UKWMS & Alumni Curtin University Bahu Membahu Menginspirasi Masyarakat

Surabaya, (UKWMS-11/2/2018), KabarGRESS.com – Sejak dibentuknya Curtin University Alumni Chapter Indonesia (CUACI) pada bulan Agustus 2017 yang lalu, kelompok ini serius memikirkan bagaimana menggalang alumni untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia sesuai dengan keahlian dan kompetensi yang dimiliki. “Kolaborasi dimungkinkan bila ada sarana untuk mengetahui tentang profesi masing-masing sekaligus menjadi ajang untuk belajar bersama,” ujar Josephine MJ Ratna, MPsych, Ph.D dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) selaku Presiden terpilih CUACI 2017-2019.

Curtin University, universitas yang memiliki kampus utama di Perth – Western Australia dan kampus lainnya di Singapore dan Malaysia ini merupakan jujugan bagi banyak warga Indonesia untuk studi lanjut mulai dari tingkat S1 sampai dengan S3. Data kasar alumni Curtin University yang berasal dari Indonesia adalah sekitar 6.500 orang dan jumlah ini pun masih belum akurat sehingga registrasi data alumni masih terus disempurnakan, salah satunya melalui CUACI. Josephine sendiri seorang praktisi Psikolog Klinis yang menyelesaikan jenjang S2 dan S3-nya di Curtin University kampus Perth. Ia menekankan “Alumni Curtin University di Indonesia banyak yang menduduki posisi strategis di berbagai bidang dan sudah saatnya saling berkolaborasi dan berkontribusi bagi bangsa lewat berbagai keahlian yang mereka miliki”.

Didukung oleh MoU antara UKWMS dengan Curtin University yang telah ditandatangani sebelumnya pada tahun 2016, dan dengan semangat berkobar untuk berkolaborasi serta berkontribusi; maka diadakanlah CUACI Inspiring Talks 2018. “Memang UKWMS punya perjanjian kerjasama dengan Curtin University seperti contohnya student articulation program yang artinya mahasiswa antara kedua kampus dapat melakukan pertukaran sekaligus mengambil beberapa matakuliah yang nantinya dapat diakui di masing-masing universitas,” ujar Erlyn Erawan Psy.D selaku Kepala Kantor Urusan Internasional. Dalam pertemuan perdana di bawah bendera CUACI tersebut, sejumlah kurang lebih 80 alumni Curtin University berkumpul dari berbagai penjuru tanah air. Dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 2018 di Auditorium Benedictus lantai 4 Kampus Dinoyo UKWMS Jalan Dinoyo nomor 42-44 Surabaya, CUACI Inspiring Talks 2018 berlangsung dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 17.00.

Dikemas secara padat, selain pertemuan sepanjang tujuh jam, diadakan pula kuliah tamu di mana mahasiswa berbagai jurusan UKWMS ditantang oleh Professor Sambit Datta selaku pembicara dari Curtin University. Beliau adalah seorang ahli dalam penerapan teknologi komputasi dan digital dalam arsitektur. Tema yang dibawakan adalah ‘World Class Innovation and Research Commercialisation’ atau Inovasi Kelas Dunia dan Komersialisasi Riset. “Memanfaatkan inovasi teknologi menjadi tantangan bagi masyarakat dan lingkungan. Diskusi ini berfokus pada peranan desain yang meluas seiring penyesuaian atas perubahan teknologi. Dalam perkuliahan umum di hadapan mahasiswa ini, Prof. Sambit Datta menggunakan rancangan penelitian dari arsitektur, desain urban dan proyek-proyek warisan budaya, kita akan mengekplorasi kemungkinan akan rancangan teknologi antar muka berupa dijital-fisik,” ujarnya. Menggaris bawahi transformasi dari desain tersebut, Prof. Sambit Datta dan peserta kuliah juga membahas tentang proses yang dilalui dari meluasnya peranan atas informasi dan alat-alat yang digunakan untuk memprosesnya. Mereka bahkan memperkirakan kemungkinan-kemungkinan ke depan terkait integrasi sosial, spasial serta rancangan lingkungan yang melibatkan inovasi teknologi.

“Saya berbicara mengenai masa depan. Karena anda para mahasiswa sekarang belajar dalam mempersiapkan masa depan. Sekitar 20 atau 30 tahun ke depan kalian akan bertumbuh dan memulai karir baru, terjun dalam profesi, serta mengembangkan berbagai kemampuan yang akan berbeda jauh dari 30 tahun yang lalu,” ujarnya. Ia pun menambahkan; dalam menyongsong masa depan kita harus bersiap berubah dan menyesuaikan diri dengan berbagai inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence). “Kita semua tahu ada banyak hal yang dapat dikerjakan oleh mesin dengan lebih baik daripada manusia. Maka apa yang akan kita lakukan dengan hal itu?” tantangnya pada ratusan mahasiswa peserta kuliah tamu dari UKWMS. Sebelum membahas materi lebih jauh, Prof Sambit mengawali dengan sebuah contoh sederhana; jika dahulu sebuah gelas kaca yang indah harus melalui proses pembuatan yang rumit oleh pengrajin dengan kemampuan khusus, sekarang hanya dengan printer 3D sudah bisa, hal ini tentu adalah perubahan besar.

Lebih lanjut ia juga mengungkapkan bahwa dunia pendidikan, khususnya kampus juga harus beradaptasi. Curtin University di Perth, Australia berusaha mengaplikasikan hal ini di area kampusnya. “Kami coba membayangkan bagaimana Curtin dalam 30 tahun kedepan, sebuah ‘kota pintar’ di mana mahasiswa bisa mengeksplor banyak hal. Teknologi diaplikasikan dalam bentuk-bentuk seperti sensor suhu, cuaca dan lainnya, tersedia pula tempat hiburan seperti teater, café yang juga bisa berfungsi sebagai tempat pembelajaran, orang-orang bisa tinggal, belajar hingga bekerja di sana. Kami ingin mengubah kampus menjadi sebuah kota. Saya yakin hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia,” jelasnya.

Tak hanya itu, teknologi juga dapat digunakan untuk tempat-tempat budaya dan sejarah termasuk sebuah pulau dengan cara menangkap data dari objek untuk kemudian diukur secara dijital agar dapat dipelajari dan diperbandingkan hasilnya. “Ke depan dalam mengembangkan teknologi dibutuhkan berbagai disiplin ilmu, sehingga mahasiswa bisa belajar dan saling mendukung masing-masing hal,” jelas Prof Sambit. Hal senada ditekankan pula oleh Josephine, “saat ini sudah bukan lagi era kompetisi, jadi ini saatnya kita semua berkolaborasi menggunakan apa yang kita miliki dan dapatkan dari proses belajar kita di luar negeri untuk bekerja sama dengan universitas dalam negeri seperti UKWMS agar pengetahuan ini bisa dinikmati oleh masyarakat”.

Sementara itu, Associate Professor Simon Leunig membuka mata alumni tentang perkembangan kampus dan bagaimana kolaborasi yang selama ini dilakukan Curtin University di Indonesia dan negara-negara lain. Hadir pula Konsul Jenderal Australia di Surabaya Mr. Chris Barnes serta Komisioner dan perwakilan dari Pemerintah Australia Barat Ms. Jennifer Mathews sebagai bentuk dukungan atas CUACI dan kerjasama UKWMS dengan Curtin University.

Demikian artikel pers rilis ini kami sampaikan, terima kasih atas kehadiran rekan-rekan wartawan dalam meliput CUACI INSPIRING TALKS 2018. Besar harapan kami agar informasi ini dapat disebarluaskan dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas. (ro)

Leave a Reply


*