01/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Duta Besar Australia Paul Grigson Kunjungi UKWMS

Duta Besar Australia Paul Grigson Kunjungi UKWMSSurabaya, KabarGress.com – Menghargai lingkungan tempat tinggalnya, adalah kewajiban setiap insan manusia. Namun, berbagai hal yang kerap dilakukan oleh masyarakat, seringkali malah merusak diri mereka sendiri maupun lingkungan tempat mereka hidup. Generasi muda bangsa kita adalah kaum yang akan terpapar langsung konsekuensi dari tindakan pendahulunya terhadap lingkungan. Menghadapi kenyataan tersebut, kaum intelektual muda Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) giat berkarya terutama di bidang pengembangan kualitas kehidupan manusia dan lingkungan.

“Masalah krisis lingkungan yang kini menjadi perhatian masyarakat global tidak akan cukup jika hanya kita kerjakan sendirian. Kaum muda Indonesia haruslah giat menggali informasi, belajar dan mencari inspirasi dari berbagai sumber. Itulah sebabnya kami menjalin berbagai kerjasama baik di dalam maupun luar negeri untuk semakin meningkatkan kualitas, kuantitas maupun efektifitas karya-karya kami,” ungkap Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D. selaku Rektor UKWMS.

Pada Rabu, 27 Januari 2016, hanya dua hari setelah perkuliahan awal tahun kembali aktif, ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan UKWMS mendapat kesempatan untuk berdialog langsung dengan Mr. Paul Grigson. Beliau adalah Duta Besar Australia untuk Indonesia sejak Januari 2015 yang datang mengunjungi ‘Kampus Bata’ ini di sela-sela waktu kunjungannya di Kota Surabaya. Keterbatasan waktu yang tersedia membuat acara dikemas dalam diskusi padat singkat mengenai hubungan Indonesia – Australia di bidang edukasi. Kendati demikian, beberapa pertanyaan spesifik yang terlontar dari peserta ditanggapi pula secara mendetil oleh Paul meski menggunakan bahasa yang santai. Alvin, seorang mahasiswa dari Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UKWMS menanyakan, “selama ini kerjasama yang umum adalah beasiswa bagi orang Indonesia untuk belajar ke Australia. Bagaimana dengan sebaliknya apabila ada warga Australia yang ingin belajar ke Indonesia?”. Paul lantas menerangkan secara singkat mengenai adanya program ‘New Colombo Plan’ yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa Australia setingkat sarjana untuk magang di negeri-negeri Indo Pasifik. Melalui kesempatan tersebut, orang Indonesia juga punya kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan peserta program yang datang untuk meneliti bersama, magang ataupun menlanjutkan studi.

Pertanyaan lain datang dari mahasiswa Fakultas Kedokteran, “apakah ada alternatif tujuan pembelajaran khusus yang bisa diambil oleh lulusan S1 Kedokteran asal Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Australia?”. Paul menjawab bahwa ada banyak kesempatan terbuka bagi siapa saja yang ingin melanjutkan belajar ke negeri kangguru tersebut, terutama dengan adanya kerjasama-kerjasama seperti yang telah dijalin oleh beberapa universitas di Australia dengan kampus-kampus seperti UKWMS. “Salah satu bentuk yang saya sarankan adalah program joint degree di mana kalian bisa belajar selama tiga tahun di Indonesia atau Australia dan dua tahun di sebaliknya kemudian mendapat ijazah dari kedua universitas. Untuk bidang kesehatan khususnya, ada banyak yang bisa dipilih, selain itu juga kami memiliki bidang pembelajaran mengenai pelayanan dan pengelolaan kesehatan yang sebenarnya boleh dipelajari siapa saja, meskipun dia bukan dari Fakultas Kedokteran,” tutur Paul.

Dalam rangka menyambut Paul, pada kesempatan ini ditampilkan pula karya-karya mahasiswa dan peneliti UKWMS seputar pengembangan kualitas kehidupan manusia dan lingkungan hidup. Karya-karya tersebut antara lain adalah pemanfaatan limbah alam untuk pengolahan limbah industri, maupun konsep Integrated and Comprehensive Health Science Campus (IHSEP) UKWMS. Paul Grigson menyempatkan mengunjungi satu persatu booth yang dibangun dan berdiskusi langsung dengan para peneliti muda yang memaparkan karya-karya penelitian mereka seperti absorbent dari bahan kulit singkong untuk mengolah limbah industri. Ada pula yang menunjukkan karbon aktif dari bahan alami seperti kulit durian dan sebagainya. “Diharapkan diskusi singkat dengan peneliti-peneliti muda ini dapat semakin meningkatkan kesadaran akan perlunya bersikap lebih peduli terhadap pengembangan kualitas kehidupan manusia seutuhnya serta lingkungan hidup,” ujar Kuncoro. (ro)

Teks foto: Paul Grigson duduk di tengah- tengah peserta mahasiswa dan berbincang dengan Alvin, perwakilan mahasiswa Jurusan Teknik Industri.