peninjauan kelayakan alat-alat atau mesin yang rendah.

“Petani juga harus dirangkul agar tidak meninggalkan atau pindah ke profesi lain yang lebih menjanjikan,” lanjutnya.

Selama ini, petani menilai menjual tebu ke pabrik swasta lebih menjanjikan daripada pabrik gula BUMN. Pembelian tebu oleh swasta dilakukan dengan sistem pembelian secara terputus, dimana tebu petani langsung dibeli oleh pabrik disesuaikan dengan tingkat rendemen tebu yang bisa diketahui dari alat core sampling di pintu masuk PG.

“Ini sangat menguntungkan bagi petani karena tebu dibeli di muka, sehingga jika pabrik mengalami kerusakan petani tidak rugi. Dan sistem pembayaran sangat mudah dan cepat. Petani bisa mendapatkan uang dari penjualannya setiap 3 hari sekali, tanpa menunggu proses giling selesai dan dapat diinvestasikan ke kebun tanpa harus menunggu penjualan gula dan terhindar dari dampak fluktuasi harga yang seringkali kurang menguntungkan system share,” terangnya.

Menanggapi demonstrasi yang dilakukan APTRI pada Senin, 16 Agustus 2016 kemarin, GERAM menyarankan agar APTRI memperjuangkan dengan gigih kepada pemerintah untuk membangun pabrik gula baru dan memodernisasi pabrik gula yang sudah tua.

“Kemudian tebu selama HPP tebu tidak ditetapkan oleh pemerintah, maka ada peluang mempermainkan harga tebu, yang membawa dampak petani tebu tidak lagi bergairah menanam tebu. Ini akan mengakibatkan bahan baku tebu tidak mencukupi untuk kebutuhan nasional,” ungkapnya.

Untuk diketahui, GEBER merupakan organisasi yang didukung beberapa lembaga, seperti Fakas, Satu Darah, Merah Putih, Fokus Maker, Pemuda Sakerah, Wira Delta, Marhaens, Fordimas, Amanah, Pemuda Islam, Masyarakat Madani, Lentera, Persatuan Seniman dan Budayawan, Format, Banteng Ketaton, Suara Masyarakat Sidoarjo, Kompas, Forwad, Putra Delta, dan beberapa lembaga lainnya. (ro)