31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Mahasiswa UTM Belajar Pemberdayaan Masyarakat pada PHE WMO

Mahasiswa UTM Belajar Pemberdayaan Masyarakat pada PHE WMOSurabaya, KabarGRESS.com – Taman Pendidikan Mangrove di Desa Labuhan Bangkalan yang digagas PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) dan SKK Migas sejak 2013 kini bukan hanya menjadi tempat belajar konservasi lingkungan hidup, tetapi juga menjadi wahana belajar pemberdayaan masyarakat.

Adalah Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang menjadikan Taman Pendidikan Mangrove sebagai tempat memperdalam mata kuliah Perberdayaan Masyarakat bagi mahasiswanya.

“Yang ikut sekitar 30 mahasiswa dari UTM. Mereka ingin mengetahui bagaimana komitmen dan sinergi antara PHE WMO, masyarakat Desa Labuhan dan Yayasan Mangrove Centre Tuban dalam pemberdayaan masyarakat lewat pengembangan Taman Pendidikan Mangrove,” kata Head of HR Ops & Comdev East Java PHE WMO, Ulika Trijoga, saat ditemui wartawan di Surabaya, Senin (13/6/2016).

Ulika memaparkan, konsep pengembangan Taman Pendidikan Mangrove menitikberatkan pada konservasi mangrove dan perlindungan wilayah pesisir, menangkap peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, perlindungan sumber daya alam dan nilai budaya, serta peningkatan kualitas hidup dari kegiatan konservasi mangrove ini.

Mahasiswa UTM Belajar Pemberdayaan Masyarakat pada PHE WMO aProgram pengembangan Taman Pendidikan Mangrove, lanjut Ulika, telah dimulai tahun 2013 dan ditargetkan pada tahun 2018 sudah bisa membangun kemandirian masyarakat. Program yang diawali dengan penanaman 10.000 mangrove  itu kini sudah dipadukan dengan penanaman dan pembibitan pohon Cemara Laut serta Pepaya California.

“Jadi masyarakat diharapkan bukan hanya bisa mendapat tambahan penghasilan dari wisatawan yang datang menikmati mangrove dan keindahan laut serta burung migran, tetapi juga memperoleh pendapatan dari kegiatan pembibitan mangrove serta Cemara Laut. Selain itu juga punya pendapatan dari budidaya Pepaya California,” jelasnya.

Dikatakan, lokasi Taman Pendidikan Mangrove telah dilengkapi dengan saung, jalur khusus untuk masuk ke hutan mangrove, dan gardu pandang untuk melihat burung migrant. Ada juga lokasi berperahu untuk menikmati keindahan pohon Sommeratia Alba yang terendam air seperti di Nusa Lembongan, Bali.

“Yang menggembirakan, kini masyarakat dengan kekuatan swadaya telah menyulap kandang ayam yang terbengkalai menjadi semacam kantin yang bersih. Jadi pengunjung, baik yang berwisata, berkemah atau bahkan sedang mempelajari konservasi lingkungan serta pengetahuan pemberdayaan masyarakat bisa memesan makan dari warga,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Partisipasi warga ini, lanjut Ulika, dimungkinkan karena sudah terbentuk Kelompok Tani Cemara Sejahtera.  Kelompok tani yang beranggota 25 orang itu kini dibantu PHE WMO berjejaring berbagai kelompok pencinta lingkungan, termasuk Yayasan Mangrove Centre Tuban dan komunitas PECUK ITS.

“Berkat arahan dan dukungan SKK Migas, PHE WMO bisa memfasilitasi transfer pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan Yayasan Mangrove Centre Tuban dan komunitas PECUK ITS pada masyarakat, khususnya pada Kelompok Tani Cemara Sejahtera,” katanya.

Transfer pengetahuan dan keterampilan ini telah memberikan hasil berupa pengakuan buat Kelompok Tani Cemara Sejahtera menjadi penangkar pembibitan cemara laut pertama dan satu-satunya di Pulau Madura.

“Pengakuan ini diberikan oleh Yayasan Mangrove Center Tuban (MCT) selaku Bank Bibit dan Benih resmi yang ditunjuk resmi oleh Pemprop Jawa Timur, dengan SK. No: 02/MCT/VI/2015. Hasil lainnya, berkat bimbingan PECUK ITS kini masyarakat paham burung migran. Mereka siap menjadi guide yang komplit,” pungkas Ulika.

Dihubungi terpisah, dosen pembimbing dari Fakultas Pertanian Universitas Trunujoyo Madura, Ihsannudin, mengatakan kuliah on the spot di Taman Pendidikan Mangrove memiliki dua tujuan. Pertama, belajar dari PHE WMO, Kelompok Tani Cemara Sejahtera dan Yayasan Tuban Mangrove Centre tentang sinergi pemberdayaan masyarakat.

Kedua, melalui kegiatan ini, Jurusan Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Trunojoyo berharap bisa memberikan dukungan atas program PHE WMO dan SKK Migas menjadikan Labuhan sebagai Taman Pendidikan Mangrove.

“Kami berharap Madura punya destinasi wisata yang bisa diandalkan. Keberadaan pulau ajaib di Labuhan bisa dijadikan trigger untuk memberikan publikasi yang lebih luas, tentu tetap menjaga ruh kawasan ini sebagai kawasan konservasi dan edukasi,” kata Iksan. (ro)