WARSITO , SE ,MM ; ADA MASALAH KUNCINYA KOMUNIKASI

Surabaya , KabarGress.com – Pembawaanya bersahaja , nada bicaranya ceplas – ceplos , tegas dan lantang, langsung fokus pada pokok persoalan. Tidak perlu basa-basi jika berurusan dengan dia. Itulah sosok Warsito, yang akrab dipanggil Cak War oleh para koleganya.

Meskipun dia asli putera Sukoharjo, Jawa Tengah, namun karena luasnya pergaulan dan lamanya merantau di Surabaya, menjadikan dia layaknya orang Surabaya.

“Banyak yang mengira saya orang Surabaya asli, padahal saya asli Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ya begini ini saya, lebih suka bicara apa adanya, tidak perlu basa basi ,” ujar Warsito , dalam rilisnya , dikirim lewat Whats -aap , Kamis (14/12)

Perjalanan hidup memaksanya bisa bergaul dengan banyak kalangan, banyak lapisan masyarakat membuatnya punya pembawaan seperti sekarang. Bukan lagi layaknya orang Solo dan Mataraman pada umumnya, yang cenderung kalem dan suka ewuh pakewuh.

Kini, ia tak segan-segan untuk bicara apa adanya dan cenderung terus terang setiap kali menghadapi lawan bicara, terlebih pihak yang sedang ada urusan dengannya. Warsito remaja, diakuinya cenderung keras kepala, alias tidak mudah diberi nasehat. Namun itulah yang akhirnya membawanya memiliki banyak pengalaman hidup, suka dan duka.

Dari pengalaman hidup itu pulalah, ia tidak mudah menyerah kepada keadaan dan akhirnya mendorongnya untuk bekerja keras agar bisa bertahan hidup di Surabaya sebagai pemuda perantau.

Selepas lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Sukoharjo, Jawa Tengah, lalu merantau ke Surabaya pada 1989. Dengan minimnya bekal keterampilan, diakuinya tidak mudah untuk hidup di Surabaya waktu itu.

Meskipun ada saudara hidup berkecukupun di Surabaya, tidak langsung minta bantuan. Ia tetap berupaya agar bisa mandiri, meskipun tentu tidak mudah. Tapi itulah, lagi-lagi pengalaman hidup yang mesti dijalani. Semua membawa hikmah dan mendewasakan pemikiran.

Akhirnya pada tahun itu pula ia mendaftar sebagai karyawan sebuah perusahaan, PT Lestari Grup yang bergerak di bidang pelayaran, bongkar muat dan ekspedisi. Cak War, memulai dari bawah, staf administrasi. Dari situ, Warsito muda mulai menyadari betapa tidak mudah bekerja yang tidak dibekali keterampilan yang memadai.

Namun ia mesti menjalani. Tidak ada pilihan lain. Di benaknya terus berkobar semangat untuk lebih baik, lebih mandiri. Rupanya jeritan hati Warsito didengar Yang Maha Kuasa. Tidak lama bekerja di bidang yang berkaitan dengan kepelabuhan, tahun itu pula ada informasi lowongan kursus singkat tentang manajemen kepelabuhan dari Port Singapure Administration (PSA), salah satu perusahaan operator pelabuhan terbesar di dunia.

Maka ia mendaftar dan lolos seleksi alias diterima untuk mengikuti kursus selama enam bulan di Singapura. Masa kursus dia jalani dengan penuh semangat, karena dia yakin dari kursus itu, ia akan mendapat bekal ilmu yang sangat bermanfaat Managemen kepelabuhan.

Sepulang dari Singapura itulah, kesibukan Warsito tidak lagi sebatas sebagai karyawan, namun ia juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada tenaga tenaga atau staf yang bergerak di bidang kepelabuhan. Tujuannya, bagaimana tata kelola di pelabuhan berjalan lebih efektif dan efisien, karena ia memang menguasai di bidang itu. Dengan ilmu yang dimiliki, Warsito sering keliling Indonesia. Ia pun makin percaya diri karena ilmu yang dimiliki. “Ya saya mulai dihargai orang lah, karena saya punya ilmu tentang tata kelola kepelabuhan,” akunya.

Ilmu bertambah, kolega juga bertambah. Hal itu menjadikan Warsito tidak lagi semata mengurusi bisnis. Sejak 2011, Warsito mulai berkecimpung di Yayasan Jati Diri Bangsa Wilayah Jawa TImur yang bergerak di bidang membangun karakter bangsa, lewat seminar dan sarasehansarasehan.Di yayasan sosial ini ada Bambang Sulistomo, politisi kawakan yang juga petera pahlawan Bung Tomo maupun tokoh-tokoh nasional lainnya.

Dari pergaulan dengan banyak tokoh inilah, Warsito banyak belajar tentang banyak hal, termasuk bisnis maupun politik. Dia leluasa bisa masuk berbagai lini masyarakat, baik di Surabaya maupun di Jakarta.

Namun satu hal yang terus jadi pegangan Warsito, yakni menyelesaikan persoaland engan komunikasi. “Prinsip saya tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi, yang utama, kita harus membangun komunikasi. Kita sampaikan apa adanya, insya allah bisa selesai persoalan ,” jelasnya.

BERKIPRAH KEDUNIA POLITIK

Kalau akhirnya sekarang Warsito menduduki jabatan bergengsi di partai politik sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Jawa Timur, diakuinya itu bukan cita – ciita apalagi obsesi hidup. Bisa dikatakan sekarang ini sedang menjalani fase kehidupan terdampar di politik. Namun ia menikmati dengan segala risikonya.

Bergerak di bidang politik diakuinya kadang juga memberi kepuasan batin. Karena di bidang ini, kebijakan yang diambil bisa mempengarui kehidupan banyak orang. Itulah nilai strategisnya bidang politik.

“Sempat terpikir memang, di politik itu susah menemukan idealisme, semua semua serba pragmatisme dan transaksi. Ya Alhamdulillah saya tidak sedang mencari makan di dunia politik, jadi dijalani saja.

Kalau dianggap tidak cocok, jangan ancam-ancam mau pecat saya, lebih baik saya mundur saja,” kata bapak dua anak ini.Ia tahu dunia politik karena diajak oleh Harry Tanuwijaya untuk bersamasama mendeklarasikan organisasi masyarakat (Ormas) Persatuan Indonesia (Perindo) April 2013. Dari situlah perjalanan karier politiknya terus bergulir.

Di tahun politik itulah –jelang Pileg 2014- Warsito menjabat Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Surabaya. Targetnya tidak main-main, bagaimana Parpol besutan Jenderal TNI (Pur) Wiranto itu punya wakil rakyat di DPRD Surabaya karena di periode sebelumnya, 2009- 2014, belum ada. “Ya Alhamdulillah, Partai Hanura akhirnya punya 3 wakil yang duduk di DPRD Surabaya,” ujarnya.

Kini, 2017 lagi-lagi tahun politik datang lagi, karena 2018 ada pemilihan kepala daerah (PIlkada) serentak. Ia masih mempersiapkan diri bagaimana bisa berkiprah secara elegan untuk mencapai hasil terbaik. Apakah itu artinya ia siap mencalonkan diri sebagai kepala daerah? “Ah belum, lihat saja nanti, saya hanya berusaha menjalani fase hidup di dunia politik ini sebaik mungkin. Prinsipnya bagaimana kiprah yang saya jalani ini bisa memberi manfaat bagi orang banyak, tentunya juga baik bagi saya juga,” ujarnya.

DEKAT DENGAN WIRANTO

Terjun di kancah politik, diakui Warsito sebenarnya bukan cita-cita. Kalau akhirnya ia sekarang sampai menduduki jabatan penting di Parpol, hal itu ia pahami

sebagai amanah yang mesti diemban. Dunia politik yang oleh sebagian orang dipandang sebagai “kotor” karena penuh intrik, sempat membuatnya ragu untuk terus menjalani.

“Harus diakui, ada memang seperti itu, susah menemukan idealisme di dunia politik. Tapi kita kan tidak harus larut di dalamnya,” ujarnya.Setelah terjun di dunia politik, orang kadang mengkaitkan dirinya dengan tokoh tokoh nasional, seperti Jenderal TNI (Pur) Wiranto.

Diakuinya, ia memang dekat dengan Menkopolhukam tersebut karena samasama berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Kebetulan saat dia masuk Partai Hanura, Ketua DPP-nya juga masih dipegang oleh pensiunan Jenderal yang pernah jadi ajudan Presiden Soeharto.

“Kebetulan saya kan juga dari Surakarta, terus siapa yang tidak kenal dengan Pak Wiranto, kan beliau juga dekat dengan semua kader,” jelasnya. Namun diakui, dia mengenal dunia politik justru dari Harry Tanoe yang kini dikenal sebagai bos Partai

Perindo, karena sejak awal deklarasi Ormas Perindo ia sudah terlibat aktif. “Bahkan saat deklarasi Ormas Perindo di Sidoarjo Tahun 2013 lalu, saya ketua panitia. Jadi saya terjun dan mengenal politik dari Pak Harry Tanoe,” ujarnya.

SIAPA SIH DIA

Pengalaman Organisasi/Partai Politik
– 2011 Berkecimpung di Yayasan Jati Diri Bangsa Wilayah Jawa TImur (bergerak di Character building) – 2013, salah satu deklarator Ormas Partai Perindo
– 2013, Sekretaris DPC Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Surabaya
– 2016, Sekretaris DPD Partai Hanura Jawa Timur
– 2017, Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur
– 1989 – 1994, Staf di PT Sejati Group (bergerak di Shippping Line/stevedoring/forwarding)
– 2001 – sekarang, bersama 33 pengusaha kecil mendirikan Koperasi Jasa Angkutan PT MAJU BERSAMA di Jl Perak Timur No 512 Blok I No 1 Surabaya
– 2007 – sekarang selaku pemilik PT PRIMA MAKMUR SENTAUSA ABADI (bergerak di bidang pelayaran, bongkar muat dan ekspedisi.

Lahir : Sukoharjo, 24 Juni 1969
– SD Negeri Bekonang
– SMP Negeri I Bekonang, Sukoharjo
– SMEA Negeri I Sukoharjo
– S1 Jurusan Managemen FIA Universitas Dr Soetomo
– S2 (Magister Manegemen) Universitas Dr Soetomo. (*/hery)

Leave a Reply


*