28/10/2020

Jadikan yang Terdepan

3 Tahun ke Depan, Industri Kreatif Bakal Bayangi Industri Mamin

Warno HarisasonoSurabaya, KabarGress.Com – Barangkali diantara masyarakat banyak yang belum tahu jika kerajinan batik, bordir dan aksesoris Jawa Timur paling diminati baik di tingkat regional maupun ASEAN. Ini membuktikan industri kreatif khususnya pasar batik bordir dan aksesoris cukup terbuka lebar dan besar di tingkat internasional khususnya di Brunai Darussalam, Singapura, Malaysia dan Filipina.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur selaku Ketua Harian Dekranasda Jawa Timur, Warno Harisasono, mengatakan beberapa waktu yang lalu Jawa Timur telah ikut pameran di Batam dengan membawa produk batik, bordir, dan aksesoris. “Antusiasme terhadap produk batik Jawa Timur luar biasa. Bahkan sebelum pameran dibuka, produk batik Jawa Timur separuhnya sudah habis terjual dan dibeli turis dari Malaysia dan Singapura serta masyarakat Batam,” ujar Warno, usai membuka Pameran Batik Bordir dan Aksesoris ke 10, di Grand City Surabaya, Rabu (13/5/2015) petang.

Perlu diketahui kerajinan batik bordir dan aksesoris Jawa Timur saat ini telah berkembang baik mutu dan kualitasnya. Dengan kualitas mutu yang cukup baik maka harus dibarengi dengan memberikan ruang kepada para pegrajin untuk promosi agar produk batik bordir dan aksesoris mereka semakin dikenal terutama karya-karya terbarunya.

Agar batik Indonesia khususnya Jawa Timur terjaga mutunya dan terhindar dari persaingan asing dengan produk tekstilnya yang bermotif batik, maka Indonesia membuat batik marks yang bersertifikat dari lembaga yang ditunjuk untuk menentukan bahwa batik Jawa Timur dan Indonesia benar-benar batik tulis, atau batik cap, atau kombinasi batik tulis dan cap dan bukan tekstil bermotif batik.

Meskipun dalam kontribusinya industri kerajinan terhadap Produk Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur 2014 sebesar 3 persen dari Rp1.549 triliun, namun tiga tahun ke depan optimis industri kerjinan batik, bordir dan aksesoris akan mengambil bagian yang terbesar sekitar 10 persen dari PDRB dan akan bersaing dengan industri makanan minuman (mamin). Ini karena industri kerajinan batik, bordir, dan aksesoris di dalamnya terdapat emas perhiasan dan batu alam. Perlu diketahui ekspor industri perhiasan dan batu alam pada 2014 naik 100 persen dibanding sebelumnya.

Dikatakan Hari, industri kerajinan batik, bordir dan aksesoris telah menyerap tenaga kerja yang jumlahnya sekitar 96.000 unit usaha. Jika satu unit bisa menyerap tenaga kerja 10, maka sektor industri kerajinan bisa menyumbang sekitar satu juta tenaga kerja yang diserap.

Sementara itu, panitia Pameran Batik Bordir dan Akssesoris Fair ke 10 dari PT Debindo Mitra Tama, M. Husein Darman, mengatakan pameran Batik Bordir dan Aksesoris ke 10 yang digelar di Grand City Surabaya yang berlangsung mulai 13 sampai 17 Mei 2015 ini merupakan pameran yang terbesar di Indonesia Timur.

Pameran kerajinan batik tahunan tersebut merupakan kerjasama antara Disperindag Provinsi Jawa Timur dengan PT Debindo Mitra Tama serta Asosiasi Pengrajin Batik Jawa Timur (APBJ), Persatuan Pengusaha Bordir Jawa Timur (PPBJ).

Kegiatan ini merupakan salah satu keikutsertakan promosi program regular industri kerajinan batik bordir aksesoris yang berkualitas ekspor Pemprov Jawa Timur. Sekaligus memberikan apresisasi kesempatan yang seluas-luasnya kepada penguasaha dan pengrajin batik bordir aksesoris daerah yang mengembangan kreativitas dan jaringan pasar secara nasional dan pasar global.

Acara pameran tersebut diikuti oleh 198 peserta. Ini meningkat 15 persen dari sebelumnya yang hanya 178 peserta. Pameran ini menampilkan berbagai produk desain motif pilihan tradisional maupun moderen dari kalangan pengusaha industri kecil, pengrajin batik, bordir, tenun, songket, sulaman, busana tradisional aksesoris pilihan.

Agar pameran menjadi meriah maka digelar pamer batik bordir kuno, tren batik open of the hiyer, demo membatik, bordir dan menyulam peragaan bisana batik setiap hari, pemilihan putra-putri batik Jawa Timur. (kominfojtm/ro)

Teks foto: Warno Harisasono.