31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Mewaspadai Anti Pancasila dan Komunisme di Sosmed

Oleh: Sugiharto

foto-sugih2Jangan anggap ‘kehidupan’ di media sosial (sosmed) cuma isapan jempol. Buktinya, banyak komentar, hujatan, keluhan, menanggapi berbagai masalah  pribadi hingga persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Intinya kehidupan di sosmed layak untuk dicermati, ditauladani dan diwaspadai. Misal baru-baru ini, saya menerima  pesan dari Zastro Al Ngatawi, orang dekat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden RI ke-4 di akun jejaring sosial saya. Budayawan ini prihatin dan resah terhadap nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme.

Ini statusnya: “Bangsa ini apa selalu jadi tempat pembuangan sampah ya? Komunis sudah jadi sampah di tempat lain, disini malah dikagumi dan jadi icon pemikiran para aktivis yg heroik. (Zastro menyebut salah satu kelompok aliran Islam, menyebut penganut khilafah)….. Sudah dibuang dan dilarang di negara-negara asalnya, disini malah mau dipuja-puja jadi alat mengkapling surga dengan mengkafirkan sesama atas nama Tuhan. Belum puaskah bangsa ini mengunyah sampah dan mencampakkan warisan leluhur yg adiluhung? Kapan berhenti jadi pemulung ide dan sampah ideologi dari bangsa lain?” Itulah kegalauan Zastro Al Ngatawi terhadap lunturnya. Lain Zastro, lain lagi pesan satu ini. Sebuah pesan  memprihatinkan di sosmed akun saya.  Pesan seorang pria yang benar-benar tidak menghayati makna kemerdekaan.

Ini yang diungkapkan: “Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  tidak penting, Pancasila tidak penting!  Yang penting itu akhlak, yang penting  tidak korupsi, yang  penting prilakunya. Kiai yang menjadi guru saya tidak pernah bicara soal NKRI dan Pancasila,  tapi mengajarkan akhlak, ibadah, perbuatan baik dan lainnya.”

Komentar itu cerdas tapi keblinger, cenderung sesat. Bisa saja meracuni pikiran yang membacanya. Untuk itu perlu saya tanggapi dengan beberapa hal:

Pertama: Kepada pria itu saya bertanya apakah kita ini termasuk manusia yang sudah tidak mau bersyukur? Bangsa ini sudah merdeka, tapi masih ada yang  ingin merdeka lagi. Itu sama saja: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13).

Padahal negeri yang mendapat  kemerdekaan adalah berkah-rahmat (tersebut di Pembukaan UUD 1945) yang sangat luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Berkah itu ‘menuntut’ pemimpin dan umat-Nya (warga negara) terus berikhtiar  agar negerinya menjadi  Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur. Negeri tenteram, damai dan penuh berkah.

Kedua: Benar, kejujuran sangat penting. Orang tidak boleh korupsi. Setiap orang harus berperilaku sesuai dengan tuntunan agamanya dan norma masyarakat. Tetapi meskipun ada ketidakjujuran, korupsi merajalela, ada perilaku tidak baik, ada ketidakadilan, maka NKRI harus tetap berdiri kokoh, Jangan bermimpi mencari dan  menerapkan ideologi lain dalam sistem formal. Nah, apabila memaksakan diri berarti merusak tatanan NKRI yang berideologi Pancasila.

Ketiga, perlu dipahami NKRI dan perumusan Pancasila tak lain juga hasil perjuangan para ulama besar. KH Wahid Hasyim, A. Kahar Moezakir dan lainnya. Kemudian disetujui oleh KH Hasyim Asy’ari. Para ulama sepuh nusantara pendiri bangsa ini paham dalil-dalil Al Qur’an, dan hadist tentang khilafah dan syariat Islam, sehingga menerima Pancasila sebagai dasar negara, dan NKRI sebagai bentuk negara. Mereka memperjuangkan Islam tetapi tidak membentuk khilafah dan Syareat Islam dalam sistem formal negara. Mereka sangat memahami ayat-ayat khilafah dan syariah dengan pemahaman, ijtihad,  kearifan dan keikhlasannya. Yang pasti para ulama juga menolak tegas komunisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Karena itu, gerakan anti NKRI, gerakan anti Pancasila dan komunisme di dunia maya sosmed maupun dunia nyata harus diwaspadai, dihentikan dan ditangkal sejak dini. Sehingga tidak jadi duri dan persoalan di masa depan. Harus ada gerakan nyata, serentak  mulai daerah hingga nasional. Ini demi masa depan anak-anak kita. Demi  keselamatan, kelestarian dan kepentingan NKRI yang berideologi Pancasila! Bukankah kekacauan dan penderitaan sejumlah negara di Timur Tengah bisa jadi cermin bagi bangsa Indonesia? (*)

Penulis: Dosen Sekolah Tinggi  Ilmu Tarbiyah (STIT) Islamiyah ‘KP’ Paron Ngawi dan Fungsionaris Pemuda Pancasila Kab. Ngawi.