Psikoedukasi untuk Kota Surabaya

Surabaya, KabarGRESS.com – Dalam rangka memperingati HUT Kota Surabaya ke-724 tahun sekaligus Dies Natalis Fakultas Psikologi Ubaya ke-35, mahasiswa Psikologi Universitas Surabaya menggelar acara Psikologi untuk Kota Surabaya. Psikologi untuk Kota Surabaya merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap fenomena kekerasan seksual, penculikan terhadap anak, dan pergaulan bebas.

Para mahasiswa memberikan edukasi terkait seksualitas, cara menjaga diri serta adanya ancaman eksternal kepada anak-anak jalanan SD dan SMP. Edukasi dengan mendongeng menggunakan alat peraga yang menarik menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan. Psikologi untuk Kota Surabaya akan diselenggarakan pada Minggu, 14 Mei 2017 pukul 13:30-16:00 di Jalan Lumumba Dalam RT/RW 01/01 Ngagel, Wonokromo, Surabaya (Sebelah kanan pintu air Wonokromo dari arah Jagir menuju DTC).

Belasan mahasiswa Psikologi Ubaya yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi divisi Pendidikan Sosial dan Inovasi, bekerja sama dengan Rumah Belajar Pandawa (RBP) yang merupakan komunitas yang fokus dan peduli terhadap permasalahan anak-anak jalanan di daerah Wonokromo. Seksualitas menjadi masalah yang perlu diperhatikan karena akan berdampak pada perkembangan anak-anak sebagai generasi muda.

“Dari masalah yang ada itulah timbul keinginan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak sebagai bentuk pencegahan terjadinya hal yang sama pada generasi yang lebih muda,” ungkap Desvihane Sharcia Padengge, selaku koordinator acara Psikologi untuk Kota Surabaya.

Sebanyak 35 anak-anak jalanan yang terdiri dari 30 anak SD dan 5 anak SMP akan dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan usia. Ada 3 aspek yang ingin dicapai yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk aspek kognitif, anak-anak akan diberikan pengetahuan mengenai bagian-bagian tubuh yang perlu dijaga, hingga situasi-situasi yang dianggap mengancam dan harus dihindari oleh anak-anak.

Dari aspek Afektif, panitia akan mendongeng bagi anak-anak, ada 8 cerita dengan tema besar “Aku Pahlawan”. Pada sesi ini, anak-anak dibagi lagi dalam kelompok kecil yang berisi 3-4 orang dengan masing-masing 1 kakak panitia, untuk melakukan diskusi dan sharing. Pada aspek psikomotorik, anak-anak akan diajarkan berbagai teknik cara mempertahankan diri saat berada dalam situasi yang mengancam.

“Tema dongeng yang dipilih adalah “Aku Pahlawan”, tema ini dipilih untuk mengajarkan pada anak-anak bahwa dirinya dapat menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri dan dapat melindungi dirinya sendiri,” jelas Desvihane Sharcia Padengge.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa diminta melakukan pendampingan berupa pembekalan kepada anak-anak di daerah Wonokromo sebagai bentuk pengabdian masyarakat di kota Surabaya yang membutuhkan pendampingan psikologis. Tentunya mahasiswa bisa mengaplikasikan materi-materi yang sudah didapatkan selama perkuliahan juga,” ungkap Nurlita Endah Karunia, S.Psi., M.Psi., selaku dosen pembimbing. (ro)

Leave a Reply


*