20/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Sapi Siap Potong Menghilang, Harga Daging Tak Terkendali

* KPPU KPD Surabaya Sidak RPH Pegirian

Ketua KPPU KPD Surabaya, Aru Armando, sidak RPH PegirianSurabaya, KabarGress.Com РAkibat menghilangnya sapi siap potong, berdampak harga daging sapi tidak terkendali bahkan cenderung naik terus. Demikian temuan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Perwakilan Daerah (KPD) Surabaya, di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian, Kota Surabaya, Sabtu (9/1/2016) dini hari.

“Hasil sidak (inspeksi mendadak) kali ini benar-benar mengejutkan. Sebelumnya kami sudah menanyakan ke Disperindag maupun Dinas Peternakan Propinsi Jatim mendapatkan jawaban bahwa tidak ada masalah baik pasokan maupun tingkat harga. Kenyataannya di lapangan jauh berbeda, pasokan langka sehingga harga daging sapi tidak juga turun-turun meski natal dan tahun baru sudah lewat,” jelas Ketua KPPU KPD Surabaya, Aru Armando, di sela-sela sidak.

KPPU akan mendalami menghilangnya sapi-sapi siap potong tersebut apakah hasil permainan kartel. “Kita khawatirkan turunnya jumlah pasokan sapi siap potong mengarah pada upaya dibukanya kran impor, baik sapi masih hidup atau sudah berupa daging,” jelasnya.

Seperti diketahui, minimnya pasokan sapi siap potong di wilayah Jawa Timur membuat harga daging sapi naik. Jika pekan lalu harga daging masih Rp90 ribu/kg di Rumah Potong Hewan (RPH) dan di pasaran Rp92 ribu/kg, kemarin malah naik menjadi Rp100-105 ribu/kg di RPH dan Rp105-110 ribu/kg di pasaran.

Kegiatan pemotongan sapi di RPH Pegirian Surabaya“Malah naik, termasuk harga karkas (jenis daging sapi). Untuk karkas dari semula Rp86 ribu/kg sekarang menjadi Rp87 ribu/kg,” ujar Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS), Muthowif, saat dikonfirmasi, Jumat (8/1/2016).

Muthowif menuturkan, jika ada yang menjual di bawah harga itu bisa dipastikan daging sapi gelonggongan atau impor. Kenaikan harga ini disebabkan kelangkaan sapi siap potong di pasaran.

PPSDS menilai hasil verfikasi dan validasi (verival) Dinas Peternakan Jatim menyebut populasi sapi mencapai 4,2 juta tidak masuk akal. Faktanya, data PPSDS di kisaran 2,7-2,9 juta.

M. Hasim, salah satu jagal sapi di RPH Pegirian, menuturkan jika pasokan sapi siap potong benar-benar memprihatinkan. “Bahkan sudah hampir setahun ini semakin berkurang. Kalau biasanya tiap jagal menyembelih hingga 15 ekor sapi, sekarang hanya 2 bahkan tidak ada yang disembelih,” ujarnya.

Sunaryo RPH PegirianDirinya berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata. “Ya kan yang lebih tahu pemerintah, dimana ada banyak sapi agar didatangkan ke Surabaya karena permintaan daging sapi sangat luar biasa,” katanya.

Riamah, salah satu pembeli sapi dan dipotongkan di RPH Pegirian, mengaku kondisi seperti ini sangat merugikan. “Harga daging yang tidak stabil membuat masyarakat tidak berani beli, kita jadi merugi,” tuturnya.

Kepala Bagian Pemotongan RPH Pegirian, Sunaryo, membenarkan jumlah pasokan sapi siap potong yang kian langka. Kalau dulu setiap hari memotong 150 hingga 165 ekor, sekarang rata-rata hanya 19 ekor saja. “Kami sudah laporkan kondisi ini ke Pemkot Surabaya agar mendapatkan solusi,” tukasnya.

Bahkan, untuk melayani dan mempertahankan pelanggan, sapi yang mestinya belum layak potong terpaksa dipotong. (ro)

Teks foto:

– Ketua KPPU KPD Surabaya, Aru Armando, saat sidak di RPH Pegirian Surabaya, Sabtu (9/1/2016) dini hari.

– Kegiatan pemotongan sapi di RPH Pegirian Surabaya.

– Kabag Pemotongan RPH Pegirian Surabaya, Sunaryo.