02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Mutasi Lahan Pertanian Jadi Masalah Serius di Jatim

Gubernur Jatim Dr. H Soekarwo Menghadiri dan Memberikan  Sambutan dan  Pengarahan Di Acara Pelantikan DPC Se-Jatim di Pendopo  Kabupaten Mojokerto  (1)Gubernur Jatim Dr. H Soekarwo Menghadiri dan Mengucapkan  Selamat Para DPC HKTI  Di Acara Pelantikan DPC Se-Jatim di Pendopo  Kabupaten Mojokerto (2)Mojokerto, KabarGress.Com – Pakde Karwo panggilan akrap Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo, di depan para  anggota DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cabang Jatim Kab/Kota se Jatim , mengatakan  peralihan lahan atau mutasi lahan pertanin  di Jawa Timur  mnjadi masalah pokok dan penting serta serius di Jatim. Pernyataan tersebut disampaikan Pakde Karwo, saat memberikan engarahan pada anggota Dewan Pengrus Cabang (DPC) HKTI se Jatim yang baru dilantik  di Pendopo Majautama Kabupaten Mojokerto, Minggu (29/3) siang.

Menurut Pakde Karwo, peralihan lahan/ tanah yang tadinya diperuntukkan sebagai lahan pertanian terus dialih fungsikan menjadi kwasan perusahaan atau industry  itu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Kenapa? Karna, selain membunuh karakter petani juga sekaligus mematikan sumber penghasilan atau mata pencaharian bagi para petani secara missal. Akirnya, lahirlah masalah baru yakni pengangguran dan kemiskinan. Gara-garanya, satu yakni peralihan lahan yang seharusnya dijaga dan dilestarikan demi masa depan kecukupan persediaan pangan.

Oleh karena itu, masalah peralihan hrus segera ditangani dan dicermati agar kedepan Jawa Timur tidak menjadi kekurangan stok pangan/ beras. Sebab, bila petani beralih fungsi kalau tidak dibarengi atau diberi ketrampilan lain lebih dulu  otomatis  ini akan menjadi boomerang baru atau masalah baru bagi daerah  yang mengalihkan fungsi pertanian menjadi lahan perusahaan/industry.

Untuk itu, lanjutnya, masalah RTRW Kab/Kota harus benar-benar diperhatikan dan difahami baik oleh eksekutif maupun lgislatif. Tujuannya, agar dalam membuat pemetaan lahan yang diperuntukkan untuk perumahan, perusahaan dan  pemekaran kota tidak berrtabrkan dengan area lahan pertanian yang subur. Karena bagaimanapun lahan pertanian itu adalah sebagai penguatan stok pangan kita.” Baik untuk daerah, provinsi maupun untuk sumbangan ke swasembada pangan nasional,” jelas Pakde Karwo.

Selanjutnya Pakde Karwo  menjelaskan,  saat ini meskipun Jawa Timur sudah banyak kelihangan lahan pertanian yang menjadi sumber atau lumbung padi, namun  Jatim  masih mempunyai kelebihan/surplus beras sebanyak 4,8 juta Ton. Karena produksi beras Jatim Tahun 2014 sebanyak 8,3 Juta Ton. Sementara kebutuhan konsumsi beras Jatim dengan jumlah penduduk 38 Juta lebih hanya 3,5 Juta Ton/tahun dengan hitungan 91, Kg/KK setahun. Sedang  kebutuhan masyarakat Indonesia rata-rata per- KK/tahun sebanyak 118 Kg. “ Jadi Jawa Timur  masih mampu mensuply kebutan beras masyarakat Indobesia untuk 41 Juta KK dengan hitungan 118 Kg/KK/Tahun,” terangnya.

Dengan lahan pertanian yang beralih fungsi atau berkurang  saja Jatim bias mensuply kebutuhan pangan/beras untuk 41 Juta KK Indonesia, apalagi kalau pengalihan fungsi lahan ini dihentikan.

Berarti Jatim akan bias meningkatkan produksi pangan/ brsas yng lebih banyak lagi. Yaitu dengan cara perbaikan benih yang lebih unggul, waktu pemupukan yang pas dan tidak boleh seenaknya atau kelewat umur dan system engairan yang baik serta  waktu panen harus benar-benar diperhatikan. Yakni dengan menggunakan alat potong padi atau browser supaya nili tambah produksi gabah isa di;iminisir atau dikurangi.

Mengapa harus menggunakan alat mesin potong/ karena dengan menggunakan alat potong dan perontok padi, maka  produksi gabah otomatis akan bertambah 10 persen dan yang hilang hanya sekitar dua persen saja.  Sebab, bila panen para petani hanya memotng padi mulai bawah terus dipukul-pukulkan padi tersebut ke tempat  yang hanya diberi alas maka padi atau gabah hasil rontokan tadi banyak yang hilang atau keluar  hingga 12 persen.

“Untuk itu, bila waktu panen petani menggunakan mesin potong dan  padinya juga digiling maka hasil produksi padi akan bertambah yakni kalau sebelum menggunakan msin rata-rata per Ha hasilnya 5,9 Ton. Diharapkan setelah dengan mesin akan meningkat/bertambah menjadi rata-rata 6,5 Ton/Ha, dan hasil ini ditargetkan pada tahun 2019  nanti sudah  berhasil.”

Pakde Karwo menambahkan, mengapa Pemprov  Jatim  mematok hasil produk beras/gabah tahun 2019  dengan hasil rata-rata per Hektarnya sebanyak 6,5 Ton. Karna pada tahun tersebut semua pembangunan waduk, barred  serta bendungan yang ada di Jatim yang jumlahnya semilan itu sudah selesai. Semilan waduk/barred dan bendungan itu antara lain; di Tulung Agung, Madiun, Bojonegoro, Nganjuk dan Madura serta Bondoeoso  sudah selesai. Sehingga Harapan pemerintah pusat bahwa Jatim  tetap menjadi lumbung nasionl bias terwujud.

Disamping selesainya pembangunan waduk dan bendungan, pemprov. Jatim akan memberikan bantuan hibah kepada para petani sebnyak 2.500  traktor dan mesin pemotong serta penggiling padi agar para petani Jatim bias meningkatkan hasil serta penghasilannya. Sebab, selama ini petani hanya mennam saja dan yang untung adalah pengusahanya. Setalah mendapat bantuan eralatan nanti, diharapkan petani tidak langsung  menjual gabah dari sawah melain di keringkan terus digiling menjdi beras dulu baru bias  dikual ke pasar sehingga hasilnya bias lebih besar.

Sebelum mengakhiri arahannya, Pakde Karwo minta semua yang hadir agar bersatu  dan satu suara untuk menolak beras import serta gula import. Tujuannya, agar hasil produksi yang melimpah di Jatim ini bias trjual dan tersalurkan semua. Dan yang diuntungkan adalah para petani bukan para pengusaha, sehingga taraf hidup petani bisa terangkat dan diperbaiki. (hery)

Teks foto:

– Gubernur Jatim, Dr. H Soekarwo, menghadiri dan memberikan sambutan serta pengarahan di acara Pelantikan DPC Se-Jatim di Pendopo Kabupaten Mojokerto.

– Gubernur Jatim, Dr. H Soekarwo, mengucapkan selamat para DPC HKTI di acara Pelantikan DPC Se-Jatim di Pendopo Kabupaten Mojokerto.