30/11/2020

Jadikan yang Terdepan

Terkait Kebocoran Soal Unas, Komisi D Beda Pendapat

Ibnu ShobirSurabaya, KabarGress.Com – Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ibnu Shobir tidak menjamin bahwa Ujian Nasional (Unas) nantinya tidak luput dari kecurangan, meskipun Komisi D sangat mendukung progam pemerintah pusat melakukan Unas secara online. Sebab, pada prinsipnya kecurangan itu timbul dari mental pihak masing-masing orang.

“Kecurangan itu tidak bisa dilihat dari sebuah alat tapi lebih di wilayah komitmen. Artinya, meskipun ujian dilakukan dengan menggunakan media apapun pasti akan ada kecurangan sebelum ada kesadaran yang dilakukakan oleh orangnya sendiri,”ucap Ibnu, Senin (16/2/2015).

Politisi asal fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menuturkan, yang harus ditanyakan adalah sifat dari kebenaran dan kejujuran dari semua pihak. Sebab, jika sudah berpegang teguh dengan kebenaran, dirinya menjamin masalah tentang kecurangan atau kebocoran soal Unas sudah dipastikan tidak akan terjadi.

“Karena sebuah kecurangan itu adalah problem mental dari orangnya. Dan tidak menutup kemungkinan lewat online pun kecurangan bisa dilakukan. Buktinya apa, dengan kertas saja bisa, mengunakan online pun pasti juga bisan pokoknya tergantung orangnya,” tuturnya.

Namun, ungkapan Ibnu Shobir berbanding terbalik dengan anggota komisi D DPRD Kota Surabaya, Khusnul Khotimah. Politisi asal fraksi PDI Perjuangan itu justru merasa yakin bahwa dengan dilakukanya Unas online kebocoran atau kecurangan tidak bakal terjadi di Surabaya. Sebab, hal tersebut sudah dipikirkan matang – matang oleh pemerintah pusat.

“Kemungkinan bocor itu sangat minim sekali, bahkan saya rasa tidak akan terjadi. Maka dari itu pemerintah pusat berani mencoba terobosan baru ujian nasional akan menggunakan secara online,” ungkapnya.

Khusnul menambahkan, para siswa – siswi pasti sudah merasa siap dan mampu untuk mengerjakan soal Unas dilakukan dengan online. Sebab, komputer saat ini sudah sangat familiar di kalangan siswa. Namun, yang perlu ditekankan adalah bagaimana pemerintah nanti harus menyiapkan progam komputernya yakni software dan alat perangkat lainya agar saat digunakan tidak mengalami kendala.

“Karena nanti bisa jadi jika waktu siswa mengerjakan Unas tiba – tiba progamnya ngadat atau jaringanya lemot itu bisa menurunkan semangat dan mental para siswa. Dan juga sebagai catatan Unas ini adalah bukan menjadi patokan untuk syarat kelulusan. Tapi ada ujian sekolah dan ujian yang lain untuk mendukung nilai mereka (siswa),” pungkasnya.

Sedangkan untuk anggaranya, lanjut Khusnul, di Surabaya kurang lebih mencapai Rp. 100 sampai 200 juta dan ini murni adalah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Tidak semua sekolah mengikuti Unas secara online. Tapi itu itu tidak papa, pemerintah pasti akan menyiapkan secara khusus bagi sekolah yang tidak mengikuti Unas online,” tambahnya. (tur)