31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

PD Muhammadiyah-KADIN Surabaya Teken MoU Perkuat Ekonomi Umat

IMG-20160827-01252-800x600Surabaya, KabarGRESS.com – Pada Sabtu, 27 Agustus 2016, bertempat di Graha Dakwah Muhamadiyah, Jl Sutorejo 73-77 Surabaya, Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Surabaya melakukan kerjasama (MoU/Memorandum of Understanding) dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Surabaya.

Kerjasama tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah saudagar Muhammadiyah, demi terciptanya kesejahteraan ekonomi masyarakat. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Ketua PD Muhammadiyah, Drs Hamri Al Jauhari, M Pd I, dan dari KADIN Surabaya ditandatangani langsung oleh Ketua KADIN Surabaya, Dr Ir Jamhadi, MBA.

Hadir menyaksikan dalam kesepakatan ini ialah Ketua PP Muhammadiyah Dr Anwar Abbas, MM, MAg, serta kurang lebih 100 undangan dari perwakilan majelis ekonomi Muhammadiyah se-Surabaya.

Beberapa hal yang ditekankan dalam perjanjian kerjasama itu antara lain meningkatkan skill bisnis saudagar Muhammadiyah, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), pengelolaan usaha, akses permodalan, peningkatan jejaring bisnis, peningkatan penguasaan informasi teknologi (IT) untuk market online, hingga meningkatkan daya saing bisnis.

Dalam acara MoU sekaligus Dialog Ekonomi “Membaca Ekonomi Muhammadiyah Surabaya & Membentuk Saudagar Muhammadiyah” yang dimulai pukul 19.30 WIB ini, Jamhadi menyambut baik kesepakatan ini.

Menurut pria yang juga dewan penasihat Ikatan Saudagar Muslim (ISMI) Jawa Timur (Jatim) ini, KADIN Surabaya memiliki Klinik KADIN yang bisa dimanfaatkan saudagar maupun calon saudagar Muhammadiyah untuk menyampaikan kendala yang dialaminya terkait usahanya.

Jamhadi tak henti-hentinya meminta kepada pengurus Muhammadiyah untuk memanfaatkan ceruk bisnis yang masih terbuka lebar. Misalkan bisnis syariah dan produk halal yang belum banyak terjamah. Dia pun miris, karena selama ini pelaku usaha produk halal kebanyakan non muslim. Harusnya, kata Dewan Pendiri dan Penasihat Surabaya Creative City Forum (SCCF) ini, umat Muslim berperan lebih dalam menjalankan bisnis tersebut.

Peluang lain yang bisa dimanfaatkan ialah di sektor pendidikan. Menurut Jamhadi, di tengah derasnya investasi masuk ke Jawa Timur, Muhammadiyah bisa membuka sekolah internasional, yang ditargetkan untuk anak-anak investor asing yang datang ke Jawa Timur.

KADIN selaku mitra pemerintah dan juga ‘rumahnya’ dunia usaha akan memberikan pendampingan dan pelatihan kepada pengurus Muhammadiyah yang ingin menjadi entrepreneur.

Jamhadi dalam paparannya “Muhammadiyah dan Kreativitas Bisnis” juga menyampaikan bahwa warga Surabaya termasuk pengurus Muhammadiyah saat ini juga punya wadah untuk menyalurkan kreativitasnya menjadi bisnis kreatif melalui SCCF.

“Kalau punya ide kreatif dan ingin diwujudkan jadi bisnis kreatif, di Surabaya ada SCCF yang bisa mewadahi itu. Sekarang ini bukan waktunya lagi berkeluh kesah. Kita harus bekerja, berjualan dan memproduksi,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua PP Muhammadiyah Dr Anwar Abbas, MM, MAg ikut prihatin terkait dengan kondisi negeri saat ini. Dia menegaskan, untuk menjadi penentu di negeri ini harus menguasai 10 bidang.

Disebutkan Abbas, kesepuluh bidang itu ialah pemuka agama, elit politisi, elit cendekiawan, pengusaha, profesional, birokrasi, pendidikan, budayawan, pekerjaan, sosial, dan TNI/Polri.
“Dari 10 bidang itu semua diisi oleh umat Islam kecuali satu, yakni pengusaha. Penentu negeri ini penguasa ekonomi. Sekitar 88% pendudukan Indonesia umat Islam, semua kita, cuma ada satu yang bukan kita, yaitu ekonomi konglomerasi. Hanya 5%-10% kekayaan di negeri ini yang ada di tangan umat Islam, sisanya di tangan orang di luar kita,” jelasnya.

Menurut Abbas, hal itu karena umat Islam tidak mengikuti ajaran Nabi, yaitu sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan. Untuk itulah, dia mengajak agar Umat Islam hijrah, dari mengidolakan pegawai negeri ke menormorsatukan bisnis.

Harusnya, peran itu dilakukan mulai dari pendidikan sebagai pencetak pembuka lapangan kerja bukan pencetak pencari kerja. Di Muhammadiyah sendiri, kata dia, gurunya mengajarkan entrepreneur kepada siswanya, tetapi dia sendiri ingin anaknya jadi pegawai negeri dan karyawan. “Ini yang disebut bukan mental penerobos dan pencipta. Ini mental peminta-minta, minta difasilitasi orang tua dan pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, dia meminta KADIN Surabaya agar mendampingi para calon saudagar Muhammadiyah dan yang sudah berwirausaha. Harapannya, kelak, Muhammadiyah tidak hanya punya lembaga pendidikan dan rumah sakit tetapi juga punya tower Muhammadiyah dan pabrik yang luas.

“Itulah visi kita bukan mimpi. Karena visi itu bisa diwujudkan sedangkan mimpi tidak. Dan kita harus mengubah tantangan jadi peluang, dan ancaman jadi kesempatan, serta kalau tidak bisa melawan orang, berkawanlah dengan mereka,” ujarnya.

Di akhir penyampaiannya, dia berharap Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) bisa bersatu tanpa disertai tendensi politik. “Bersatunya Muhammadiyah dan NU maka akan jadi penentu di negeri ini,” tegasnya. (ro)