03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Masalah Gusi: ‘Silent Disease’ yang Kian Mengancam Masyarakat Indonesia

Jakarta, KabarGress.Com – Suatu hari, Maya, seorang karyawati swasta tercengang saat merasakan gigi gerahamnya tiba-tiba goyang. Padahal sebelumnya ia tidak merasakan gangguan yang berarti. Setelah ia berkonsultasi pada dokter, barulah ia ingat bahwa seringkali gusinya bengkak dan berdarah saat menyikat gigi. Tak pernah terbayangkan bahwa ternyata ia selama ini mengalami masalah gusi yang cukup parah.

Memang, permasalahan gusi biasanya terlewatkan karena seringkali masyarakat tidak menyadari bahwa ternyata mereka memiliki masalah gusi. Tidak seperti masalah gigi berlubang atau masalah gigi bungsu yang seringkali menimbulkan rasa sakit pada penderitanya, masalah pada gusi pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit. Sebuah organisasi ahli kesehatan gigi dan mulut bidang periodontologi di Amerika Serikat (American Academy of Periodontology, 2013) mengungkapkan bahwa pada banyak kasus, tahap awal dari penyakit gusi dan periodontal (jaringan pendukung gigi) seringkali tanpa gejala rasa sakit; banyak orang dewasa menderita penyakit ini dan mereka tidak mengetahuinya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Drg. Sandra Olivia, MARS, SpPerio., bahwa “Permasalahan gusi seringkali menjadi sebuah dilema yang disebut sebagai ‘silent disease’. Hal ini dikarenakan pada kasus-kasus yang sering terjadi, kebanyakan pasien tidak menyadari ketika mereka sedang mengalami permasalahan gusi atau periodontal. Banyak pasien yang tiba-tiba datang ke dokter gigi dalam kondisi gigi yang sudah goyang, atau bahkan sudah tanggal, tanpa pernah mengalami rasa sakit pada gusi atau giginya.”

Saat ini, permasalahan gusi kian menjadi ancaman kesehatan yang nyata di Indonesia. Sebuah riset memperlihatkan bahwa 5 dari 10 penduduk Indonesia pernah mengalami masalah gusi (Synovate AsiaBus, 2011). Sedangkan sebuah studi lainnya (dengan komponen riset yang berbeda) menunjukkan bahwa jumlah penderita gusi bermasalah di Indonesia kini semakin meningkat, dari 19% di tahun 2012 (IPSOS Consumer Tracking, 2012) menjadi 28% di tahun 2013 (IPSOS Consumer Tracking, 2013).

Angka yang memprihatinkan ini memperlihatkan bahwa masih banyak orang Indonesia belum memahami atau menganggap penting kesehatan gusinya.

Selain dikarenakan oleh faktor “silent disease” tadi, rendahnya perhatian masyarakat akan kesehatan gusi juga disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gusi. Padahal, gusi merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan gigi dan mulut karena gusi berperan sebagai proteksi sekaligus penyangga bagi gigi. Gusi yang sehat bisa berfungsi dan melekat dengan baik pada gigi yang terhubung oleh lapisan penyangga. Oleh karena itu, kesehatan gusi harus menjadi prioritas untuk menunjang kesehatan gigi dan mulut secara optimal.

Meskipun seringkali tidak menimbulkan rasa sakit, sebenarnya masalah pada gusi dapat diidentifikasi dengan mengenali tanda-tanda tertentu. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu dikenali untuk mengidentifikasi adanya masalah gusi sejak dini:

Gusi berdarah: gusi berdarah umumnya diketahui ketika seseorang melihat adanya darah saat membuang ludah usai menyikat gigi. Lebih lanjut Drg. Sandra menjelaskan, “Banyak yang mengira bahwa gusi yang berdarah itu disebabkan oleh penyikatan gigi yang terlalu keras, ataupun penggunaan bulu sikat gigi yang terlalu kasar. Namun hal ini sebenarnya kurang tepat.

Gusi berdarah sebenarnya disebabkan oleh plak yang menumpuk pada pangkal gigi yang kemudian menekan gusi sehingga membuat gusi mengalami radang dan mudah mengeluarkan darah apabila terkena sentuhan ringan, seperti saat tersentuh sikat gigi.”

Gusi memerah: ciri gusi sehat adalah berwarna pink atau merah muda. Bila warna gusi merah, putih, atau malah kebiruan, itu artinya ada kemungkinan masalah pada gusi

Gusi sering membengkak: gusi terlihat lebih gemuk dan menonjol dari biasanya

Bau mulut (halitosis)

Resesi gingiva atau gusi turun, sehingga gigi tampak memanjang dari sebelumnya

Apabila tidak ditangani dengan seksama sejak dini, permasalahan pada gusi akan menimbulkan masalah pada jaringan periodontal (jaringan pendukung gigi), yang mengacu pada infeksi bakteri kronis pada gusi dan tulang penyangga gigi. Untuk itu, kita perlu lebih cermat mewaspadai tahap perkembangan penyakit periodontal, yaitu:

Penumpukan plak pada gusi sehat: Plak yang terbentuk dari bakteri dan sisa makanan, yang dapat menyebabkan gusi mengalami peradangan dalam 2 hingga 4 hari

Gingivitis (gusi bengkak): Kondisi perubahan klinis yang dapat terlihat dari pembengkakan gusi.

Selain itu, gusi mulai berwarna merah dan bahkan berdarah saat kita menyikat gigi Periodontitis (kerusakan tulang penyangga gigi): Kondisi infeksi gusi tahap lanjut disebabkan oleh bakteri pathogen. Kondisi ini merusak jaringan lunak yang lambat laun dapat mengganggu tulang penyangga gigi yang berada didalam gusi, sehingga dapat menyebabkan gigi menjadi goyang. Apabila kondisi ini tidak ditindak-lanjuti, maka akan menyebabkan gigi tanggal.

Permasalahan pada jaringan periodontal tentunya dapat dicegah dan dirawat. Berikut beberapa tips untuk menjaga kesehatan gusi:

Menyikat gigi sekurang kurangnya dua kali sehari: Lebih baik setelah sarapan pagi hari dan malam hari sebelum tidur, menggunakan pasta gigi dengan bahan-bahan khusus yang mampu mengangkat plak yang terbentuk pada gigi.

Parodontax merupakan pasta gigi sehari-hari dengan kandungan 70% bahan-bahan khusus, yang terdiri dari garam mineral dan ekstrak herbal yang secara simultan mampu merawat dan mencegah permasalahan gusi. Kandungan garam mineral (sodium bicarbonate) pada pasta gigi

Parodontax, teruji secara klinis dapat membantu mencegah dan mengangkat penumpukan plak yang merupakan penyebab awal masalah gusi, secara efektif.

Gunakan bulu sikat gigi yang lembut: Bulu sikat yang kasar dan tekanan yang terlalu keras pada gusi dapat menyebabkan kerusakan struktur gigi serta mengiritasi gusi

Konsumsi makanan bergizi: Makanan yang mengandung vitamin C dan kalsium. Kedua zat ini sangat berguna untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi

Minum cukup air putih: Minum air yang cukup setelah makan akan sangat membantu dalam membersihkan sisa-sisa makanan pada gigi dan gusi sehingga mengurangi jumlah bakteri yang tertinggal

Hindari merokok: Pada umumnya, kondisi gusi pada orang yang merokok lebih rentan terhadap infeksi karena tembakau menyebabkan berkurangnya oksigen di aliran darah sehingga dapat menghambat aliran darah dan nutrisi ke jaringan gusi. Hal ini dapat mempengaruhi lemahnya mekanisme pertahan tubuh dan membuat gusi menjadi lebih rentan terhadap infeksi

Memeriksakan gigi secara rutin setidaknya 6 bulan sekali untuk mendeteksi gangguan sejak dini dan mencegah permasalahan gusi berlanjut ke tingkat yang lebih parah. (ro)