05/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Maknai Diri Lewat Teater Pos Curhat

Surabaya, KabarGress.com – Siapa sangka ibu rumah tangga ternyata memiliki bakat bermain seni teater? Terlepas dari rutinitas menjadi ibu rumah tangga, para wanita di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan Surabaya, ternyata juga menyisihkan waktu untuk menjadi Kader di ‘Pos Curhat’. Memang terdengar sedikit asing, tapi Pos Curhat ini khusus disediakan Pemerintah sebagai tempat menampung ‘curhatan’ ibu/ bapak yang sedang dirundung permasalahan dalam keluarga.

Dalam acara yang digelar pada Jumat (12/6) di Pendopo Kelurahan Putat Jaya, Drama singkat berdurasi 90 menit, yang diperankan delapan ibu kader Pos Curhat dikemas apik oleh Tim Mahasiswa dan Dosen Fakultas Psikologi dan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Mengisahkan tentang pergulatan hidup sehari-hari dari para ibu kader di pos curhat.

“Oalah bu, aku iki sedih, bingung, anak ku sakit tapi bojo ku kok gak moleh-moleh. Aku nyilih duite sampean sek yo gawe nang dokter, ngko tak balekno (Oalah bu, saya ini sedih, bingung, anak saya sakit tapi suami saya kok tdak pulang-pulang. Saya pinjam uangmu dulu ya untuk ke dokter, nanti saya kembalikan),” celetuk salah satu warga kepada Bu RT dalam teater tersebut.

Peserta diskusi tersenyum dan tertawa kecil, karena mereka juga pernah merasakan hal yang sama.

Kegiatan ini adalah bentuk Pengabdian masyarakat Fakultas Psikologi sekaligus Seminar Karya Filsafat UKWMS yang dirancang dan diterapkan pada masyarakat di sekitar bekas lokalisasi Putat Jaya. Tujuannya sebagai media melepas kepenatan hidup dan proses rehat jiwa melalui olah seni teater.

Kehadiran Dyah Katarina, S.Psi yang tak lain adalah Anggota Dewan menambah antusias pemain untuk mementaskan drama dengan penuh totalitas. Terlibat pula Lurah Putat Jaya Bambang Hartono, SE yang selalu mendukung dan menemani dalam setiap proses acara yang berlangsung.

Dalam diskusi singkatnya, Romo Aloysius Widyawan Louis dan Anastasia Jessica Adinda selaku dosen Fakultas Filsafat menyampaikan tujuan akhir program tersebut yaitu pada proses bagaimana setiap kader, setiap individu, dapat membongkar tubuh, jiwa, perasaan, pikiran, bergelut dengan problem yang mereka punya dan potensi dalam tubuh mereka.

“Satu metode yang ampuh untuk pemberdayaan diri adalah sebuah posisi pemimpin. Sebagai seorang individu, kita harus mempunyai pesona diri, dan punya pribadi sendiri itu penting supaya kita tidak ikut merasa bersalah dalam keputusan yang kita ambil. Jangan remehkan peran ibu kader ini untuk membuat perdamaian di dalam lingkungannya” ujar Esthi Susanti, M.Si selaku Aktivis Advokasi Hak Perempuan dan Anak di Hotline Surabaya saat diskusi singkatnya.

Di akhir diskusi, Romo Widya mengatakan, “setiap orang memang punya peran masing-masing, tapi kita harus saling membantu untuk Indonesia yang lebih baik”. (ro)