24/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Majukan UMKM, Dinas Koperasi Tingkatkan SDM Pelaku UMKM

Kadis Koperasi dan UMKM Jatim, Dr. Ir. I. Made Sukartha, CESSurabaya, KabarGress.com – Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jatim harus terus tumbuh dan berkembang. Sebab, fokus utamanya konsep Jatimnomic meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat terutama rakyat kecil  lewat pembangunan UMKM. Penegasan ini disampaikan Kadis Koperasi dan UMKM Jatim, Dr. Ir. I. Made Sukartha, CES, Kamis (3/3/2016).

Menurut doktor ilmu pengerasan jalan ini, UMKM faktanya paling tahan banting menghadapi gonjang-ganjing ekonomi yang terjadi pada 2015, akibat kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate. “UMKM faktanya cukup tahan menghadapi krisis, dibanding sektor usaha lain,” kata Made Sukartha.

Bahkan triwulan IV tahun 2015, cukup positif dari aspek pengembangan UMKM. Dimana kuartal IV akhir Desember, ujar Made Sukartha, mencatat 29,8 persen dari industri pengolahan di Jatim. Kekebalan sektor UMKM terhadap gonjang-ganjing ekonomi telah teruji, makanya untuk memperkuat UMKM berbasis pertanian non pertanian yang pengembangannya sudah sampai ke desa-desa tersebut perlu dikonkretkan keberpihakannya.

Karena berdasar data di samping UMKM ini kebal terhadap krisis, sumbangannya kepada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim cukup signifikan. Kontribusi UMKM kepada PDRB Jatim pada 2015 sebesar 54,98 persen, ekuivalent Rp1.100 triliun. “Saya kira kontribusi UMKM pada PDRB kita cukup tinggi,” imbuh mantan Kabiro Ekonomi ini.

Agar UMKM terus bergeliat sejalan dilaksanakan program Jatimnomic, Dinas Koperasi dan UMKM, tandas Made, telah melakukan Memorandum Of Understanding (MOU) dengan Bank Jatim, Bank UMKM dan Jamkrida untuk akses pembiayaan. “Saya di Dinas Koperasi dan UMKM tentunya akan mengkonkretkan aspek produksi UMKM yang didukung oleh pembiayaan kompetitif, meliputi bunga bank yang murah, ditunjang syarat yang mudah serta pemasaran produk yang akurat. Untuk itu sektor UMKM diperkuat, supaya tiga pilar ekonomi di Jatim,” terang pejabat brilian ini menegaskan.

Tiga pilar itu meliputi; Pertama adalah mencakup produksi. “Produksi mampu ditingkatkan kualitas maupun kapasitas produksinya tanpa harus melakukan pengurangan jumlah pegawai,” sambungnya.

Pilar kedua, erat kaitannya dengan soal pembiayaan, dengan memberikan “loan agreement”. Satu pembiayaan dapat membuat UMKM mampu menambah dua orang pekerja baru. Sedangkan pilar ke tiga, berkaitan dengan pemasaran.

Pemasaran informasi, itu diperoleh melalui kegiatan pameran misalnya. Dengan diikutsertakannya para pelaku UMKM yang sudah baik (berhasil mengembangkan usahanya) dalam event seperti pameran tentunya sangat banyak yang bisa diperolehnya. Selain mengajak UMKM ikut pada pameran, dalam kerangka menjadikan UMKM di Jatim mampu lebih cepat mengembangkan usahanya, Dinas Koperasi dan UMKM Jatim, tegas Made Sukartha, juga lakukan MOU dengan pengusaha ritel seperti Carefour, Transmarke. Berdasar MOU itu UMKM dapat membuka outlet dan mendisply produk-produk unggulannya .

Untuk meningkatkan kemampuan UMKM di tengah padatnya kompetitor, Asean Economic Community (MEA), Dinas Koperasi dan UMKM  juga melakukan MOU dengan pihak Perguruan Tinggi Negeri/Swasta (PTN/PTS) seperti ITS, UNAIR, UNIBRAW dan Universitas Ciputra. MOU dilakukan terkait dengan upaya pembekalan dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) serta kompetensi pelaku UMKM.

Tak sebatas itu, dalam rangka mendukung peran Jatimnomic, Dinas Koperasi dan UMKM Jatim, menjalin kerjasama antar pengusaha, dan dengan propinsi lain melalui Kantor Perwakilan Dagang (KPD) yang tersebar di 17 propinsi.  Made Sukartha menambahkan saat ini telah terjadi peningkatkan daya saing UMKM bertarung di pasar global. Upaya dilakukan UMKM mampu bersaing di era MEA ini adalah dengan cara memfasilitasi penerapan standarisasi 4   Hazard Analysis Critical Control atau HACCP, termasuk memfasilitasi UMKM untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). (hery)

Teks foto: Kadis Koperasi dan UMKM Jatim, Dr. Ir. I. Made Sukartha, CES.