05/02/2023

Jadikan yang Terdepan

Waspada Desakralisasi Al-Qur’an di Tengah Umat

Oleh Ummu Kholda
Komunitas Rindu Surga, Pegiat Dakwah

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam sekaligus sebagai petunjuk bagi manusia. Sudah seharusnya kita sebagai umat muslim menghargai dan mengetahui adab dalam membacanya. Lebih dari itu kita juga wajib mempercayainya karena Al-Qur’an juga kalamullah yang berisi kebenaran dari Allah Swt..

Namun sayangnya, kesucian Al-Qur’an kembali ternodai. Belum lama ini viral di media sosial aksi sawer terhadap seorang qariah yang berinisial NH. Aksi tersebut dilakukan oleh sejumlah laki-laki yang nekat naik ke panggung bahkan salah satunya terlihat menyelipkan uang di kerudung qariah. Kejadian itu berlangsung saat qariah menghadiri acara maulid di Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Oktober 2022 lalu.

Setelah peristiwa itu, qariah pun angkat bicara. Ia merasa tidak dihargai, akan tetapi tidak bisa marah karena sedang mengaji. Tidak mungkin juga langsung menegur dan berhenti, bahkan turun panggung karena ia masih ingat adab dalam membaca Al-Quran. Baru setelah turun panggung ia menegur panitia sebagai penanggung jawab acara tersebut. (Kompas.com, 6/1/2023)

Selain qariah itu sendiri, beberapa kalangan pun ikut mengecam. Salah satunya dari UstazHilmi Firdaus melalui twitternya yang menyatakan bahwa aksi sawer tersebut tidak beradab. Ketua MUI Pusat, K.H Cholil Nafis pun melakukan hal yang sama. Beliau menganggap tindakan tersebut tidak sopan kepada majelis dan haram dilakukan. Selain itu, beliau juga mengkritisi para ulama dan masyarakat yang hadir di sana tetapi membiarkan peristiwa tersebut terjadi. (Medcom.id, 5/1/2023)

Sungguh miris, di negeri mayoritas muslim, yang harusnya menjunjung tinggi adab. Akan tetapi justru terjadi peristiwa yang minim adab terlebih hal itu dilakukan terhadap qariah yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Tentu ini adalah sebuah pelecehan bahkan bentuk desakralisasi terhadap Al-Qur’an. Kesucian Al-Qur’an tidak lagi dijunjung tinggi, malah sebaliknya diperlakukan tidak sopan layaknya penyanyi dangdut yang kerap mendapat saweran ketika manggung.

Namun tidak aneh, di zaman sekarang ketika manusia berada pada iklim yang jauh dari agama atau sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) perilaku sawer seperti di atas seolah sah dan wajar saja. Prinsip kebebasan bertingkah laku tanpa memandang boleh tidaknya dalam agama kian dijadikan standar dalam perbuatan. Alhasil kehidupan semakin bebas, saling menghina, tidak bisa menghargai orang lain, bahkan saling menjatuhkan satu sama lain kerap mewarnai kehidupan ini.

Selain sekuler, atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) perilaku manusia kian tak terkendali. Demi kepuasan pribadi manusia rela berbuat seenaknya sekalipun melanggar norma. Ditambah lagi kehidupan Kapitalisme yang menjadikan materi dan kepuasan jasmani sebagai tolok ukur perbuatannya. Kebahagiaan yang diperoleh hanya dilihat dari banyaknya uang, sebagaimana yang dicontohkan oleh dua orang penyawer yang menganggap hal itu sebagai bentuk penghormatan terhadap qariah.

Aksi sawer qariah tentu jika dibiarkan akan sangat berbahaya. Bahkan bisa jadi semakin meluas dan kian tak terkendali dilakukan oleh kaum Muslim. Mereka tidak lagi menganggap Al-Qur’an sebagai kitab suci yang wajib disakralkan. Akan tetapi dianggap layaknya sebuah buku yang sekadar untuk dibaca. Maka dari itu, selain akan menggerus keimanan kaum Muslim juga akan menjauhkan umat dari Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya.

Kita sebagai umat Muslim tentu tidak ingin peristiwa sawer qariah atau pelecehan yang sejenisnya terus berulang. Karena Islam justru sangat menghormati Al-Qur’an sebagai kalamullah Sebagai penerang di kala manusia berada dalam kegelapan. Karena di dalamnya terdapat banyak sekali nasihat dan berbagai petunjuk agar manusia selamat dunia dan akhirat.

Oleh karenanya kita wajib menjaga kemurnian dan kesakralan Al-Qur’an. Kita harus mencegah desakralisasi Al-Qur’an dengan menciptakan lingkungan yang kondusif. Yakni menciptakan suasana lingkungan sekolah dan rumah bahkan masyarakat agar dekat dengan Al-Qur’an. Akan tetapi kedekatan tersebut bukan sebatas ditempatkan di rak buku, menciumnya, membaca dan menghafalnya. Lebih dari itu adalah memahaminya dan menerapkannya dalam kehidupan. Karena Al-Qur’an adalah petunjuk hidup sebagaimana janji Allah kepada umat-Nya ketika mengikuti Al-Qur’an.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 9 yang artinya:”Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Ayat di atas menunjukkan bagaimana kita harus memperlakukan Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup manusia, dan Allah Swt. akan memberikan ganjaran pahala yang berlimpah jika umat mengikuti petunjuk-Nya. Namun selama kita masih bernaung di bawah alam Kapitalisme Sekularisme, kehidupan yang diharapkan sesuai dengan Al-Qur’an akan demikian sulit terwujud. Bahkan mereka akan terus dipengaruhi pemahaman Barat yang semakin menjauhkan umat dari agama, serta menjunjung kebebasan. Yang pasti umat saat ini membutuhkan sebuah institusi yang menaungi dan mampu menjaga kemuliaan Al-Qur’an dan pembacanya juga penerapannya secara kaffah (menyeluruh) dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.