17/04/2021

Jadikan yang Terdepan

LAKON WAYANG SUKRASANA DAN SUMANTRI: Sukrasana Sebagai Liyan Oleh Sumantri: Gambaran Rakyat Jelata dengan Pejabat Penguasa

Konsep liyan menurut Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto, dalam filsafat liyan (other) di chanel youtube STFT Widya Sasana. Mengatakan bahwa liyan dalam dunia politik Yunani kuno adalah orang yang tersisih dalam politik seperti perempuan, anak-anak dan budak, dalam periode sejarah kolonialisme, liyan adalah orang-orang yang tertindas.

Di dalam pewayangan lakon Sukrasana dan Sumantri adalah sebuah cerita penggambaran kesetiaan sang adik yaitu Sukrasana kepada kakaknya Sumantri yang di dalam ceritanya sang adik sangat sayang dan setia dengan sang kakak. Sukrasana merupakan sosok ksatria yang memiliki kesaktian yang luar biasa,tetapi dia mempunyai wajah yang buruk rupa serta kerdil bagaikan raksasa kecil. Sedangkan sang kakak yaitu Sumantri adalah seseorang yang ambisius dengan kekuasaan serta sangat sombong.

Sukrasana sangat sakti,maka Sumantri selalu minta tolong kepada adiknya untuk ambisinya meraih jabatan guna mendapatkan kekuasaannya. Sumantri berpesan kepada adiknya Sukrasana, untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia telah dibantu oleh Sukrasana, sehingga yang diketahui banyak orang, jabatan yang di raih Sumantri terkesan murni dari perjuangannya sendiri.

Sumantri sudah menjadi mahapatih di negara Maespati. Ketika sang ratu meminta kepada sang raja Maespati untuk membuatkan taman Sriwedari, maka sang raja Maespati memerintahkan Sumantri untuk memindahkan taman Sriwedari dari kahyangan ke negara Maespati. Karena Sumantri merasa tidak bisa memindahkan taman Sriwedari tersebut maka Dia meminta tolong lagi kepada Sukrasana untuk memindahkan Taman Sriwedari tersebut. Sukrasana menyanggupinya dengan syarat bahwa Sukrasana dibolehkan ikut kemanapun Sumantri pergi.

Dengan kesaktian Sukrasana maka taman Sriwedari berhasil dipindahkan ke negara Maespati. Sumantri berterimakasih dengan adiknya itu akan tetapi ketika ikut kemana-mana Sukrasana harus bersembunyi dan tidak boleh di ketahui oleh masyarakat umum karena dia malu mempunyai adik yang wajahnya sangat jelek dan berbentuk kerdil.

Pada suatu hari, di kala sang ratu ingin bersenang-senang di taman Sriwedari tiba-tiba sang ratu ketakutan karena telah melihat Sukrasana yang berwajah buruk dan berbadan kerdil itu. Sehingga sang ratu mengadukannya kepada sang raja. Lalu sang raja memerintahkan kepada Sumantri untuk memeriksa keadaan di taman Sriwedari.

Setelah tiba di taman Sriwedari, ternyata yang ditemuinya adalah adiknya sendiri yaitu Sukrasana. Sumantri sangat malu dengan paras wajah adiknya itu, sehingga Sumantri mengancam adiknya untuk segera pergi meninggalkan negara Maespati dengan “ngagag-agagi” atau menakut-nakuti dengan senjatanya. Akan tetapi sangat miris, senjatanya mengenahi sungguhan dan menancap di dada sang Sukrasana sehingga tewas di tangan Sumantri. Walaupun dengan penyesalan yang dalam, Sumantri menganggap itu sebagai hal yang tidak penting karena ambisinya untuk menjadi pejabat dan kekuasaan telah dicapainya.

Dalam hubungan adik kakak di keluarga ini, ketika keluarga adalah “kita atau kami” secara utuh, rukun dan sejahtera seorang saudara adalah bagian dari hidupnya.
Dalam “Filsafat Kita” di chanel youtube STFT Widya Sasana, Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto mengatakan “keluarga berangkat dari relasi komunikasi aku engkau dengan fondasi cinta, dalam ilmu sosial relasi komunikasi aku engkau adalah relasi intersubyektif, ketika relasi intersubyektif memudar atau meredup maka konsekwensinya, tata hidup menjadi kacau, akan ada pertikaian dan konflik.

Maka muncul liyan (other) sebagai musuh”.
Dengan adanya pernyataan diatas tersebut, bahwa Sukrasana dan Sumantri hidup dalam satu keluarga sebagai saudara kandung. Ketika keluarga mempunyai fondasi cinta dan kasih sayang sesama individu maka dalam keluarga akan tercipta kerukunan dan ketentraman dalam sebuah keluarga. Ketika relasi intersubyektif dalam fondasi cinta dan kasih sayang memudar atau meredup maka akan memunculkan Sukrasana sebagai “liyan” yang dianggap menghambat karier Sumantri untuk ambisinya untuk menjadi pejabat dan penguasa.

Dalam lakon ini, hubungan Sukrasana dan Sumantri adalah gambaran kesetiaan dan fairness sang Sukrasana, yang telah dikhianati oleh ambisi dan kesombongan Sumantri karena sebuah jabatan dan kekuasaan. Pada posisi ini sang Sukrasana di anggap “liyan” oleh sang Sumantri karena ambisinya untuk menjadi pejabat yang berkuasa telah tercapai walaupun mengorbankan saudaranya.

Lakon Sukrasana dan sumantri terkait dengan kondisi realitas kehidupan saat ini. Penggambaran Sukrasana sebagai rakyat jelata dan Sumantri sebagai sesosok calon pejabat yang ingin memperoleh jabatannya demi kekuasaan. Apapun dilakukan oleh calon para pejabat demi ambisinya untuk meraih kekuasaan. Di awal-awal selalu minta tolong kepada rakyat jelata, sebagai bentuk mencari dukungan untuk mencari suara. Sedangkan ketika jabatan dan kekuasaan itu telah di raihnya. Para pejabat itu telah lupa, bahkan rakyat jelata di matikan hak-haknya demi ambisi dan kekuasaan yang legih tinggi. Rakyat jelata menjadi “liyan” di mata para pejabat dan penguasa. Seharusnya komunitas masyarakat adalah “kita atau kami” karena relasi intersubyektif sudah memudar atau meredup karena sebuah tujuan kepentingan yang berbeda maka yang terjadi rakyat jelata menjadi “ liyan”.

Penulis: Adiyanto
Mahasiswa S3, Program Doktor Ilmu Sosial Fisip Unair
Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Prov. Jatim