31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Rangkaian 4 Teknologi untuk Bumi Persembahan Mahasiswa UKWMS

rangkaian-4-teknologi-untuk-bumi-persembahan-mahasiswa-ukwms-1rangkaian-4-teknologi-untuk-bumi-persembahan-mahasiswa-ukwms-2rangkaian-4-teknologi-untuk-bumi-persembahan-mahasiswa-ukwms-lagiSurabaya, KabarGress.com – Setiap tahun, Indonesia selalu mengalami bencana kabut asap yang tidak hanya merugikan penduduknya sendiri namun juga penduduk di negeri tetangga. Dampak masalah asap ini tak jarang mengakibatkan kerugian di berbagai bidang yang bernilai hingga ratusan milyar rupiah.

Masalahnya, bencana ini rutin terjadi dan sulit dihindari karena setiap tahunnya terjadi pembukaan lahan baru ataupun kemarau panjang. Prihatin akan hal itu, Erlinawati Halim mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala (JTE UKWMS) berinisiatif untuk membuat alat filtrasi asap yang unik.

“Alat ini dilengkapi dengan sensor gas yang akan mendeteksi gas Karbon Monoksida (CO) dengan batasan konsentrasi yang bisa diatur untuk memfiltrasi asap yang ada di sekitar,” ujarnya.

Setelah disaring menggunakan filter karbon aktif, asap itu kemudian dikembalikan ke udara sebagai gas dengan kadar CO sesuai standar kesehatan. Alat yang digagas oleh mahasiswi dalam bimbingan Lanny Agustine ST. MT., dan Andrew Joewono ST., MT., ini dirancang untuk bekerja secara otomatis hingga udara di sekitarnya memenuhi standar kesehatan.

Sistem removal smoke atau penyingkir asap dijalankan dengan sensor mq7. Kelebihan dari karya ini adalah sistem canggih tersebut bisa dibuat sederhana walaupun tetap otomatis. “Sistem ini bisa dijalankan tanpa sensor, namun tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai penyaring asap,” ujar Andrew.

Penyederhanaan tersebut adalah alternatif tindakan yang bisa dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat daerah yang tidak selalu siap dengan anggaran yang memadai.

Selain asap, Indonesia juga kerap dilanda masalah air keruh. Tidak hanya terjadi di musim hujan di mana air sungai seringkali menjadi keruh, pada saat musim kemarau sekalipun air yang mengalir ke rumah tangga masyarakat juga keruh karena membawa endapan lapisan tanah dari tempat pengolahan air. Kekeruhan yang acap dianggap sepele ini tak jarang merupakan sumber penyakit.

“Oleh sebab itu, perlu dibuat alat pendeteksi kekeruhan air yang akan memonitor air sedotan dan mematikan aliran secara otomatis apabila air yang tersedot keruh melebihi batasan kesehatan yang sesuai dengan aturan kesehatan negara,” ujar I Gede Andi Cliff yang mendapatkan ide inovasinya di bawah bimbingan Andrew.

Kelebihan lain dari alat ini adalah dapat dipasangkan pada semua jenis ataupun merek pompa air yang ada di pasaran tanpa merubah apalagi merusaknya.

Tidak hanya masalah asap dan air keruh, mahasiswa JTE Fakultas Teknik UKWMS juga memikirkan perlunya penghijauan tetap dilakukan meski semakin lama lahan untuk bercocok tanam semakin jauh dari jangkauan. Adalah sistem pertanian vertikultur otomatis penyiraman dan pemupukan yang digagas oleh Donna Dominica di bawah bimbingan Andrew dan Yuliati S.Si., MT.

Keunikan alat ini adalah adanya sensor kelembaban tanah yang bekerja untuk memantau kondisi tanah dan menentukan tindakan alat untuk menyiram sesuai kebutuhan. Alat ini bahkan memiliki sistem penyiraman pupuk cair yang bisa diprogram sesuai periode. Alat yang dijalankan dengan listrik ini bahkan masih bisa dimodifikasi dengan tenaga surya sebagai sumber tenaganya.

Selanjutnya adalah penyempurnaan dari komposter tenaga surya karya Andrew Joewono dan Lanny Agustine yang beberapa bulan lalu dianugerahi sebagai Juara ke III pemenang Lomba Teknologi Tepat Guna tingkat Kota Surabaya. Dibuatlah Komposter Tenaga Surya oleh Dimas Fredy Arisandi dengan kemampuan mencincang sampah dengan lebih halus untuk bahan kompos. Menggunakan sistem anaerob putaran, sehingga dapat menghasilkan kompos siap pakai hanya dalam waktu 5-7 hari.

“Alat ini akan melakukan perajangan sampah organik dan melanjutkan proses pengkomposan secara otomatis dengan melakukan pengadukan dan pendinginan suhu apabila terlalu tinggi, secara otomatis,” ujar Dimas tentang karyanya.

Kompos yang dihasilkan oleh komposter tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk media vertikultur alias vertimina. Selain kompos, Dimas yang juga mahasiswa di bawah bimbingan Andrew dan Yuliati ini masih ingin memodifikasi lebih lanjut karyanya ini agar dapat pula digunakan untuk menghasilkan pakan ternak terfermentasi yang belakangan meningkat permintaannya sebagai persiapan kemarau panjang. (ro)