22/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Perempuan Jatim Mesin Penggerak Ekonomi

Pakde Karwo, Gus Ipul, Ketua Umum PP Muslimat, Ketua DPRD, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim membuka Konferensi Wilayah Muslimat NU Jawa Timur Periode 2010-2015 di Hotel Solaris Malang (1)-800x531Malang, KabarGress.com – Peran perempuan Jatim sangat penting menjadi mesin penggerak ekonomi di Jatim. Perempuan mampu meningkatkan perekonomian dan pembangunan di Jatim. Tidak hanya sebagai mesin penggerak, tetapi perempuan juga mampu menjadi pelaku ekonomi dan pembangunan di Jatim. Berbagai organisasi perempuan termasuk di dalamnya Muslimat NU Jawa Timur. Sehingga kebijakan pengarustamaan gender menjadi sebuah prioritas pembangunan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo saat Konferensi Wilayah Muslimat NU Jawa Timur Periode 2010-2015 di Hotel Solaris Malang, Jumat (8/1) sore.

Ia mengatakan, secara umum peran perempuan sangat penting sekali. Program Pemprov Jatim terhadap gender menjadi prioritas. Salah satu faktor perekonomian Jatim tumbuh dikembangkan oleh lembaga keuangan mikro (LKM) perempuan seperti koperasi, konvensional koperasi syariah.

“Kuatnya sebuah negara, majunya sebuah daerah itu tergantung dari perempuan. Untuk itu, Pemprov Jatim terus mendorong ekonomi perempuan sejak tahun 2012. Dari 4,2 juta UMKM meningkat menjadi 6,8 juta UMKM. Ini disebabkan karena adanya peran perempuan dalam pengembangan ekonomi di Jatim,” jelas Pakde Karwo sapaan lekatnya.

Dalam paparannya, Pakde Karwo menjelaskan, Pemprov Jatim terus mendorong dan memfasilitasi upaya pengurangan kemiskinan perempuan melalui Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (Jalin Matra) penanggulangan feminisasi kemiskinan (PFK).

Sasaran Jalin Matra PFK yakni kepala rumah tangga perempuan (KRTP) sebanyak 152.343 rumah tangga, usia produktif (15-65 tahun) sebanyak 129.904 rumah tangga, anggota rumah tangga (ART) lebih dari 1 orang sebanyak 126.293 rumah tangga, dan KRTP per desa minimal 20 rumah tangga.

Lebih lanjut disampaikannya, Pemprov memperkuat manajemen kelembagaan ekonomi perempuan untuk meningkatkan efisiensi skala usaha ekonomi kaum perempuan, meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana dalam rangka penguatan dan pengembangan kaum perempuan.

Arah kebijakan pemberdayaan dan perlindungan perempuan juga dilakukan dengan meningkatkan dan memperluas jaringan usaha dan akses permodalan bagi perempuan melalui pengembangan koperasi wanita dan lembaga keuangan mikro (LKM) fungsional, mengoptimalkan peran perempuan dalam pengembangan usaha ekonomi produktif melalui berbagai pelatihan keterampilan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas usaha ekonomi perempuan.

Untuk perkuatan ekonomi perempuan dilakukan melalui pemberdayaan koperasi wanita berbasis fungsional guna meningkatkan aktivitas perempuan dalam usaha ekonomi dengan target 1500 kopwan setiap tahun, serta pemberdayaan ekonomi mikro lainnya seperti koperasi pondok pesantren (koppontren), koperasi karyawan (kopkar) dengan target 500 setiap tahun.

“Peningkatan dan perluasan jaringan usaha dan akses permodalan melalui pengembangan dan penguatan koperasi wanita dapat mencegah feminisasi kemiskinan,” jelas Pakde Karwo.

Menurutnya, perempuan mampu menjadi akuntan keluarga, penanggung jawab pekerjaan domestik, menjadi simpul jaringan sosial untuk transfer sosial pada masa kritis dan krisis. Sehingga perempuan harus digerakkan menjadi potensi ekonomi.

“Perempuan memiliki sifat yang hati-hati, keluarga dipentingkan. Muslimat NU menjadi motor penggerak para perempuan untuk meningkatkan perkeonomian keluarga Langkah Muslimat NU untuk meningkatkan ketahanan keluarga sangat penting,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU, Hj. Khofifah Indar Parawansa mengajak para muslimat NU untuk kembali membangun ketahanan keluarga. Hal ini perlu dilakukan bahwa semakin meningkatnya bahaya pengguna narkoba, penyebaran HIV/AIDS, dan kekerasan seksual terhadap anak dan peremuan.

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, serta menciptakan Muslimat NU yang lebih kuat, mandiri dan profesional, telah dirumuskan peta baru dakwah muslimat, dan Masperplan pengembangan Muslimat.

Masterplan tersebut meliputi aspek program kerja yang berdaya guna serta menyejahterakan, pengembangan dan peningkatan infrastruktur, pendanaan menuju kemandirian, serta penciptan SDM yang berskill dalam berbagai aspek termasuk di dalamnya proses regenerasi.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH. Hasan Mutawakkil Alallah dalam sambutannya mengatakan Muslimat merupakan salah satu benteng pertahanan NU yang utama. Yang diharapkan ke depan dapat meningkatkan ketahanan keluarga bukan hanya sibuk berkutat pada kegiatan keagamaan semata namun juga dapat menciptakan program kerja yang bisa menyejaterahkan ekonomi keluarga.

Sebanyak 150 pengurus cabang Muslimat NU seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Timur melaksanakan konferensi Wilayah Muslimat NU Jawa Timur periode 2010-2015 pada 8-11 Januari 2016 di Hotel Solaris Karangploso Kabupaten Malang.

Masing-masing cabang Muslimat NU yang ada di Jawa Timur mengirimkan tiga orang pengurusnya yang terdiri dari dua orang peserta dan satu orang peninjau. Selain sebagai wadah konsolidasi dan juga evaluasi kinerja pengurus periode 2010-2015, konferensi ini pada tanggal 11 Januari 2016 ini akan melakukan pemilihan ketua Muslimat NU Wilayah Jawa Timur periode 2015 – 2020 mendatang. (hery)