18/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Pasca Pilpres dan Hadapi Idul Fitri, Ekonomi Jatim Tetap Stabil

Surabaya, KabarGress.Com – Perekonomian Jawa Timur pada pertengahan Tw III-2014 diyakini cukup stabil dan kondusif, khususnya pasca berlangsungnya pemilihan Presiden pada 9 Juli 2014 dan menghadapi Hari Raya Idul Fitri. Beberapa indikator perekonomian dan hasil Survei yang diilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan beberapa sinyal positif. Dari sisi konsumen, Survey Konsumen (SK) oleh Bank Indonesia Wil. IV pada bulan Juli 2014 mengindikasikan optimisme konsumen yang masih cukup kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Juli 2014 meningkat cukup signifikan sebesar 10,7 poin, dari 119,4 (Juni) menjadi 130,1.

Optimisme ini ditunjukkan oleh keyakinan konsumen atas kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi konsumen atas kondisi ekonomi 6 bulan yang akan datang. Rangkaian kampanye pilpres dan proses pemilihan umum yang berlangsung secara aman dan lancar serta tingginya harapan konsumen kepada calon Presiden, diyakini sebagai salah satu aspek pendukung positifnya ekspektasi keyakinan konsumen pada bulan ini, demikian disampaikan Dwi Pranoto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim.

Dari sisi dunia usaha, Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi dibandingkan Tw I-2014. Hal ini tercermin dari indikator kegiatan usaha yang meningkat 17,56 poin. Peningkatan ini sesuai dengan pola cyclical-nya, yaitu searah dengan peningkatan permintaan konsumen di triwulan sebelumnya. Peningkatan produktivitas sektor juga diindikasikan dari peningkatan kapasitas utilisasi produksi dari 77,35% pada tw I -2014 menjadi 80,16% di Tw II -2014.

Secara sektoral, peningkatan kapasitas produksi paling signifikan terjadi pada sub sektor barang galian, sebagai imbas dari percepatan realisasi proyek yang dilakukan Tw II-2014 mengindikasikan konstruksi (jalan) menjelang Hari Raya, dan realisasi proyek pemerintah di Tw II-2014. Sektor lain yang meningkat adalah sektor industri pengolahan. Peningkatan produktivitas yang terjadi diyakini dilakukan melalui intensifikasi sumber daya yang tersedia (Otomasi/ Capital intensive), yang tercermin dari masih turunnya indikator penggunaan tenaga kerja di Tw II-2014 sebesar -1,44%.

Meski demikian penurunan penggunaan tenaga kerja pada triwulan laporan tidak sedalam di Tw I-2014 yang mencapai -2,94%. Kenaikan UMK yang tinggi selama 2 tahun berturut turut mendorong para pelaku usaha untuk merampingkan struktur tenaga kerja dan efisiensi proses kerja. Namun dengan membaiknya ekspektasi peningkatan kegiatan usaha di Tw III-2014 pelaku usaha optimis akan menambah kembali penyerapan tenaga kerja untuk mengantisipasi keniakan permintaan di Tw III-2014. Pelaku usaha masih optimis dengan aktivitas ekonomi kedepan, hal ini tercermin dari indikator ekspektasi kegiatan usaha yang menguat 17,56 poin dengan SBT 39,86%.

Perekonomian Jatim yang kondusif juga didukung oleh kinerja perbankan di Jatim yang masih tumbuh positif dengan angka pertumbuhan di atas nasional. Fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik, dengan penyaluran kredit mencapai Rp317,25 triliun (tumbuh 21,30%), yang didominasi oleh sektor produktif (modal kerja & investasi) dan kualitas kredit yang terjaga.

Meski beberapa indikator Jatim relatif stabil, kami memandang perekonomian secara nasional masih menghadapi tantangan yang belum akan surut di tahun 2014. Tantangan itu datang dari sisi global dan domestik. Dari sisi global, perekonomian global mulai membaik, meskipun dengan kecepatan yang moderat. Perbaikan terutama didorong oleh pulihnya negara maju, peningkatan volume perdagangan dunia dan perbaikan harga komoditas global.

Sementara itu, perekonomian negara Emerging Market (EM) masih berisiko melambat, meski beberapa indikator sudah mulai menunjukkan perkembangan positif dan didukung oleh proses rebalancing ekonomi Tiongkok dan India yang masih terus berlangsung.

Di sisi domestik, meski masih tumbuh cukup kuat, perekonomian Jatim dihadapkan pada konsumsi rumah tangga yang tertahan atau cenderung melambat. Hal ini diindikasikan, antara lain, oleh melambatnya indeks penjualan eceran. Sementara itu, konsumsi pemerintah juga diprakirakan tumbuh lebih rendah akibat bergesernya pembayaran gaji ke-13 ke triwulan III 2014 dan penghematan belanja kementerian dan lembaga. BI Wilayah IV memperkirakan penghematan belanja pemerintah tersebut akan berdampak pada perlambatan ekonomi Jatim sebesar 0,1%. Sementara itu, pertumbuhan investasi juga diperkirakan melambat, khususnya investasi bangunan sebagai dampak kebijakan stabilisasi.

Upaya pengendalian inflasi di Th 2014 masih menjadi tantangan bagi Jawa Timur. Tekanan inflasi masih terjadi di sisi volatile food terkait dengan keterbatasan stok dan kelancaran distribusi. Sementara dari sisi administered price, inflasi berpotensi terjadi didorong oleh kenaikan tarif listrik industri dan rumah tanggal per 1 Juli 2014.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2014 diperkirakan masih relatif stabil dengan pertumbuhan lebih tinggi dari nasional dan inflasi yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di batas bawah kisaran 6,40%-6,80% (yoy). Inflasi berada di batas atas kisaran 4,5 + 1 (yoy), serta pertumbuhan kredit di kisaran 18-20% (yoy). (ro)