05/04/2025

Jadikan yang Terdepan

Mengembalikan Fungsi Pemuda Sebagai Tonggak Perubahan

Oleh Irma Faryanti

Pegiat Literasi

Tanggal 28 Oktober biasa diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda, sebuah peristiwa yang dianggap bersejarah menandai semangat persatuan, kesatuan dan perjuangan dalam mencapai kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Dalam rangka momen ini pula, Presiden Joko Widodo mengajak semua pihak untuk memajukan negara tercinta.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia menyatakan bahwa negeri ini memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 berupa bonus demografi yang akan mencapai puncaknya di tahun 2030 mendatang. (Beritasatu.com, Sabtu 28 Oktober 2023)

Oleh karenanya, presiden menekankan agar bangsa ini mampu memanfaatkan peluang tersebut melalui dua strategi utama, yaitu: Pertama, dengan mempersiapkan sumber daya manusia agar siap memasuki pasar tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi. Kedua, melalui peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan rakyat dengan cara mengeksploitasi sumber daya alam yang dimiliki.

Senada dengan Presiden, Pramono Anung sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab) berharap peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk meningkatkan persatuan para pemuda untuk memajukan Indonesia. Ia berharap perkembangan teknologi tidak menjadikan mereka generasi instan, tapi harus melalui proses keras dan ditempa berbagai pengalaman.

Mengingat keberadaan mereka sebagai pilar-pilar bangsa yang sangat berperan besar bagi pembangunan. Seskab pun berpesan agar jiwa patriotisme harus senantiasa digelorakan oleh kaum muda untuk mengingatkan tentang sejarah gotong royong seluruh elemen.

Pada momen yang sama, Sesjen Kemendikbud Ristek, Suharti menghimbau agar seluruh ekosistem dunia pendidikan kebudayaan, riset dan teknologi menjadikan momentum Sumpah Pemuda untuk membangkitkan semangat kolaborasi dan memajukan negeri, antar generasi dan sektor.

Saat itu, ia pun berkesempatan membacakan naskah pidato Menteri Pemuda dan Olahraga, Ario Bimo Nandito Ariotedjo dengan tema “Bersama majukan Indonesia”, disertai logo HSP ke-95 yang memiliki makna membentuk stilasi barisan manusia dan warna-warni yang menyimbolkan heterogenitas sebagai sumber kekuatan.

Jika dilihat dari sejarah panjangnya, proses proklamasi kemerdekaan RI terjadi akibat desakan pemuda. Semangat itu pula yang senantiasa digelorakan setiap tahunnya. Namun sayangnya, hingga detik ini kebangkitan yang diharapkan belum juga terwujud. Alih-alih bangkit, negeri ini semakin terperosok dalam keterpurukan. Di mana kezaliman, kemiskinan, kebodohan, korupsi dan disintegrasi semakin merajalela.

Sementara itu, di sisi lain para pemuda tengah didera sikap pragmatis, apatis, permisif, perilaku menyimpang dan bobroknya mentalitas. Tidak sedikit yang bersikap tidak peduli akan urusan negeri dan menjauh dari berbagai aktivitas politik. Maka tidak heran yang terbentuk adalah generasi yang gemar tawuran, terjebak dalam pergaulan bebas, narkoba, penyimpangan seksual, hedonis, dengan pola pikir dan sikap yang lebih cenderung kebarat-baratan.

Inilah dampak sistem yang tengah diterapkan saat ini yaitu kapitalisme yang memunculkan sekularisme-demokrasi. Ide inilah yang menjadi akar masalah dari kerusakan yang terjadi. Pemuda dibentuk menjadi robot-robot produksi perusahaan, alih-alih mewujudkan kemajuan justru mereka terperosok pada kemunduran. Negara pun semakin didera keterpurukan dan kesengsaraan karena generasi mudanya lebih memilih menjadi pembebek yang kehilangan identitas diri dan abai akan nasib negeri. Pun jika ada yang peduli, persentasenya sangat kecil.

Oleh karenanya, jelas sudah bahwa kapitalisme sekuler menjadi biang permasalahan. Kebangkitan yang diserukan hakikatnya hanyalah semu belaka. Untuk itu, harus ada upaya perubahan dengan merujuk kembali pada sistem yang berasal dari Allah Swt. yang telah mampu mengangkat umat pada puncak peradaban selama lebih 13 abad lamanya. Di bawah kepemimpinan seorang penguasa yang amanah yang menjalankan aturan Penciptanya secara konsekuen, sehingga menjadi kunci terjadinya perubahan hakiki.

Sebagai sistem yang khas, Islam memiliki metode penyelesaian yang efektif bagi seluruh permasalahan kehidupan yang bersumber dari al Qur’an dan as Sunnah yang menjadi pokok dari syariat.

Rasulullah saw. bersabda dalam HR. Ahmad dan Hakim: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.”

Pada masa Rasulullah saw. beliau sering mengerahkan generasi muda untuk menyebarkan dakwah, sehingga Islam pun tersebar dan menjadi kekuatan besar pada saat itu. Bahkan melalui tangan sosok pemuda bernama Mush’ab bin Umair lah, umat Islam akhirnya mendapatkan pertolongan dari Yatsrib.

Begitu besar peran pemuda, mereka lah penentu tonggak perubahan. Mereka berperan besar dalam mengembalikan kedaulatan di tangan syara, dan menegakkan hukum-hukum Allah Swt. dalam naungan sistem kepemimpinan Islam yang akan mengangkat umat dari keterpurukan. Wallahu alam Bissawab