02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Muktamar NU di Jombang Harusnya Tampilkan Kesederhanaan

Surabaya, KabarGress.Com – Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Kabupaten Jombang yang rencananya berlangsung pada 1 – 5 Agustus mendatang, harusnya menampilkan kesederhanaan. Adanya kabar dari panitia pelaksana bahwa muktamar tersebut nantinya akan menelan dana senilai Rp15 miliar, tentu hal tersebut sangatlah berlebihan.

Sebagai organisasi Islam terbesar dan berbasis dikalangan masyarakat tradisional khususnya mereka yang berada dipedesaan, sangatlah ironi jika pelaksanaan muktamar menghabis dana yang cukup besar. Sementara disatu sisi dana yang lumayan itu bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi ummat atau jamaah NU yang masih banyak dihimpit soal ekonomi.
“Apalagi saya dengar dana itu rencananya tidak semuanya didapatkan dari sumbangan yang tidak mengikat, namun mengharapkan bantuan dari kantong kas Negara,” kata M Khoirul Rijal, Ketua Gerakan Penyelamat NU.
Di tengah kehidupan yang serba materialistis dan pragmatis ini, pelaksanaan Muktamar NU yang nantinya kembali pada spirit pesantren dan juga akan memanfaatkan sarana pesantren, seharusnya mengutamakan nilai kesederhanaan, kejujuran, pengabdian, gotong-royong, dan kebersamaan.
“Kembali secara spirit dan filosofis ini perlu disertai kembali secara fisik, karena dengan kembali ke pesantren, kita dihadapkan pada fasilitas seadanya, dilayani secara apa adanya. Tetapi dari sini kita bisa bangkitkan pola hidup sederhana dan kebersamaan,” katanya.
Sejarah mencatat, tahun 1983-1984 NU telah menyelenggarakan hajat nasional munas dan muktamar bertempat di pesantren di desa terpencil Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Kala itu NU menegaskan kembali ke Kittah 1926, dan menegaskan Pancasila dan UUD 1945 adalah harga mati. Tahun 1986 NU menyelenggarakan munas di Desa Kasugihan, Cilacap, Jawa Tengah, dan menelurkan gagasan besar mengenai pembangunan nasional dan konsep ijtihad, yang mampu menggerakkan dunia pemikiran Islam.
Pada 1987 NU menyelenggarakan munas di Bagu, sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Barat. Di situ NU mengeluarkan keputusan dibolehkannya perempuan menjadi presiden yang saat itu masih dianggap kontroversial. “Semuanya dikemas dengan sederhana, namun hasil muktamar yang diputuskan memberikan sumbangsih yang besar pada pembangunan bangsa,” katanya.
Dikatakannya, meskipun Muktamar NU nantinya akan dijadikan sebagai event Internasional dengan mengundang ulama-ulama dari sejumlah Negara, bukan berarti event Internasional itu harus menelan dana yang besar dan mewah. Justu dengan kesederhaan dan tampil apa adanya adalah spirit ajaran Islam dan akan menjadi tauladan bagi semua. “Bermuktamar tidak seperti event pertandingan olahraga semacam PON yang menelan dana cukup besar dan fasilitas high clas. Karena bermuktamar adalah bertukar gagasan dan pemikiran,” ujarnya.
NU Bertahan Karena Kesederhanaan Umat
Sejak jaman pendiri NU yakni KH Hasyim Asy’ari dahulu, sikap hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam segala hal merupakan ciri utama warga Nahdliyin. Dengan semangat itu pula, lanjutnya, NU mampu bertahan sebagai organisasi keagamaan hingga memasuki usia ke-90.
Kesederhanan dalam bersikap dalam kehidupan itu, membuat warga NU luwes bergaul dengan siapa saja. Sikap itu pula yang dituntunkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau menjadi pemimpin yang dicintai seluruh umatnya karena bersikap sederhana dan tidak berlebihan. Kesederhanan warga Nahdliyin juga ditunjukkan dengan sikap mencintai tanah air. Sebab, warga NU adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan sebaliknya, orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. Disisi lain, sikap sederhana warga NU itu saat ini tengah digerogoti oleh pihak-pihak lain yang menawarkan sesuatu yang berlebihan. Sehingga ada sebagian yang terpikat dengan hal-hal lain di luar khittah NU. (ro)