05/04/2025

Jadikan yang Terdepan

Menyoal Kepedulian terhadap Tetangga

Oleh Ummu Kholda
Pegiat Literasi, Komunitas Rindu surga

Tetangga merupakan orang yang paling dekat, bahkan bisa jadi bagian dari keluarga kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya berbuat baik kepada mereka. Karena bisa jadi ketika musibah menimpa keluarga atau sakit, merekalah orang yang pertama kali bisa menolongnya. Atau sebaliknya, ketika tetangga sakit atau terkena musibah kitalah yang menolong mereka. Jangan sampai sebagai tetangga tidak mengetahui apalagi jika sampai orangnya meninggal dunia. Seperti kasus yang terjadi di Cinere, Depok beberapa waktu lalu.

Dilansir Kompas.com, (8/9/2023) dimana telah ditemukan jasad seorang ibu berinisial GAH (68) dan anak laki-lakinya berinisial DAW (38) dalam kondisi telah membusuk di kediaman mereka pada Kamis, 7 September 2023. Diketahui, mereka tinggal di Perumahan Bukit Cinere, Depok, dan dikenal baik di lingkungannya. Namun entah mengapa mereka tewas dalam kondisi tak wajar dan mengenaskan. Sementara ini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya.

Untuk itulah, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Hengki Haryad, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) usai menemukan sebuah surat di dalam laptop dengan melibatkan Apsifor (Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia). Tulisan berbahasa Inggris tersebut masih dalam proses penyelidikan secara induktif sehingga Hengki masih enggan menyimpulkannya sebagai wasiat. Selain secara induktif, penyelidikan juga dilakukan secara deduktif, yakni dengan berdasarkan keterangan dari tetangga. Seperti kapan terakhir penghuni keluar rumah, membeli air dan sebagainya. Hingga nantinya akan mengarah kepada suatu sebab, apakah meninggal secara alami, dibunuh, kecelakaan, atau sebab lainnya.

Sikap Individualis

Tragedi penemuan mayat tinggal kerangka di atas, sungguh miris. Mayat ditemukan kurang lebih sudah satu bulan membusuk di rumahnya. Padahal rumah tersebut berdekatan dengan para tetangga, yang semestinya ada rasa curiga ketika tetangga tak kunjung terlihat keluar rumah. Apalagi sekarang kita hidup di era digital, semestinya hal keterlambatan tersebut tidak harus terjadi. Karena bisa komunikasi melalui aplikasi whatsapp, atau grup whatsapp setempat, tingkat RT misalnya.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, tetangga baru menyadari ketika mau mengajak GAH mengikuti sebuah acara, akan tetapi yang didapati rumah dan pagarnya terkunci, serta dan terlihat sudah lama tidak ada aktivitas. Sehingga terkuaklah jika GAH dan anaknya DAW ternyata sudah tak bernyawa.

Kejadian tragis ini mencerminkan betapa kehidupan masyarakat kian kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Dengan kata lain individualisme telah menjadi karakteristik masyarakat yang hidup dalam negara sekuler kapitalis. Sistem ini meniscayakan kehidupan yang mementingkan diri sendiri, tidak mau tahu urusan orang lain. Bahkan dalam sistem kapitalis ini kepedulian dianggap sebagai campur tangan terhadap urusan orang lain. Alhasil tidak sedikit yang menarik diri dari masyarakat, agar tidak terlibat dengan urusan orang lain.

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Sejatinya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang kerap membutuhkan interaksi dengan lingkungan. Selain itu, manusia juga diciptakan dengan kelemahan juga kealpaannya. Maka dari itu manusia membutuhkan orang lain untuk berbagi ruang interaksi sosial, baik secara fisik (bertatap muka langsung) maupun secara digital (chatting). Manusia juga membutuhkan orang lain untuk berbagi kebaikan, saling menjaga, dan mengasihi.

Demikian juga hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan ruang interaksi dengan orang lain berupa amar makruf nahi mungkar atau berdakwah. Karena dengan berdakwah akan ada pengaruh positif, dengan berbagi ilmu dan kebaikan sehingga akan tercipta masyarakat yang saling peduli dan menyayangi satu sama lain.

Sayangnya semua itu masih sulit terwujud. Sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan meniscayakan kehidupan dengan perilaku liberal (bebas). Oleh karena itu, masyarakat bebas menentukan sikap yang diinginkan dalam bermasyarakat termasuk bersikap anti sosial (ansos). Maka negara tidak mempermasalahkan jika masyarakat bersikap demikian.

Negara yang mengemban sistem kapitalisme sekuler justru menjamin kebebasan individu. Negara tidak boleh mengekang kebebasan masyarakat, karena hal ini akan dipandang melanggar hak asasi seseorang. Hubungan yang terjalin antar masyarakat dalam sistem ini juga tak jauh dari adanya kepentingan dan materi semata. Sebab standar kebahagiaan yang dicapai di masyarakat adalah standar materi berupa harta, kekuasan, ketenaran, dan sebagainya. Alhasil, jika sudah tercapai tujuan tersebut, maka tidak akan membutuhkan orang lain lagi, dan tumbuhlah sikap acuh terhadap lingkungan. Maka dari itu, ‘wajar’ jika kerap terjadi penemuan mayat di berbagai tempat.

Interaksi Sosial dalam Islam

Islam sebagai agama sekaligus pandangan hidup mempunyai pandangan tersendiri terkait kepedulian terhadap tetangga. Jika di dalam sistem kapitalis kepedulian dianggap sebagai campur tangan terhadap orang lain, Islam menjadikan kepedulian terhadap tetangga sebagai akhlak yang mulia, bahkan merupakan suatu keharusan.

Islam memahamkan bagaimana konsep masyarakat, terutama masyarakat Islam. Masyarakat dimaknai sebagai sekumpulan orang yang memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama dan di dalamnya terjadi interaksi sosial berdasarkan peraturan Islam. Interaksi ini tidak hanya terjalin antar sesama muslim saja, akan tetapi terhadap tetangga nonmuslim juga.

Selain itu, Islam juga mengatur bagaimana adab dan aturan bertetangga. Aturan ini yang akan menjauhkan masyarakat dari sikap individualistik karena Islam sendiri menganjurkan untuk peduli terhadap sesama, terlebih dengan tetangga. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya: “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Muslim)

Hadis di atas telah jelas menggambarkan bagaimana Islam menganjurkan untuk memuliakan tetangga, karena berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari syariat Islam. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. yang lain: “Jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.” (HR. Muslim)

Dalam Islam, interaksi yang dibangun harus berlandaskan akidah Islam, tidak semata berdasarkan manfaat atau materi. Hal itu agar terwujud tujuan penciptaan manusia, yakni menjadi hamba Allah dan untuk beribadah kepada Allah Swt.. Islam juga mengabarkan bahwa standar kebahagiaan adalah ridha Allah. Kemuliaan manusia bukan diukur dari banyaknya kekayaan atau capaian-capaian dunia lainnya yang diraih, akan tetapi dari ketakwaannya kepada Allah Swt..

Dengan pengaturan Islam yang sempurna di setiap aspek, maka akan didapati mayarakat yang hidup rukun dan saling memperhatikan atau peduli terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, mempunyai tetangga yang baik merupakan anugerah, sehingga kita harus saling menjaga dan peduli satu sama lain. Hal itu agar tidak terjadi lagi peristiwa mengenaskan seperti kasus di atas yang terjadi akibat pola hidup individualistik buah dari sistem kapitalisme sekuler yang masih diemban oleh negeri ini. Karenanya, sudah semestinya kita membuang jauh-jauh sistem yang merusak ini dan beralih kepada sistem yang shahih (benar) agar kehidupan berjalan dengan baik. Wallahu a’lam bi ash-shawab.