06/01/2023

Jadikan yang Terdepan

Dilengkapi Cuci Mobil dan Kafe, Padat Karya ‘Pelataran Manyar’ Serap Pekerja dari Kalangan Anak Muda

Surabaya, Kabargress.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meresmikan Rumah Padat Karya di Jalan Raya Menur, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo Surabaya, Rabu (10/8/2022). Rumah padat karya yang diberi nama ‘Pelataran Manyar’ tersebut, berdiri di lahan aset seluas 450 meter persegi.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, bahwa masih banyak aset-aset milik pemkot yang lokasinya tersebar dan tidak dipakai. Sejumlah aset tersebut, ke depan akan terus digunakan untuk kepentingan umat melalui kegiatan-kegiatan positif atau mengurangi kemiskinan di Kota Pahlawan.

“Kalau kita bisa manfaatkan untuk kepentingan umat, mengurangi kemiskinan, pengangguran, juga memunculkan kegiatan-kegiatan positif, maka itu kita minta aset pemkot bisa dimanfaatkan,” kata Wali Kota Eri Cahyadi selepas acara peresmian, Rabu (10/8/2022).

Ia mengaku bersyukur, satu di antara warga yang terlibat dalam padat karya Pelataran Manyar merupakan pemuda yang dahulu menjadi korban dari dampak minum-minuman keras. Hal negatif itu terpaksa dilakukan pemuda dan teman-temannya lantaran kurangnya kegiatan positif.

“Alhamdulilah, setelah diberikan pengertian, diberikan kegiatan positif, sekarang Mas Marcel dan teman-temannya menjadi bagian dari Pelataran Manyar ini,” ungkap dia.

Oleh sebab itu, ia menyatakan, melalui kolaborasi dan sinergi dalam program padat karya tersebut, pemkot ingin menyelesaikan permasalahan kenakalan remaja di Surabaya. Juga, sekaligus mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Kota Pahlawan.

“Inilah yang namanya kolaborasi sinergi pemerintah bagaimana menyelesaikan kenakalan remaja, bagaimana permasalahan negatif dengan memunculkan kegiatan-kegiatan positif. Saya yakin di Pelataran Manyar ini akan jadi tempat yang sangat luar biasa,” jelasnya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu menyatakan, selama ini ia tak pernah meminta jajarannya untuk menyiapkan program padat karya dengan kategori pekerjaan tertentu. Karena baginya, kategori padat karya itu dapat dimunculkan dari potensi di masing-masing wilayah atau atas keinginan warga.

“Saya tidak pernah memaksa harus membuka cuci mobil, harus ada cafenya. Tapi yang saya minta dikumpulkan warganya, diajak ngomong. Saya yakin dengan gotong-royong kita bisa menyelesaikan pengangguran dan semua permasalahan di Kota Surabaya,” ujarnya.

Untuk saat ini, rumah padat karya Pelataran Manyar, menyerap 16 tenaga kerja dari warga sekitar. Dengan rincian, delapan orang bertugas di bagian cuci mobil serta lainnya di bagian stand makanan dan minuman atau kafe. Namun, ia meyakini, ke depan rumah padat karya ini akan lebih banyak menyerap tenaga kerja.

“Total ada 16, plus nanti yang di belakang lagi ada yang untuk jual siomay dan lainnya. Jadi sebenarnya ini bisa digerakkan semuanya. Saat malam itu bisa lagi ada yang jualan mie ditarik ke sini. Bisa nampung banyak, MBR yang dari luar pun bisa ditampung di sini,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Camat Mulyorejo Kota Surabaya, Yudi Eko Handono mengatakan, pembangunan padat karya Pelataran Manyar sudah lama dilakukan. Ia bersyukur, melalui sinergi bersama RT/RW dan LPMK Kelurahan Manyar Sabrangan, akhirnya hari ini bisa diresmikan. “Matur nuwun (terima kasih) Pak Wali Kota, warga kami bisa menempati lahan ini. Dan yang bekerja di sini adalah generasi muda semua,” kata Yudi.

Yudi mengaku, awalnya warga pesimis terhadap rencana pembangunan rumah padat karya Pelataran Manyar. Namun setelah pihaknya memberikan pengertian, akhirnya banyak dari warga yang kemudian berminat mendaftar. “Saat itu kami mencari dan akan menyeleksi sulit sekali. Tapi Alhamdulillah, setelah diberikan pengertian, banyak warga yang berminat kemudian kita seleksi,” katanya.

Ia mengaku, rencananya masih ada 10 titik lokasi aset pemkot di wilayah Kecamatan Manyar yang akan dijadikan rumah padat. Nantinya, rumah padat karya itu akan digunakan untuk MBR maupun warga yang belum bekerja.

“Harapan kami dengan padat karya ini, warga bisa berkarya dan meninggalkan hal-hal negatif. Monggoh (mari) kita bersama-sama bergotong-royong untuk mengubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik,” pungkas dia. (ZAK)