31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Geliat Pasar Properti Sekunder Kota Surabaya Mulai Nampak

Surabaya, KabarGRESS.com – Perkembangan harga properti residensial sekunder di wilayah Surabaya menunjukkan geliat dan berpotensi meningkat. Hasil Survei Harga Properti Residensial Sekunder 1 pada triwulan II-2016 menunjukkan peningkatan harga properti sebesar 0,37% (qtq). Peningkatan harga ini didorong oleh kenaikan harga tanah, yang mencatatkan kenaikan sebesar 0,55% (qtq). Meskipun demikian, kenaikan harga tanah pada triwulan II-2016 cenderung lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Jawa Timur, Syarifuddin Bassara, mengatakan melambatnya kenaikan harga tanah turut dipengaruhi oleh kondisi perekonomian nasional yang dinilai menurun sehingga menimbulkan sentiment bisnis investor yang cenderung memiliki sikap wait & see, menunggu kondisi ekonomi membaik.

Berdasarkan tipe rumah, terindikasi bahwa perkembangan harga rumah tipe menengah (0,46%; qtq) mengalami kenaikan harga lebih tinggi dibandingkan tipe menengah atas (0,28%; qtq). Hal ini dipengaruhi oleh harga jual dasar rumah menengah atas yang tinggi sehingga sulit mengalami kenaikan untuk jumlah yang besar, terutama pada kondisi perekonomian yang masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berdasarkan informasi dari responden, harga rumah yang banyak dicari di pasar ada pada kisaran Rp1-3 miliar/unit.

Berdasarkan wilayahnya, secara umum terjadi peningkatan harga rumah tipe menengah di semua area. Sementara untuk rumah tipe menengah atas di area Surabaya Pusat mengalami penurunan, didorong tingginya harga dasar sehingga sulit untuk diserap di pasar yang lebih mengarah untuk keperluan komersial sehingga berdampak pada penyesuaian harga oleh pengembang properti. Wilayah Surabaya Barat menunjukkan peningkatan harga tertinggi, baik untuk tipe menengah maupun menengah atas masing-masing sebesar 0,70% (qtq) dan 1,10% (qtq). Peningkatan harga terbesar kedua adalah Surabaya Timur untuk tipe menengah (0,66%-qtq) dan Surabaya Selatan untuk tipe menengah atas (0,24%; qtq). Surabaya Barat dan Surabaya Timur masih tetap menjadi area yang paling diminati masyarakat mengingat keberadaan area komersil, berkembangnya infrastruktur dan fasilitas umum, serta kualitas citra kawasan membuat masyarakat cenderung berminat untuk mencari rumah sekunder di kedua wilayah tersebut.

Sementara itu, kenaikan harga rumah pembuatan baru (Replacement Cost Of New/RCN) terindikasi semakin melambat. Kenaikan RCN pada triwulan laporan di Kota Surabaya adalah 0,34% (qtq) atau lebih rendah dibandingkan rata-rata kenaikan harga properti residensial yang sebesar 0,37%. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga jual rumah sekunder lebih tinggi dibandingkan dengan rumah pembuatan baru, didorong oleh lebih tingginya kenaikan harga lahan dibandingkan harga bangunannya.

Kenaikan RCN disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan biaya pembangunan lainnya (tenagakerja, energi dan lain-lain). Hasil survei yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim juga menunjukkan bahwa permintaan yang ada lebih fokus pada tujuan penggunaan rumah sebagai tempat tinggal. Pembeli dengan tujuan investasi cenderung menunda pembelian hingga diberlakukannya tax amnesty. Meskipun demikian, disahkannya tax amnesty tersebut diperkirakan tidak memiliki efek yang reaktif. Masyarakat akan cenderung menunggu hingga pelaporan pajak tahun 2017 untuk benar-benar yakin bahwa pajak untuk asset baru tidak akan dipermasalahkan. (ro)