05/02/2023

Jadikan yang Terdepan

Abai Peran Ibu, Mengejar Viral Demi Terkenal

Oleh Irma Faryanti
Member Akademi Menulis Kreatif

“Si anti kritik”. Demikianlah netizen yang geram melihat sikap bebal yang ditunjukkan oleh salah seorang influencer terkenal di negeri ini. Seketika namanya pun mencuat ke permukaan, bukan karena prestasi yang telah ia torehkan melainkan karena aksi nekad yang dilakukan bersama sang suami dengan mengajak putrinya yang masih balita naik jetski di lautan luas.

Pada saat itu, sang ayah mengendarai jetski sembari menggendong buah hatinya yang baru berusia 5 bulan. Sang bayi pun tampak ketakutan dan berpegangan erat pada tubuh ayahnya, sementara orang tuanya tertawa lepas melihat ekspresi anak mereka. Kontan netizen pun ramai-ramai menghujat perilaku mereka. Kolom komentar ramai dengan berbagai ungkapan pedas, yang tidak hanya dilontarkan oleh rakyat Indonesia tapi juga mancanegara. (Liputan 6.com 6 Januari 2022)

Selain naik jetski, sang anak juga diajak mengendarai ATV (All Terrain Vehicle). Dengan dalih untuk mendidik putrinya menjadi pemberani, ia pun membawanya dalam gendongan hingga anaknya terlelap tidur. Kedua unggahan video tersebut pun seketika ramai dengan kritikan pedas di kolom komentar. Namun alih-alih menghentikan aksinya, sang influencer seakan tak bergeming. Bahkan beberapa pernyataan ia tanggapi dengan santai dan ringan.

Melihat perilaku keduanya, tentu siapapun bisa menilai bahwa perbuatan itu keliru dan tidak patut dilakukan. Betapa tidak, untuk bisa menaiki jetski ada aturan yang mesti dipatuhi, salah satunya adalah keharusan penumpang meletakan kedua kakinya di atas pijakan kaki kendaraan, sementara balita dipastikan tidak dapat melakukannya, tentu akan beresiko besar. Pun ketika sang anak sudah bisa diajak naik, pengendara dilarang membawanya dengan kecepatan tinggi.

Begitu pula halnya dengan ATV, anak berusia dibawah 6 tahun dilarang diajak mengendarainya karena secara fisik, mental dan kemampuan belum dianggap mumpuni untuk berada di atas kendaraan tersebut. Sejak tahun 1985 hingga 2015, tercatat 3000 anak yang berusia 16 tahun tewas dan 1 juta lainnya dilarikan ke UGD akibat mengemudikan kendaraan tersebut.

Tidak dipungkiri, saat ini dunia maya menjadi sumber pundi uang yang menjanjikan. Orang beramai-ramai menjadi influencer, Youtuber ataupun content creator untuk mendulang kesuksesan. Untuk itu, mereka berlomba sebanyak mungkin membuat konten yang dapat menarik perhatian masyarakat. Menjadi viral adalah tujuan utamanya. Maka dibuatlah berbagai vlog, mulai dari yang mengedukasi, lucu, konyol, ekstrim, hingga yang tidak masuk akal, semua sekedar demi menjadi terkenal.

Demikianlah ketika individu telah terpedaya kapitalisme. Sistem yang mengusung ide sekularisme ini menjadikan materi sebagai prioritas utama. Harta, kehormatan, pujian seakan menjadi tujuan yang selalu ingin dicapai untuk meraih nilai kebahagiaan. Demi eksistensi diri, dikenal dan viral, anak pun dijadikan sebagai objek eksploitasi. Tanpa memikirkan keselamatan, kenyamanan dan mental buah hati, semua diabaikan untuk kepentingan pribadi.

Ide kebebasan yang juga diserukan kapitalisme, telah membentuk individu yang bebal kritik, merasa diri benar dan berlindung dibalik hak dan kebebasannya dalam berpendapat dan berekspresi. Tanpa menyadari peran besarnya sebagai seorang ibu, sang influencer merasa berwenang melakukan apapun sesuka hatinya, tanpa memikirkan dampak yang akan dialami buah hatinya. Padahal sebagai publik figur, semestinya ia memberi contoh baik karena setiap perbuatannya akan senantiasa ditiru oleh followersnya.

Sebagai pencetak generasi berkualitas, seorang ibu harus lebih mawas diri dan berhati-hati dalam bertingkah laku. Senantiasa menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi sekitar. Karena perannya yang begitu mulia dalam pandangan Islam, yaitu sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya maka ia harus memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mengasuh dan memberikan pendidikan.

Oleh karena itu, seorang ibu harus membekali diri mereka dengan pemahaman Islam agar dapat mendidik anak-anaknya, menanamkan akidah dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, sehingga dapat menghasilkan generasi yang akan membangun peradaban cemerlang.

Anak adalah anugerah dari Allah Swt. yang harus dijaga sebaik-baiknya. Merekalah aset generasi yang akan melanjutkan perjuangan di masa depan, titipan bagi para orang tua yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia juga akhirat. Oleh karenanya, kedua ibu bapaknya wajib menjaga tumbuh kembangnya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Untuk itu, Islam akan memberikan tuntunan bagi kaum ibu yang merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak agar dapat menjalankan peran dalam menjaga keselamatan anaknya sejak dari dalam kandungan hingga dewasa. Disinilah negara berperan dalam memberikan edukasi kepada para orang tua khususnya kaum ibu agar memahami kewajiban mereka terhadap buah hatinya.

Sistem pendidikan berbasis akidah Islam akan membantu para orang tua dalam mendidik anaknya, agar mereka memahami bahwa tujuan tertinggi dari hidup adalah mendapat rida dari Allah Swt. bukan semata untuk pencapaian materi duniawi hingga mengabaikan standar halal haram. Perlindungan dan keamanan bagi anak adalah utama, mengingat mereka adalah aset berharga bagi masa depan umat.

Maka orang tua dilarang melakukan eksploitasi dalam bentuk apapun yang dapat membahayakan keselamatan anak, terlebih memanfaatkannya untuk meraup keuntungan materi. Adalah kewajiban ibu bapaknya serta negara dalam menjaga dan melindungi, memberikan jaminan keamanan dan memenuhi seluruh kebutuhannya, sehingga terjaga dari segala bentuk kerusakan dunia.

Begitu besar perhatian Islam terhadap anak, mengingat berharganya mereka sebagai penerus peradaban. Oleh karenanya perlindungan dari segala macam bentuk eksploitasi harus segera ditindaklanjuti bahkan diberi sanksi. Untuk itu, peran keluarga sangat dibutuhkan, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS at Tahrim ayat 6 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya.”

Sinergi antara orang tua sebagai pendidik utama dan negara sebagai pemberi sanksi atas segala bentuk eksploitasi, akan mengantarkan kepada tujuan yang diharapkan yakni membentuk anak sebagai generasi berkualitas di masa depan. Namun hal ini baru akan terlaksana sempurna dalam naungan sebuah kepemimpinan Islam, dengan pelaksanaan syariat Allah di setiap aspek kehidupan.

Wallahu a’lam Bishawwab