19/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Tripvisto, Penyedia Paket Tur Domestik dan Internasional, Mendapatkan Investasi Seri A USD 1 Juta

  • Untuk Memberikan Pengalaman ​Travel ​Lebih Menarik bagi ​Traveler ​Indonesia

Jakarta, KabarGress.com – Tripvisto, penyedia paket aktivitas dan tur online berbasis di Jakarta, hari ini mengumumkan bahwa mereka telah meraih investasi Seri A sebesar USD 1 juta (sekitar Rp13,6 miliar) yang dipimpin oleh Gobi Partners. Tripvisto akan menggunakan pendanaan ini untuk mengembangkan produk, merekrut talenta, dan memperkuat pemasaran.

Didirikan pada Agustus 2014, Tripvisto berdedikasi untuk menyediakan paket tur tujuan lokal dan internasional yang populer dengan harga kompetitif kepada traveler di Indonesia. Sebagai marketplace tur, Tripvisto bekerja sama langsung dengan operator tur dan agen travel global dan lokal terpercaya untuk menyediakan paket aktivitas dan tur berkualitas untuk masyarakat menengah Indonesia. Perusahaan beraspirasi untuk memberikan pengalaman pengguna serta harga terbaik untuk turis, sembari menjunjung transparansi pasar.

Tripvisto dibangun oleh Sumartok (CEO), seorang traveler yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang telekomunikasi dan media digital; dan Aditya Saputra (CTO), seorang pengusaha di bidang pengembangan piranti lunak. Hingga November 2015, Tripvisto menawarkan paket ke lebih dari 50 negara dan 157 kota tujuan di seluruh dunia, dan omzet bulanannya telah bertumbuh 10 kali lipat dalam setahun terakhir.

Untuk perjalanan outbond, destinasi paling populer di Tripvisto adalah Thailand; sedangkan untuk perjalanan domestik, Lombok, Komodo, dan Bromo mendominasi jumlah pemesanan. Berdasarkan data resmi pemerintah, di tahun 2014 terdapat 10 juta traveler outbond dan 120 juta traveler domestik di Indonesia. Negara diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 dengan 70 juta penduduk kelas menengah, yang artinya pada saat itu layanan travel seperti Tripvisto akan menjadi sangat populer.

Untuk ronde pendanaan ini, Tripvisto berencana untuk mengembangkan produk dengan menambah inventori domestik dan internasional, menambah destinasi serta opsi paket untuk setiap destinasi; merekrut anggota tim baru khususnya di bidang teknologi, produk, dan pemasaran; dan mengembangkan pemasaran, termasuk menggunakan metode inbound dan content marketing serta periklanan untuk memperkuat bisnis.

“Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan memiliki pasar travel inbound dan outbond yang sangat menjanjikan. Kami percaya pelajaran yang dipetik Gobi Partners dari Tuniu, sebuah penyedia paket tur terkemuka di Tiongkok, akan membantu kami memperluas bisnis kami dalam skala regional. Dengan ronde pendanaan ini, kami ingin memberikan pengalaman travel yang lebih menarik kepada traveler Indonesia, baik itu untuk perjalanan akhir minggu ke destinasi populer dalam negeri maupun tur luar negeri yang lebih intensif ­dengan menghilangkan kerumitan yang dijumpai traveler saat merencanakan wisata. Kami percaya keahlian dan sumber daya Gobi Partners yang kuat di sektor ini akan membantu kami memperluas bisnis kami di dalam dan luar Indonesia,” jelas Sumartok.

“Sebagai investor utama di Tuniu, salah satu penyedia paket tur terbesar di Tiongkok, kami menjumpai banyak kualitas positif yang sama pada Tripvisto untuk pasar Indonesia dan kami akan menerapkan sejumlah pengetahuan yang kami pelajari dari Tuniu untuk mengembangkan bisnis Tripvisto,” jelas Thomas G. Tsao, Managing Partner Gobi Partners.

“Dengan memanfaatkan momentum dari pertumbuhan ekonomi dan demografis Indonesia, kami percaya Tripvisto akan mampu memberikan pengalaman tur fantastis untuk lebih banyak turis outbond dan domestik di Indonesia.” Tripvisto mendapatkan investasi tahap awal dari East Ventures pada bulan Agustus 2014. Belajar dari kegagalan Kisah perjalanan cofounder Tripvisto sendiri memiliki penuh terjal dan pengalaman pahit. Sebelum mendirikan Tripvisto, Sumartok sempat membangun penyedia tur online bernama Flamingo pada 2011 yang pada akhirnya harus ia tutup di akhir tahun 2012. Namun ia terus bangkit dari kegagalan dan kembali mencoba peruntungannya di dunia wiraswasta hingga berbuah investasi ronde terbaru ini.

“Saya suka traveling sejak tahun 2005 dan merasa susah sekali mendapatkan local guide atau local tour operator yang bisa dipercaya ketika harus traveling ke daerah yang relatif belum mainstream,” ujar Sumartok. “Dari situ, saya melihat adanya peluang karena ketika bertemu local guide yang bagus, mereka ini kebanyakan pengusaha travel kecil tapi memiliki passion dan dedikasi yang tinggi, hanya saja belum mengerti bagaimana menggunakan internet untuk memasarkan jasa mereka.”

Dengan semangat membantu para local guide itu serta kecintaannya pada dunia travel, Sumartok mendirikan bisnis di bidang travel. Ia mengakui bahwa salah satu tantangan utama menjadi seorang entrepreneur ialah memiliki mental yang siap diuji. “Pada waktu gagal, betul­betul dibutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi masalah satu­satu, menyelesaikan dan bangun lagi,” jelas Sumartok. Ia menceritakan pengalamannya yang memiliki uang kurang dari Rp 1 juta di tabungan, dan merasa panik karena sudah tidak memiliki sumber penghasilan dan telah memberhentikan karyawan karena tidak lagi sanggup membayar gaji.

“Akhirnya saya belajar mengatur keuangan dengan ketat sekali, sehari hanya boleh spending Rp25,000 waktu itu, sambil berusaha mencari pekerjaan freelance dan membangun kembali cikal bakal Tripvisto sekarang dari nol,” jelas Sumartok. Sumartok berhasil menyambung hidup dengan menjadi freelancer sebagai presentation designer. Ia juga merasa beruntung memiliki seorang mentor yang merupakan mantan atasan Sumartok sewaktu masih bekerja di perusahaan telekomunikasi yang selalu siap dan punya waktu untuk memberikan bantuan moral, nasihat, dan bahkan sempat meminjamkan sedikit uang untuk bisa bertahan hidup. Selama satu tahun bootstrapping, akhirnya Sumartok bisa mendapatkan omzet ratusan juta rupiah dengan modal awal kurang dari Rp2 juta. Ia lalu kembali membangun Tripvisto dari nol sembari menjalankan profesinya sebagai freelancer.

“Sembari itu, saya juga belajar digital marketing, SEO, WordPress, merangkap sebagai customer service, tour guide, dan melakukan sales call ke klien potensial untuk Tripvisto.” Ujung kata akhirnya Sumartok bisa kembali menjalankan usaha travel yang dicintainya dengan penuh waktu saat ini. “Fail fast, fail often” menjadi salah satu mantra sukses Sumartok dalam membangun bisnis startup. “Mungkin sudah klise, tapi ini penting sekali. Startup bekerja dengan resource yang terbatas, jadi bergerak cepat, melakukan banyak eksperimen, gagal dan cepat bangun lagi sangat penting,” ungkapnya. (ro)