31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Kinerja Usaha Jatim Bergerak Positif

Surabaya, KabarGRESS.com – Kinerja dunia usaha pada Triwulan II-2016 diperkirakan meningkat, didorong oleh aktifitas sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) dan Industri Pengolahan. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) 1 yang tercermin dari indikator realisasi kegiatan usaha dengan nilai SBT 20,90% lebih tinggi dibandingkan Triwulan I-2016 (SBT 1,83%) maupun periode yang sama tahun lalu (SBT 19,19%) mengindikasikan bertumbuhnya perekonomian di Jawa Timur.

Indikator realisasi kegiatan usaha Sektor PHR menunjukkan peningkatan sebesar 5,58 poin (qtq) dengan SBT sebesar 7,60% yang dipengaruhi oleh kenaikan kinerja sub sektor perdagangan (SBT 6,68%). Demikian pula kegiatan usaha Sektor Industri Pengolahan pada Triwulan II-2016 pun terpantau meningkat cukup tinggi, tercermin dari indikator realisasi kegiatan usaha naik sebesar 7,70 poin (qtq) dengan nilai SBT sebesar 8,45%.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Jawa Timur, Syarifuddin Bassara, mengungkapkan, sejalan dengan pertumbuhan kegiatan dunia usaha, kebutuhan tenaga kerja turut terakselerasi. Hal ini tercermin dari indikator realisasi tenaga kerja lebih tinggi 7,56 poin (qtq) dengan SBT sebesar 3,83%. Kinerja usaha sektor industri pengolahan dan sektor bangunan dikonfirmasi meningkat dengan masing-masing sebesar SBT 2,40% dan SBT 0,86%. Sedangkan sektor pertambangan, sektor PHR, dan sektor listrik, gas, dan air bersih cenderung menunjukkan penurunan dengan SBT masing-masing sebesar -0,39%, – 0,28% dan -0,04%. Hal tersebut didorong oleh stance sejumlah pelaku usaha cenderung menahan penambahan tenaga kerja seiring proyeksi ekonomi kedepan yang dinilai belum mengalami perubahan yang signifikan.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga jual meningkat pada Triwulan-II 2016. Hal ini tercermin dari indikator harga jual barang/tarif dengan SBT 16,49% lebih tinggi 3,29 poin (qtq). Peningkatan harga jual terutama didongkrak oleh kenaikan biaya produksi bahan pangan pada sektor pertanian. Sedangkan tekanan harga jual kelompok sektor lainnya terpantau melemah cenderung stabil. Tekanan harga jual diprediksi meningkat terutama pada sektor pertanian dan sektor pengangkutan. Kenaikan tersebut terjadi karena momen lebaran yang mendorong harga pangan dan angkutan.

Sementara itu, kapasitas produksi relatif stabil meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya dari SBT 83,79% menjadi 82,73%. Penurunan kapasitas produksi terjadi pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan sebesar 4,28 poin. Investasi turut melambat sebesar SBT 6,05%, terutama pada sektor industri pengolahan (-0,05%) dan sektor pengangkutan dan komunikasi (-0,14%). Namun, investasi di sektor PHR, sektor listrik, gas, & air bersih, dan sektor pertanian justru tercatat mengalami peningkatan tertinggi. Kinerja dunia usaha yang meningkat turut berdampak terhadap terjaganya indikator keuangan baik dari sisi likuiditas maupun rentabilitas perusahaan.

Ekspektasi pelaku usaha terhadap aktivitas ekonomi pada triwulan mendatang diperkirakan masih optimis, diindikasikan dari indikator ekspektasi kegiatan usaha dengan SBT sebesar 30,48%. Merespon hal tersebut, kebutuhan tenaga kerja pada triwulan III-2016 diperkirakan lebih tinggi yang tercermin dari indikator ekspektasi tenaga kerja sebesar 2,08% lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2016. Potensi kenaikan harga jual komoditas diperkirakan masih berlanjut pada triwulan III-2016, dengan tekanan sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2016 dengan SBT sebesar 15,96%. Perkiraan peningkatan tekanan harga jual utamanya terjadi pada sektor pertanian (naik 1,35 poin) dan sektor pengangkutan (naik 1,37 poin). Naiknya tekanan harga jual tersebut disebabkan adanya momen lebaran yang pada umumnya mendorong harga barang pangan dan angkutan terkait tradisi mudik. (ro)