04/12/2020

Jadikan yang Terdepan

DPRD: Momen Hari Pahlawan Menjadi Spirit Membangun Kota Surabaya

Reni Astuti

Surabaya, Kabargress.com – Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti menyampaikan bahwa  Hari Pahlawan 10 November 2020 merupakan momentum bagi Arek-arek Suroboyo. 

“Karena momen perjuangan dan pertempuran mempertahankan kemerdekaan melawan kolonialisme setelah terjadinya kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi di Surabaya. Perjuangan yang besar yang dilakukan oleh Arek-arek Suroboyo dan mendapat support yang luar biasa dari para ulama massa itu menjadi Surabaya sebagai Kota Pahlawan,” terang Reni Astuti di Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (9/11/2020).

Reni menjelaskan, atas julukan Surabaya menjadi Kota Pahlawan atas kejadian tersebut. Serta banyak sekali para Pahlawan lahir dari Kota Surabaya. 

“Tentunya karakter kepahlawanan yang menjadi semangat untuk terus kita miliki dan kita perkuat tumbuh suburkan terhadap Arek-arek Suroboyo,” katanya. 

Apa karekter kepahlawanan itu, lanjutnya, bahwa pahlawan itu mempunyai karakter berani, jujur, rela berkorban,  pantang menyerah,  peduli dan memiliki kecintaan kepada tanah air. 

“Inilah yang menjadi koreksi diri. Apakah karakter-karakter itu tertanam dalam diri kita. Terutama kepada pelajar,  generasi milenial dan siapa saja semua pemimpin birokrasi, politisi, profesional, pengusaha dan pekerja semuanya secara umum warga Surabaya memiliki karakter kepahlawanan untuk bersama-sama gotong royong kolaboratif membangun Kota Surabaya,” ungkapnya. 

Menurutnya, Momen Hari Pahwalan ini menjadi semangat (spirit) Warga Surabaya karena “Kita Diuntungkan” mendapatkan anugrah warga Surabaya memiliki Kota Pahlawan. 

“Selain itu juga di massa pandemi ini tentu ada sosok nyata yang ada di depan kita. Seperti saudara kita para tenaga kesehatan yang gugur di massa pandemi ini. Mereka adalah sosok nyata Pahlawan yang saat ini tengah berjuang membatu para korban covid-19,” tandasnya.

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono menambahkan, bahwa Hari Pahlawan memang milik Kota Surabaya. Ia mengaku, karena pada 10 November massa itu Kota Surabaya menghadang sekutu sampai tewasnya Jenderal Malabi. 

“Satu-satunya Jenderal yang mati perang selama ini menjadi Kota Surabaya. Ternyata heroisme ini semangat Arek-arek Suroboyo tetap dijaga. Makanya menghadapi Pilkada ini peran pemuda ini sangat penting untuk bisa menjadi barisan terdepan  untuk coklit,” singkat Baktiono. (Tur/Adv)