31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Pemerintah Turunkan Harga Komoditi, Jatim Alami Deflasi

Teguh Pramono, MASurabaya, KabarGress.com – Pada April 2016 Jawa Timur mengalami deflasi sebesar ,25%. Dari delapan kota monitoring IHK (Indeks Harga Konsumen) di Jatim, semua kota mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,61% dan deflasi terendah terjadi di Kota Madiun sebesar 0,08%.

Dari tujuh kelompok pengeluaran, yang mengalami deflasi tertinggi adalah kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,73%. Diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,15% dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,09%.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah bensin, beras, cabai merah, tariff listrik, telepon seluler, cabai rawit, kentang, solar, pasir dan mujair. ”Pemicu deflasi adalah komoditas-komoditas yang harganya dikendalikan pemerintah seperti bensin dan tarif listrik,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono, seusai menyampaikan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Timur, Senin (2/5/2016).

Ia menuturkan, sejak 1 April 2016, pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), yaitu komoditi bensin jenis premium dan solar. Harga bensin premium turun dari Rp6.950 menjadi Rp6.450, sedangkan harga solar turun dari Rp5.650 menjadi Rp5.150.

Sedangkan untuk tarif listrik, PT PLN (Persero) menurunkan tariff listrik untuk 12 golongan pelanggan yang menggunakan skema tarif penyesuaian. Penurunan tersebut berlaku sejak 1 April 2016.

Untuk komoditi bahan makanan, selain beras yang sedang dalam masa panen, komoditi cabai merah dan cabai rawit juga mengalami penurunan harga seiring adanya panen raya di beberapa daerah di jatim antara lain Kediri, Mojokerto, Tuban, Lamongan dan wilayah Madura.

Sementara komoditi yang mendorong terjadinya inflasi adalah tomat sayur, wortel, bawang merah, daging ayam ras, apel, minyak goreng, bawang putih, pizza, gula pasir dan papaya. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan menipisnya stok di pasaran mengakibatkan kelangkaan beberapa komoditi bahan makanan tersebut.

Gula pasir mengalami kenaikan harga karena berkurangnya stok sedangkan musim giling tebu pada tahun 2016 baru dimulai pada Mei 2016. (ro)