24/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Keluarga Kuat dengan Ikatan Islam

Oleh: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Bicara emak-emak, pasti tidak asing dengan drama dan sinetron favorit. Apalagi tren drama rumah tangga dengan cerita pelakor pasti membuat drama tersebut tersohor. Artisnya pun ikutan glamor. Belakangan, sinetron “Ikatan Cinta” makin tenar. Jalan ceritanya bikin emak-emak baper.

Beredar foto viral emak-emak merayakan syukuran tokoh idola mereka, Al dan Andin kembali rujuk. Sinetron ini memuncaki rating tertinggi sejak tayang perdana pada Oktober 2020. Hal ini mengingatkan penulis tentang drama korea dengan cerita perselingkuhan.

Drama “The World of The Married” juga mendapat rating tertinggi sejak penayangan perdananya. Han So Hee, pemeran Yeo Da Kyung yang disebut sebagai pelakor rumah tangga Ji Sun Woo dan Lee Tae Oh, saat itu dibanjiri berbagai hujatan netizen Indonesia dalam akun instagramnya.

Yang tak kalah viral, isu perselingkuhan yang menerpa Sabyan Gambus. Nissa dan Ayus dikabarkan menjalin hubungan saat Ayus sudah berkeluarga. Ketiga isu tersebut sama-sama memiliki kesamaan.

Genre pelakor dan rumah tangga baik dalam cerita atau kehidupan nyata memang menjadi primadona bagi kalangan perempuan. Ceritanya yang menguras air mata ditambah bumbu-bumbu pelakor pasti laris manis jadi bahan perbincangan dan pergunjingan.

Bahkan tak jarang kebaperan terhadap tontonan tersebut terbawa di kehidupan nyata. Banyak tontonan dengan jalan cerita penuh intrik tapi minim dengan pesan moral yang mengedukasi. Hal ini tidak lain dipengaruhi sistem kehidupan kapitalis yang serba kapitalistik.

Kebanyakan sinetron dibuat untuk menghibur tanpa memberi pesan hikmah bertutur. Tak ayal, meningkatnya angka perceraian yang dilatari isu perselingkuhan seakan mengonfirmasi bahwa drama-drama yang ada sangat real seperti kehidupan nyata.

Pernahkah emak-emak berpikir mengapa banyak sekali problematik keluarga yang dipicu dengan pelakor atau pebinor? Selain dari faktor melemahnya ketahanan keluarga akibat minimnya iman dan pemahaman agama, ada faktor luar yang perlu disadari kalangan emak dan milenial.

Yaitu, pola hidup kapitalistik liberal yang memberi kebebasan bagi manusia berbuat semaunya. Sekularisme telah membuat rapuh keluarga. Lepasnya fondasi keimanan dan ketakwaan yang wajib dimiliki menjadikan bangunan keluarga rentan retak dan rusak. Adalah hal mustahil membangun keluarga kuat dan sejahtera dalam kubangan sistem kapitalis sekuler saat ini.

Di Jawa Timur khususnya, angka perceraian kian meningkat. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jatim hingga September 2020, total perceraian di Jatim mencapai 55.747 kasus.

Jumlah tersebut meningkat tajam dibanding tahun 2019. Tahun lalu, kasus perceraian hanya tercatat 8.303 kasus. Kepala DP3AK Jatim, Andriyanto mengatakan, penyebab perceraian cukup bergam. Namun sebagian besar karena persoalan ekonomi dan ketidakcocokan. (Inews.id, 3/11/2020)

Sejatinya, Islam sudah memberi panduan dalam berumahtangga. Hanya saja, aturan Islam dijauhkan dari kehidupan. Padahal, Islam memiliki seperangkat aturan yang mampu membangun keluarga sakinah, taat, dan berkah. Penerapan sistem Islam dalam kehidupan mampu membentuk keluarga harmonis.

Pertama, keluarga bertakwa. Jika peran ayah dan ibu mampu dijalankan sesuai syariat Islam, generasi akan terdidik dengan benar. Sebab, rumah adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anak. Tanamkan akidah Islam sejak dini pada anak-anak. Ajarkan mereka taat dan terikat dengan aturan syariat.

Kedua, masyarakat berdakwah. Masyarakat yang terbiasa beramar makruf nahi mungkar tidak akan membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran berjalan. Mereka akan melakukan muhasabah dan saling menasihati dalam kebaikan.

Ketiga, negara berperan. Negara akan menerapkan syariat secara total dalam kehidupan. Yaitu, sistem pendidikan berasas akidah Islam; ekonomi berjalan dengan tata kelola sesuai syariat Islam; dan kebijakan penguasa berpihak pada kepentingan rakyat.

Negara memberlakukan sanksi yang memberi efek jera bagi perilaku kriminal dan kejahatan. Negara sebagai pengawas dan pengontrol bagi media dan tayangan yang dipublikasikan ke masyarakat. Dengan begitu, masyarakat akan terjaga dari pengaruh pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan Islam. ***