09/01/2023

Jadikan yang Terdepan

Limbah vs Limbah: Jernihkan Kembali Cairan Beracun

Surabaya, KabarGRESS.com – Sejumlah delapan orang delegasi asal negara Jepang dan Taiwan bertandang ke beberapa laboratorium dan jurusan-jurusan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) demi belajar ‘membatik’. Rombongan terdiri dari dua orang mahasiswa serta satu dosen asal Osaka Institute of Technology (OIT) Jepang dan lima mahasiswa dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Kedatangan mereka untuk menunaikan kerjasama antara UKWMS dengan NTUST dan OIT dalam melaksanakan sistem pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) selama tujuh hari yang mengangkat tema ‘The Challenge of Preserving Batik as a Local Cultural Heritage in the Midst of Disruptive Digital Era’. Kerjasama yang diinisiasi oleh Fakultas Teknik UKWMS ini turut melibatkan Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Bisnis serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Fakultas Filsafat di UKWMS.

Profesor Masahiro Muraoka yang berasal dari OIT menyatakan bahwa ia merasa sangat senang dapat berkunjung kembali ke UKWMS dalam rangka PBL. “Tahun lalu saya dan mahasiswa belajar banyak tentang durian, dan saya yakin bisa belajar lebih banyak lagi tentang batik Indonesia kali ini,” ujarnya. Bersama Prof. Masa, adalah Nohara Katayama dan Noe Tamaki selaku mahasiswa peserta. Delegasi dari NTUST adalah Liu Jia Hua, Su Chia Sheng, Lee Pei Ju, Wu Xin Ping dan Liao Tzu Yu, rata-rata sedang menjalankan tahun kedua dan ketiga dalam masa perkuliahan mereka.

“Ini merupakan kali kedua PBL diadakan dan jika tahun lalu delegasi-delegasi ini kami ajak untuk ‘mabuk durian,’ kali ini kami ingin mengenalkan betapa indah, mendalam dan bermanfaatnya kesenian batik Indonesia ini,” ujar Erlyn Erawan, Psy.D. selaku Kepala Kantor Urusan Internasional UKWMS. Lebih lanjut, Erlyn menambahkan bahwa UKWMS merasakan keprihatinan karena ‘anak-anak zaman now’ yang lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan gawai mereka. Digitalisasi memang perwujudan kemajuan peradaban manusia, namun di sisi lain generasi muda tetap perlu diajak untuk menghargai betapa kaya dan berharganya warisan budaya bangsa ini. Oleh sebab itu, PBL juga diwujudkan dalam bentuk pemberian seminar singkat mengenai motif-motif batik khas kedaerahan, mulai dari filosofinya, hingga pemaparan tentang resiko kesehatan yang dihadapi oleh para pengrajin batik tulis dan bagaimana mengolah limbah dari industri batik agar aman bagi lingkungan. Setiap seminar selalu dilanjutkan dengan ajang diskusi untuk mencari solusi bagi setiap permasalahan yang didapati dari proses industri Batik Indonesia.

Memasuki hari keempat PBL yakni Jumat, 9 Februari 2018 para peserta bergabung di Kampus UKWMS Kalijudan. Materi pertama yakni Belajar Bahasa Indonesia yang dibawakan oleh Dr. Ruruh Mindari, M.Pd., selaku dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKWMS. Para peserta diajari bagaimana memperkenalkan diri, berhitung hingga berdialog cara menawar harga apabila pergi ke suatu pusat perbelanjaan. Nohara Katayama dari OIT menjadi salah satu mahasiswa peserta PBL yang bisa memperkenalkan diri dalam Bahasa Indonesia,” Selamat pagi, nama saya Nohara. Saya dari Jepang, saya kuliah di OIT. Saya ingin belajar Bahasa Indonesia. Terima kasih,” ujarnya yang kemudian disambut tepuk tangan riuh dari peserta lainnya.

Memasuki materi kedua, dibahas mengenai pengolahan limbah air. Materi disampaikan oleh Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D., dengan topik Adsorption of Hazardous Substances From Water (Penyerapan Zat Limbah Berbahaya dari Air). “Terkadang usaha kecil maupun besar, limbahnya langsung dibuang tanpa diolah. Hal ini tentu berbahaya karena begitu limbah tercemar di air, terpapar ke organisme yang lebih kecil hingga besar termasuk ikan dan kerang dan itu akan mengendap dalam tubuh mereka. Lalu ikan dan kerang dikonsumsi oleh kita. Maka limbah yang dibuang tanpa diolah terlebih dahulu, sejatinya akan kembali kepada kita,” jelas Suryadi.

Suryadi pun mencontohkan beberapa bahan kimia yang kerap mencemari air diantaranya antibiotik, pestisida, pewarna, logam berat hingga minyak mentah dan beberapa bahan lainnya. “Antibiotik di Indonesia sangat mudah didapatkan dan harganya murah, bahkan hampir seperti obat generik. Berbeda dengan di negara lainnya. Bahkan logam berat punya dampak bagi kesehatan manusia mulai gangguan kulit, mata, hati hingga menyebabkan kanker,” ujar Dekan Fakultas Teknik UKWMS ini. Terlebih masih ada pengusaha makanan yang menggunakan pewarna tekstil dalam campuran bahannya, dan tentu berdampak terhadap lingkungan dan tubuh manusia.

Mendasari hal itu, para peserta PBL diajak melakukan eksperimen di Lab Kimia Analisa yakni mengolah air yang terkontaminasi zat pewarna dengan menggunakan empat macam penyerap yakni zeolite, bentonite, karbon aktif dan cangkang telur. Sesi eksperimen dipandu oleh dosen Teknik Kimia UKWMS Shella Permatasari, Ph.D. Pada bagian ini, total air yang terkontaminasi sebanyak 250ml dibagi kedalam empat tabung pengukur, lalu diberi penyerap masing-masing 1,5 gram bahan penyerap. Selanjutnya empat tabung tersebut dimasukkan kedalam waterbath selama 30 menit untuk proses penyerapan. Berikutnya untuk mengetahui seberapa banyaknya zat warna yang terserap oleh bahan penyerap, peserta melakukan pengukuran konsentrasi zat warna dengan menggunakan spektrofotometer. Dari pengukuran tersebut, didapati bahwa setelah dilakukan proses penyerapan konsentratsi zat pewarna dalam air berkurang dan warna air yang didapatkan menjadi lebih jernih.

Salah satu peserta PBL dari NTUST yakni Wu Xin Ping menyatakan, “menarik belajar eksperimen ini karena di kampus banyak teori, sedangkan disini banyak prakteknya dan seru bisa belajar budayanya juga,” pungkas gadis berkacamata ini. Melalui ajang PBL ini, UKWMS berharap tidak hanya dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan rekanan dari Jepang maupun Taiwan, namun juga dengan masyarakat luas. (ro)