02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Diputar di Surabaya

penjurulimasantriSurabaya, KabarGress.Com – Film “Penjuru 5 Santri” karya sutradara Wimbadi JP mulai Kamis (29/1/2015) sudah bisa ditonton di Surabaya. Film ini berkisah tentang 5 sekawan yang tinggal dalam kesederhanaan dan keprihatinan, namun mereka tetap memiliki semangat yang tinggi untuk mencari ilmu. “Di Surabaya kita mengajak anak-anak panti asuhan untuk ikut menikmati film berdurasi 1,5 jam ini. Sejak kemarin hingga hari ini sudah ada sekitar 100 anak panti yang menonton. Mereka sangat bersuka cita karena memang tidak pernah kan menonton bioskop seperti ini,” ujar Eksekutif Produser, Puji Dewanto, di sela-sela nonton bareng bersama awak media Surabaya, Jumat (30/1/2015).

Film persembahan Cahaya Alam Film ini mengambil lokasi syuting di sebuah desa yang masih asri di daerah Yogyakarta sehingga nuansa alam pedesaan terasa sekali. “Lama syutingnya memakan waktu sekitar 1 bulan, dan yang berkesan selama syuting kita menginap di rumah-rumah penduduk. Sehingga benar-benar ikut menikmati suasana desa. Bahkan mereka menyalakan api saja masih menggunakan pipa yang ditiup,” tukasnya.

Menurut Puji, film Penjuru 5 Santri dibuat beberapa sekuel. Banyak pesan moral yang diusung lewat film ini. “Kita akan membikin untuk sekuel kedua dan ketiganya,” tandasnya.

Film ini dibintangi 5 anak sebagai pemeran utama yaitu Noky Ezra, Nurul Shanty, Audrick Ardian Pratama, Rizqullah Daffa dan Bowie Putra Mukti. Film Penjuru 5 Santri ini juga dibintangi para artis senior seperti Yatie Surachman, Roy Marten, Baron Hermanto, Pong Hardjatmo, Eman 4 Sekawan, Ferry Salim dan juga Rendy Bragi, serta sastrawan sekaligus Kiai D. Zawawi Imron.

5 sekawan yaitu Sabar, Wahyu, Slamet, Sugeng dan Rahayu tinggal di sebuah desa yang masih sangat asri bernama Desa Selopamioro, yang letaknya 40 kilometer di selatan kota Yogyakarta. Desa tersebut begitu alami dan hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk suasana kota. Masyarakat di desa ini masih menggunakan tungku api berbahan bakar kayu untuk memasak sehari-hari, serta sungai dan danau sebagai sumber utama air yang mereka pakai untuk keperluan sehari-hari.

Semangat yang tinggi untuk mencari ilmu ditunjukkan 5 sekawan walaupun jalan yang mereka tempuh untuk pergi ke sekolah tidaklah mudah. Ketika pagi tiba mereka segera berangkat ke sekolah meski tanpa memakai sepatu ataupun alas kaki lainnya. Tak hanya itu mereka harus menyeberangi sungai dan berjalan beberapa kilometer, dan ketika sore datang mereka pergi ke pondok pesantren menggunakan obor sebagai penerangan untuk belajar mengaji. (ro)