23/02/2021

Jadikan yang Terdepan

TCSC IAKMI JATIM, WITT JATIM & AMKRI JATIM PERINGATI HARI KANKER ANAK SEDUNIA 2021

Surabaya, KabarGRESS.com – TCSC IAKMI JATIM, WITT JATIM & AMKRI JATIM hari ini memperingati Hari Kanker Anak se Dunia 2021. Sebagai penerapan protokol kesehatan, peringatan Hari Kanker Anak 2021 kali ini dengan media zoom mengingat masih bahayanya masa pandemi. Ada tiga pembicara pokok pada kesempatan ini, yakni Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, SKM., M.Kes, Dra. Arie Soeripan, MM (WITT JATIM), serta Ike (Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia – Jatim).

Menurut Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, SKM., M.Kes, berdasarkan Tobacco Atlas, Indonesia menjadi salah satu dari lima negara dengan jumlah konsumsi rokok terbanyak di dunia, yakni 173 miliar batang pada tahun 2006 dan meningkat secara signifikan menjadi 316 miliar batang pada tahun 2018. “Prevalensi perokok penduduk berusia 15 tahun ke atas pada tahun 2018 mencapai 33,8 persen (Riskesdas, 2018) yang juga mengalami peningkatan dari tahun 2016, yakni sebesar 32,8 persen (Sirkesnas, 2016),” jelasnya.

Lebih jauh diuraikan Siti, perilaku merokok di dalam rumah bersama dengan anggota keluarga menyebabkan tingginya prevalensi perokok pasif di dalam rumah. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, tercatat lebih dari 158 juta terpapar oleh asap rokok di dalam rumah dan 13 juta di antaranya adalah anak berusia 0 – 4 tahun. “Hal ini menjadi ancaman bagi tumbuh kembang balita sebagaimana dinyatakan bahwa paparan asap rokok, baik selama masa kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang anak, memiliki hubungan dengan adanya risiko stunting, khususnya pada negara dengan pendapatan menengah ke bawah (Nadhiroh et al, 2020),” terangnya.

Kehadiran paparan asap rokok pada saat janin berada dalam kandungan hingga bayi berusia 6 bulan, ditambah kondisi ibu dengan anemia saat kehamilan dimungkinkan menyebabkan efek kombinasi yang berdampak pada pertumbuhan linier. “Pada masa pertumbuhan yang cepat, seorang bayi membutuhkan suplai dan metabolisme energi. Metabolism energi selular tergantung pada oksigen,” ujarnya.

Pada bayi dengan cadangan zat besi yang rendah saat berada dalam kandungan dan kemungkinan menetap pada tahun pertama kehidupannya, kekurangan zat besi menurunkan metabolism energi selular yang tergantung pada suplai oksigen, dikarenakan penurunan sintesa heme dan Hb, sintesa sel darah merah dan seterusnya sehingga membawa konsekuensi pada hambatan pertumbuhan linier (Soliman, De Sanctis and Kalra, 2014).

Di sisi lain kandungan karbon monoksida (CO) pada asap rokok yang terhisap bayi berhubungan dengan penurunan ketersediaan oksigen sebagai akibat peningkatan konsentrasi COHb dalam darah. Ketika terbentuk COHb, maka akan menggeser kapasitas darah sebagai pembawa oksigen dan menurunkan pelepasan oksigen ke jaringan (Vallero, 2014).

Lebih jauh, keberadaan kadmium dalam asap rokok dapat mengganggu keseimbangan kadmium-zinc dan kadmium-kalsium dalam tubuh yang mengakibatkan hambatan pembentukan tulang dan memperlambat pertumbuhan panjang badan (Berlanga et al., 2002).

Dampak Rokok terhadap Kesehatan
Transisi epidemiologi yang dewasa ini mengakibatkan perubahan pola penyakit dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Pada tahun 2017, 75,02% persen kematian dinyatakan menjadi akibat dari penyakit tidak menular. Dalam hal ini, rokok diketahui menjadi faktor risiko utama 4 (empat) penyakit tidak menular terbanyak, yakni penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis.

“Rokok juga mampu mengakibatkan gangguan proses kognitif pada otak bagian depan (prefrontal cortex). Semakin lama menjalani kebiasaan rokok, maka semakin luas penurunan fungsi prefrontal cortex yang mengindikasikan kerusakan akibat efek nikotin bersifat progresif dan dibawa hingga dewasa,” tambahnya.

Dampak Rokok pada Aspek Ekonomi

Selain memiliki dampak buruk terhadap kesehatan, rokok juga membawa dampak buruk pada aspek ekonomi. Pada September 2019, rokok masuk ke dalam daftar komoditas yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan yang berkontribusi sebesar 11,17%, kedua tertinggi setelah beras (20,35%) (Susenas, 2019).

“Tren persentase pengeluaran rumah tangga yang berada pada kuintil 1 (Q1) per kapita per bulan pada tahun 2003 – 2018 menunjukkan bahwa persentase tembakau dan sirih terhadap total pengeluaran menjadi kedua tertinggi setelah padi-padian melebihi ikan, daging, telur dan susu. Konsumsi rokok dan kemiskinan juga kemudian berkaitan sangat erat dengan kejadian stunting,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dra. Arie Soeripan, MM (WITT JATIM), mengingatkan tentang mengapa asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatan.
Rokok mengandung zat yang lebih berbahaya ketimbang asap yang dihirup oleh perokok. Ini terjadi karena asap tidak melalui filter sehingga menyebabkan gangguan kesehatan bagi yang terpapar.

“Asap Perokok pasif turut menyerap lebih dari 4000 senyawa kimia. Yang mana 250 jenis dikenal sangat beracun. Parahnya lebih dari 50 jenis memicu kanker. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan setidaknya ada 8 juta kematian yang disebabkan oleh asap rokok dan 1,2 juta kasus di antaranya terjadi pada perokok pasif,” urainya.

Menurut Arie, saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 75 juta orang atau 33 persen dari jumlah penduduk Indonesia, tertinggi ketiga di dunia (Riskesdas, 2018). Sebanyak 80,6 persen dari mereka merokok di dalam ruangan, dan dampaknya ada lebih dari 75 persen penduduk Indonesia menjadi perokok pasif (Riskesdas, 2018). “Jumlah perokok anak meningkat menjadi 9,1 persen (2018) dari yang sebelumnya 7,1 persen (2013). Dari jumlah itu, 5,3 persen merokok setiap hari dan 3,8 persen merokok kadang-kadang,” katanya.

Tren Perokok di Masa Pandemi COVID-19

Sebanyak 49,8 persen responden yang merokok mengaku tetap mengeluarkan uang untuk membeli rokok selama masa pandemi Covid-19. Lebih dari 13 persen responden mengaku meningkat konsumsi rokoknya. Peningkatan itu dipicu pembatasan aktivitas di luar rumah /WFH. Orang tidak banyak memiliki aktivitas sehingga lari ke aktivitas merokok di rumah.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200915130930-260-546657/survei-49-persen-perokok-lanjutkan-kebiasaan-meski- pandemi

Peran Ibu Mencegah Bahaya Asap Rokok di Lingkungan Keluarga

Peran Wanita, atau seorang Ibu sangatlah penting yaitu salah satunya dengan tidak memberi dukungan kepada perokok dalam bentuk apapun seperti tidak memberi uang untuk membeli rokok, tidak memberi kesempatan kepada siapapun untuk merokok di dalam rumah, tidak menyediakan asbak, dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada anggota keluarga.

“Peran Ibu sangat penting, Ibu harus berdaya untuk bisa menjadi champion di keluarga, tegas terhadap suami dan anak yang mulai merokok, embujuk ayah agar tidak merokok didalam rumah agar anak tidak melihat rokok sebagai sesuatu yang biasa seperti minum air putih, membuat kesepakatan keluarga untuk menciptakan rumah tangga tanpa asap rokok, menegur anggota rumah tangga yang merokok di dalam rumah, juga tidak menyuruh anaknya membelikan rokok. Orangtua bisa menjadi panutan dalam perilaku tidak merokok,” ungkapnya.

Tips Menghindari Paparan Asap Rokok di Tempat Umum

Tidak berada di sekitar orang yang merokok, menghimbau perokok untuk merokok pada tempat yang seharusnya, menggunakan masker, terutama di tempat yang banyak orang merokok, mengonsumsi air putih untuk membersihkan tenggorokan dan saluran pernapasan dari asap rokok, mengganti pakaian yang terpapar asap rokok, berolahraga setiap hari, membuka jendela/pintu untuk pertukaran udara, serta keluar untuk mencari udara segar.

Pentingnya Peran Perempuan

Perempuan memiliki peran besar dalam mewujudkan lingkungan yang bebas asap rokok di rumah. Peran itu harus diwujudkan dengan strategi yang tepat antara lain pendekatan yang persuasif, arif, dan berbudipekerti luhur. Perempuan harus bisa membangkitkan kesadaran pada setiap anggota keluarga untuk menjaga kesehatan, yakni dengan mewujudkan rumah yang bebas asap rokok.

“Keberhasilan bergantung pada kemauan. Mari bersama-sama mengoptimalkan peran di tengah keluarga dalam mewujudkan lingkungan yang bebas asap rokok. Saat ini adalah momen yang paling tepat untuk berhenti merokok. Stop merokok berarti melindungi dirimu dan keluargamu. Mari turunkan prevalensi kanker pada anak, jangan sampai ada anak yang akhirnya sakit kanker atau sakit apapun akibat asap rokok ayahnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Ike (Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia – Jatim), menceritakan kisahnya. Ike didiagnosa kanker laring karena terpapar asap rokok orang lain, tenggorokan harus dilubangi karena jalan napas sudah tidak berfungsi dan akibat asap rokok, hidup Ike hancur baik secara sosial dan ekonomi, tidak bisa bicara, susah berkomunikasi dengan orang lain harus didampingi keluarga untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain, sudah tidak dapat bekerja selayaknya sprti orang pada umumnya.

Perlu diketahui, Ike bekerja di restoran selama 10 tahun dan restoran tersebut tidak menerapkan KTR, semua orang boleh merokok di dalam ruangan resto. “Saya tidak merokok, suami dan keluarga yang lain yang serumah juga tidak, saya pikir saya aman, tetapi yang terjadi adalah asap rokok orang lain yang telah meracuni selama bertahun-tahun dan terakumulasi menjadi kanker laring,” tuturnya.

“Oleh karena itu jangan sampai terjadi kepada orang yang anda sayangi apalagi anak anda. Jangan sampai ada lubang-lubang tenggorokan lain karena asap rokok. STOP MEROKOK sekarang juga dan tegakkan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok,” pungkasnya. (Ro)