24/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Perekonomian Jawa Timur Tetap Optimis, Meskipun Melambat di Triwulan I 2015

* Konsumsi dan Perdagangan Dalam Negeri Sumber Perekonomian Jawa Timur

 

Surabaya, KabarGress.Com – Kinerja perekonomian Jawa Timur pada triwulan I 2015 mencapai 5,2% (yoy) melambat dibanding triwulan IV 2014 (6,0%), namun tetap lebih tinggi dari nasional (4,7%), serta tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Provinsi Jawa Tengah dan Banten. Share perekonomian Jawa Timur pada triwulan ini menempati posisi terbesar kedua (24,85%) di Jawa, setelah DKI Jakarta (29,05%).

Demikian diungkapkan Deputi Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Soekowardojo, di Surabaya, Selasa (8/6/2015).

 

Dari sisi permintaan, sumber utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dari konsumsi rumah tangga dan masih mampu tumbuh sebesar 4,5%, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,8%. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur didorong peningkatan perdagangan dalam negeri yang mampu mencatatkan net ekspor sebesar Rp.24,9 triliun atau tumbuh 103,8% (yoy), sebagai respon peningkatan permintaan dampak tingginya pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia yang mencapai 6,9%.

 

Kenaikan perdagangan dalam negeri ini, sekaligus mengkompensasi penurunan kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur yang mencatatkan net impor sebesar Rp13,4 triliun, dampak pertumbuhan negatif ekspor luar negeri sebesar -1,8% dan impor -1,6%. Penurunan kinerja ekspor impor luar negeri Jawa Timur tersebut, dipengaruhi oleh perlambatan permintaan negara mitra dagang utama Jawa Timur, seperti Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat. Di sisi lain, kinerja pertumbuhan ekonomi Jawa Timur juga tertahan oleh penurunan kinerja konsumsi pemerintah (-2,3%), terkendala antara lain perubahan nomenklatur Pemerintah Pusat serta proses efisiensi di lingkungan pemerintah daerah.

 

Dari sisi penawaran, pertumbuhan didorong oleh kinerja sektor perdagangan besar dan eceran (6,0%). Sementara dua sektor utama lainnya yaitu sektor industri pengolahan dan sektor pertanian cenderung melambat. Kontraksi industri pengolahan utamanya terjadi pada industri kendaraan bermotor (-12,2%), industri kulit (-7,5%) dan industri farmasi (-5,5%) karena berbagai tekanan kebijakan administered domestik dan kondisi global. Sementara perlambatan sektor pertanian khususnya terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan didorong oleh pergeseran musim tanam akibat mundurnya musim hujan.

 

Perekonomian Jawa Timur tahun 2015, diperkirakan masih tumbuh positif dan berada di atas nasional, yaitu di kisaran 5,7%-6,1%, didorong peningkatan investasi dan konsumsi pemerintah sejalan dengan realisasi proyek-proyek infrastruktur. Kinerja ekspor impor diperkirakan turut meningkat, sejalan dengan perbaikan ekonomi negara mitra dagang serta mulai beroperasinya Pelabuhan Teluk Lamong yang mendukung kegiatan ekspor impor dalam dan luar negeri.

 

Kelompok Volatile Food Picu Inflasi Jawa Timur pada Mei 2015

Inflasi Jawa Timur pada Mei 2015 sebesar 6,69% (yoy) atau 0,41% (mtm), lebih rendah dibandingkan Nasional (7,15%-yoy dan 0,50%-mtm). Berdasarkan disagregasi bulanan, pendorong utama inflasi adalah kelompok volatile food (0,75%), sementara kelompok administered price dan core inflation mengalami inflasi yang lebih rendah, masing-masing 0,38% dan 0,30%.

Tingginya inflasi volatile food disebabkan kenaikan harga komoditas telur ayam ras (8,52%), bawang merah (8,55%), daging ayam ras (3,17%) dan cabai merah (36,38%) yang lebih disebabkan oleh faktor produksi serta tingginya permintaan dari industri kue dan makanan yang telah melakukan proses produksi menjelang Ramadhan dan Lebaran. Kenaikan harga Pertamax dan tarif listrik di awal Mei 2015 yang direspon terbatas serta adanya koreksi harga pada tarif angkutan antar kota dan kereta api, mendorong rendahnya inflasi kelompok administered price.

 

Sementara inflasi kelompok core inflation disebabkan oleh kelompok makanan-minuman antara lain komoditas gula pasir (2,56%) dan soto (2,06%) sebagai dampak lanjutan kenaikan harga bahan makanan dan peningkatan permintaan.

 

Secara spasial, dari 8 (delapan) Kabupaten/Kota perhitungan inflasi BPS, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Banyuwangi (0,55%), terendah di Kota Kediri (0,21%). Sedangkan secara tahunan, Kota Malang mengalami inflasi tertinggi (7,08%) dan terendah di Banyuwangi (4,97%).

Pada tahun 2015, inflasi Jawa Timur diperkirakan berada pada range 4% + 1% sesuai dengan sasaran inflasi Nasional. Berbagai strategi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terangkum dalam 5 (lima) strategi utama “GADIS REMO KANGEN” yaitu (1) Penguatan Kelembagaan; (2) Produksi, Distribusi, Konektivitas; (3) Regulasi dan Monitoring; (4) Kajian dan Informasi; serta (5) Pengendalian Ekspektasi, diharapkan dapat mengawal pencapaian inflasi yang rendah dan stabil di Jawa Timur.

 

Kinerja Intermediasi Perbankan Melambat, Namun Risiko Kredit tetap Terjaga Hingga April 2015, kinerja penyaluran kredit Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jawa Timur masih melambat, dari 11,99% (Maret 2015-yoy) menjadi 11,13% di April-2015 atau sebesar Rp350,90 triliun. Berdasarkan penggunaannya, perlambatan terutama terjadi pada kredit modal kerja yang memegang share terbesar (59,38%) dari total penyaluran kredit yaitu dari 12,54% (Maret 2015-yoy) menjadi 11,22% (April 2015-yoy). Di sisi lain, kredit konsumsi (share 26,69%) justru sedikit meningkat walaupun cenderung stabil yaitu dari 13,10% menjadi 13,13%.

 

Sejalan dengan perlambatan ekonomi, penyaluran kredit di sektor utama Jawa Timur juga melambat, kredit sektor industri pengolahan melambat dari 15,14% menjadi 13,95%, sektor perdagangan besar dan eceran melambat dari 12,71% menjadi 11,92%, begitu pula dengan sektor pertanian menurun dari 2,44% menjadi -0,56%. Hal yang sama juga terjadi pada Kredit UMKM yang turut melambat dari 10,83% menjadi 9,90%.

 

Sejalan dengan kondisi penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) turut melambat dari tumbuh 17,48% pada Maret 2015 menjadi 15,90% pada April 2015 atau tercatat sebesar Rp398,37 triliun. Meskipun melambat, posisi pertumbuhan DPK pada periode ini sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (14,44%).

 

Di tengah berbagai perlambatan tersebut, kondisi kualitas kinerja kredit perbankan relatif baik. Risiko kredit yang tercermin melalui rasio NPL masih terjaga namun menunjukkan  tren yang meningkat dari 2,15% menjadi 2,27%. Hal serupa juga terjadi pada NPL UMKM yang meningkat dari 4,20% menjadi 4,37% pada periode April 2015. Meskipun demikian, NPL tersebut masih lebih rendah dari batas yang diwaspadai yaitu maksimal 5%. Sedangkan risiko likuiditas perbankan yang tercermin dari rasio LDR sedikit meningkat dari 87,88% menjadi 88,08%, namun masih cenderung longgar dan memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap menyalurkan kredit. (ro)