02/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Ketersediaan Daging Sapi di Jatim Aman

* Dinas Peternakan Berikan Stimulan Kepada Peternak

Wagub Jatim Saifullah Yusuf saat melihat juara  ternak sapi di Kontes Ternak se Jatim yg digelar di Stadiun Surajaya Kab.LamonganSurabaya, KabarGress.com – Ketersediaan daging sapi di Jatim selama bulan Puasa  sampai setelah Hari Raya Iedul Fitri 1436 H, dalam posisi aman. Penegasan ini disampaikan Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir. H. Maskur, MM. “Posisi ketersediaan sapi kita tercukupi, dalam 4 bulan ke depan,” kata Kadisnak Maskur dalam kesempatan Presskonferen, didampingi Kabid Keswan drh. Kusnoto, Rabu (1/7/2015).

Demikian erat kaitannya dengan harga daging sapi diprediksi tidak bakal terjadi lonjakan harga signifikan. Untuk harga daging sapi saat ini Rp95 – 97 ribu/kg. Harga memang akan merambat naik, kenaikannya biasanya akan mulai berlaku pada H-7 sampai H +7. “Harga daging menjelang dan sesudah lebaran, kisaranya Rp97 – 100 ribu, atau paling banter Rp105 ribu/kg,” imbuhnya.

Dengan harga daging tersebut secara keekonomian dinilai masih akan mampu dijangkau oleh masyarakat. Apalagi masalah ekonomi juga yang terjadi saat ini juga berpengaruh pada daya beli masyarakat. Masyarakat, bisa saja tidak banyak mengonsumsi daging sapi pada lebaran, mereka akan beralih pada unggas, ayam dan mungkin daging kambing. Lantaran, harga ayam dan daging kambing relatif lebih murah, dan mampu dijangkaunya.

Posisi ketersediaan daging sapi di Jatim, sebelum hingga setelah lebaran masih dalam kondisi aman, karena didukung pertumbuhan populasi sapi potong yang terus berkembang. Pemerintah, ungkap Maskur, terus mengembangkan kebijakan agar populasi sapi potong maupun sapi perah terus berkembang Pemprov Jatim juga melakukan penetapan kebijakan-kebijakan lain strategis.

Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir. H. Maskur, MMDiantaranya pelaksanaan program optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) Sejuta Akseptor Sapi, pengembangan wilayah sumber bibit sapi, serta pengendalian pemotongan sapi dan kerbau betina produktif dengan Perda No. 3 Tahun 2012. “Juga dengan mengendalikan pengeluaran ternak sapi potong dan sapi perah melalui rekomendasi berat badan minimal sapi yang keluar Jatim,” jelasnya.

Sedangkan potensi populasi sapi potong di Jatim tahun 2014 mencapai 4,12 juta ekor. Terdiri dari jenis sapi potong Peranakan Ongole (PO), Sapi Madura dan persilangan hasil Inseminasi Buatan (Kawin Suntik). Jumlah populasi tersebut merupakan populasi terbesar di Indonesia, yang berkontribusi 32% terhadap populasi nasional. Berdasar potensi pertumbuhan populasi tersebut, kebutuhan daging bagi masyarakat Jatim akan dapat terpenuhi.

Lebih lanjut disampaikan, total ketersediaan (supplay) ternak potong dari Jatim tahun 2015 adalah sebanyak 916.240 ekor. Adapun kuota supplay ternak potong ke DKI Jakarta ialah 119.000 ekor, Provinsi Jabar sebanyak 104.262 ekor, Provinsi Banten sebanyak 34.695 ekor, dan kebutuhan BUMN dan provinsi luar pulau sebanyak 52.043 ekor. “Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan pemotongan di Jatim dibutuhkan 477.040 ekor dengan jumlah pemotongan rata-rata 1.300 ekor per hari,” imbuhnya.

 

Subsidi

Dalam kerangka menjaga pertumbuhan populasi sapi potong dan sapi perah, sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan, Pemprov Jatim senantiasa berupaya meningkatkan motivasi dalam berusaha, dalam bentuk stimulan usaha sub bidang peternakan. Subsidi untuk pengembangan peternakan tersebut diharapkan akan mampu menggeliatkan usaha peternakan di Jatim.

Sapi Jawa TimurSubsidi yang diberikan kepada peternak, merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada petani peternak. Dengan subsidi tersebut peternak di Jatim akan tumbuh dan berkembang, dimana dengan berkembangnya usaha peternakan gilirannya nanti, upaya menjaga pertumbuhan populasi sapi dapat diwujudkan lebih cepat, sesuai program yang dicanangkan.

“Subsidi tersebut bisa berupa bantuan pakan ternak, bibit, ataupun modal usaha. Dan, subsidi yang sama juga diberikan oleh negara-negara yang relatif maju kepada peternaknya. Apalagi negara berkembang seperti kita, subsidi bagi peternak sangat penting,” tambah dia.

Agar subsidi yang diberikan itu dapat digunakan secara benar dan efektif, Dinas Peternakan selaku SKPD Pemprov Jatim juga secara berkelanjutan melakukan pembinaan kepada para peternak. Pembinaan dilakukan meliputi pengelolaan ternak yang benar, pemberian pakan yang sesuai, serta sistem pemeliharaan kesehatan ternak yang benar.

“Pengelolaan ternaknya baik, pakan yang diberikan kualitasnya baik, dan cukup, kebersihan dan kesehatan ternak diperhatikan, tentunya akan mampu mendorong tumbuh serta berkembangnya populasi ternak milik para peternak tersebut,” ujarnya.

H. MaskurDisamping pembekalan diberikan kepada peternak, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan peternak juga dibuat regulasi yang berpihak pada peternak. Meski regulasi yang dibuat berpihak peternak, untuk suksesnya usaha peternakan digeluti peternak, para peternak juga harus bekerja keras. Jangan sampai subsidi yang diberikan itu kemudian disalahgunakan. Misalnya, bibit ternak bantuan pemerintah yang belum cukup umur harus dipelihara secara baik dan benar, jangan sampai dijual, meski dengan alasan apapun. Untuk itu peternak harus bekerja keras, agar menghasilkan ternak yang berkualitas. Sebab, dengan ternak yang dipeliharanya berkualitas prima akan mampu bersaing dalam pasar global.

Mengenai target kelahiran pedet sapi, lanjutnya, tahun 2015 mencapai 1,15 juta ekor. Target itu tentunya untuk memenuhi target pemotongan sapi di Jatim sebanyak 553 ribu ekor, dan kontribusi ke provinsi lain melalui pengeluaran sapi sebanyak 310 ribu ekor. Dengan demikian diharapkan pada 2015 ini terjadi peningkatan populasi sebanyak 239 ribu ekor (6,26%) atau menjadi 4,38 juta ekor. “Seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan daging baik di DKI Jakarta maupun provinsi lainnya. Kami berharap melalui target tersebut Jatim mampu terus mensupplay kebutuhan daging nasional,” harapnya.

Sementara itu, terkait ditemukannya peredaran daging oplosan celeng dan sapi di beberapa tempat, Dinas Peternakan, tegas Maskur, telah bekerjasama dengan aparat kepolisian. “Untuk temuan kasus daging oplosan celeng dan sapi, sudah kita serahkan ke Polisi,” tuturnya.

Masih kata Maskur, sebenarnya berdasar aturan perundangan, perdagangan daging babi, celeng itu diperboleh. “Yang tidak boleh itu, ingin memperoleh untung banyak lalu mengoplos daging celeng dengan daging sapi. Itu pemalsuan, dan itu yang tidak boleh. Jadi, mindset kita harus dirubah,” kata Maskur, seraya menambahkan, untuk mencegah meluasnya peredaran daging celeng, pihaknya bekerjasama dengan daerah telah menerjunkan stafnya menjaga di beberapa titik pintu keluarnya daging celeng itu. (hery)

Teks foto:

– Wagub Jatim, Saifullah Yusuf, bersama Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir. H. Maskur, MM, saat melihat juara ternak sapi di Kontes Ternak se Jatim yang digelar di Stadion Surajaya Kab. Lamongan.

– Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir. H. Maskur, MM.

– Salah satu peternakan sapi bibit unggul.