31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Jatim Jadi Sentra Sapi Perah Nasional

Gubernur Prov Jatim Memberikan Sambutan dan Isi Materi Hangat Tentang Produk Sapi Perah Kepada Teman-1024x683Malang, KabarGress.com – Jawa Timur saat ini sudah menjadi sentra sapi perah nasional. Jumlah populasi sapi perah di Jatim yang mencapai 256.178 ekor atau hampir 50% dari total populasi sapi perah nasional menjadi pertanda hal tersebut. Populasi sapi perah sebanyak itu memberi kontribusi produksi susu segar sebanyak 1.300 ton/hari atau 55% dari total produksi susu segar nasional. Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo saat Puncak Peringatan Hari Susu Nusantara Tahun ke-8 Tahun 2016 di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya Malang, Kamis (2/6/2016).

Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo mengatakan, populasi sapi perah tersebar di berbagai kabupaten/kota di seluruh Jatim. Diantaranya, Kab. Pasuruan (80.518 ekor), Kab. Malang (75.683 ekor), Kab. Tulungagung (23.663 ekor), Kab. Blitar (14.102 ekor), Kota Batu (11.060 ekor), Kab. Kediri (9.029 ekor), dan Kab. Probolinggo (6.172 ekor).

Tak hanya itu, kualitas susu segar yang dihasilkan oleh para peternak di Jatim merupakan yang terbaik secara nasional, dimana sebanyak 95% dari susu segar yang dihasilkan kualitasnya telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga mempunyai harga jual yang tertinggi.

Karena itu, Jatim merupakan lokasi yang tepat untuk menjadi sentra sapi nasional, meningkatkan produksi susu segar dalam negeri, dan memenuhi kebutuhan konsumsi susu masyarakat Indonesia. Pasalnya, meski kontribusi produksi susu segar Jatim telah mencapai 1.300 ton/hari, atau 55% dari total produksi nasional, namun 95% dari hasil produksi tersebut dipergunakan untuk kebutuhan masyarakat Jatim saja, belum memenuhi kebutuhan nasional.

“Saat ini secara nasional, kita hanya bisa mencukupi kurang dari 25% kebutuhan susu dalam negeri. Jatim sendiri kebutuhan susu segarnya mencapai 2.000 ton/hari, dengan produksi sebanyak 1.300 ton/hari, berarti masih kurang 700 ton/hari atau setara dengan 35.000 ekor penambahan indukan sapi perah. Ini tantangan sekaligus peluang bagi investor,” katanya.

Masih menurut Pakde Karwo, Pemprov Jatim telah melakukan berbagai upaya guna meningkatkan produksi susu lokal. Diantaranya penguatan kelompok peternak sapi perah, yakni dengan pemberian paket bantuan ternak sapi perah lokal, alsin, pakan, kandang, obat-vaksin, dan lainnya.

Kemudian, menambah populasi sapi perah melalui impor indukan sapi perah, dimana sejak 2012 telah didatangkan sebanyak 1.416 ekor indukan sapi perah, lalu bantuan 460 unit minifeedmill untuk menekan biaya pakan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular pada sapi perah, mengajak masyarakat minum susu melalui Gerakan Minum Susu, dan fasilitasi pembiayaan agar peternak sapi perah mendapatkan skim kredit bunga murah.

Senada dengan Pakde Karwo, Dirjend Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA mengatakan, Indonesia perlu meningkatkan produksi susu, dimana Jatim merupakan tempat yang ideal untuk menjadi sentra sapi perah nasional, pasalnya, Jatim telah terbukti berhasil mengembangbiakkan sapi perah dan berkontribusi paling besar terhadap produksi susu secara nasional.

“Karena itu, pengembangan persusuan Indonesia menjadi tanggung jawab kita semua, seluruh stakeholder, baik pemerintah, pengusaha, koperasi, industri pengolahan susu, dan pemasar susu. Kami selaku pemerintah pusat mendukung Jatim sebagai sentra sapi perah nasional,” ujarnya.

Masih menurut Muladno, Peringatan Hari Susu Nusantara ini terinspirasi dari kegiatan serupa yang diprakarsai FAO (food & Agriculture Organization) pada tahun 2000, yang mencanangkan 1 Juni sebagai Hari Susu Sedunia (Word Milk Day), sejak itu, negara-negara memperingati secara nasional, termasuk Indonesia.

Dari data FAO 2015, pertumbuhan penduduk yang cepat di Asia mengakibatkan permintaan produksi susu meningkat, terutama di Cina, Indonesia, dan Vietnam, dimana rata-rata konsumsi susu sedunia mencapai 100 liter/kapita/tahun, di eropa barat, lebih dari 300 liter/kapita/tahun, Asia dan Afrika kurang dari 30 liter/kapita/tahun.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut, konsumsi masyarakat indonesia masih kecil, yaitu 12,1 liter/kapita/tahun pada 2015, berada dibawah malaysia yang konsumsinya sebanyak 32,6 liter/tahun, India 42/liter/tahun, Thailand 33,7 liter/kapita/tahun, dan Vietnam 17,8 liter/kapita/tahun.

Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir. Maskur, MM mengatakan, klegiatanini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi mengenai manfaat mengkonsumsi susu, mendorong masyarakat luas untuk mengkonsumsi produk susu dalam negeri sebagai makanan cair yang bermanfaat bagi tubuh, serta meningkatkan pengembangan industri sapi perah nasional yang menguntungkan bagi peternak sapi perah.

Resmikan RSHP Universitas Brawijaya
Usai menghadiri Puncak Peringatan Hari Susu Nusantara Tahun ke-8 Tahun 2016, Pakde Karwo bersama rombongan bergerak menuju Jalan Puncak Dieng untuk meresmikan Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Universitas Brawijaya.

Pada kesempatan itu, Pakde Karwo mengatakan, keberadaan RS ini sangat penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peningkatan kesehatan hewan, serta dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, dan dapat mendorong peningkatan kualitas SDM dokter hewan Jatim.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Bisri mengatakan, RSHP ini mulai dibangun pada tahun 2012 berdiri diatas lahan seluas 8,5 ha, serta menelan anggaran sebesar Rp30 miliar. Sedangkan luas bangunannya adalah 22.700 m3 dan terdiri atas lima lantai. Dimana lantai 1 terdiri atas ruang periksa, USG,R. Operasi, Lab. Hermatologi, Rawat Inap, dan R. Diskusi, untuk lantai 2, terdiri atas Ruang Anatomi dan Embriologi,  Lantai 3 terdiri dariRuang Mikrobiologi dan R. Bedah, lantai 4 ada RuangPatologi Klinik, Lab bersama, dan lantai 5 terdapat Ruang Biokimia. (hery)