DIKOTOMI NASIONALISME ETNIS THIONGHOA

Baru-baru ini pangeran bungsu cendana berpendapat dan dilansir oleh salah satu media online. Bahwa saat ini tepatnya pasca Pilkada Ibu Kota telah terjadi pembuktian nasionalisme etnis thionghoa. Setidaknya didasari oleh tiga perspektif, pertama bulat dan solidnya suara mereka untuk mendukung politisi yang memiliki latar belakang etnis yang sama yaitu thionghoa.

Kedua, dulangan suara yang sampai 95% diperoleh oleh calon yang beretnis sama, pada pemukiman mereka sehinggga hal ini menjadi bukti kekuatan kelompok komunitas etnis tinghoa. Ketiga, atau yang terakhir putra mantan Presiden Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun tersebut, menyatakan bahwa etnis thionghoa yang selama ini berteriak-teriak tentang bhineka tunggal ika, ternyata justru terbukti memilih seorang pemimpin bukan atas dasar kebhinekaan.

Oleh karenanya lanjut pendiri parsindo yang juga pengusaha sukses tersebut ini menjadi tonggak kebangkitan nasionalisme dan patriotisme thionghoa, dan akan menjadi ancaman bagi nasionalisme Indonesia sendiri. Melihat pendapat beliau diatas pasti akan banyak khalayak menilai, bahwa  ini adalah ujaran kebencian, dikotomis dan atau bahkan SARA.

Pendapat yang disampaikan oleh Tommy Soeharto tersebut tidak lebih dari kritik dan otokritik atas bangunan yang dilakukan oleh ayahandanya sendiri, dimana zaman orde baru telah menciptakan kanalisasi peranan etnis thionghoa dalam satu sisi. Dan sangat dibatasi untuk menjadi atau berperan bebas sebagai layaknya masyarakat etnis indonesia lainnya dan ini terjadi. Sampai pelarangan agama dan budaya namun anehnya saudara kita etnis thionghoa diberikan peran, fasilitas dan sarana dalam bidang ekonomi…. (bersambung)

Leave a Reply


*