06/02/2021

Jadikan yang Terdepan

KPPU UMUMKAN HASIL INDEKS PERSAINGAN USAHA UNTUK TAHUN 2020

Surabaya, KG – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan bahwa Indeks Persaingan Usaha (IPU) di Indonesia untuk tahun 2020 mengalami penurunan dari
sebesar 4.72 pada tahun 2019 menjadi 4.65 pada tahun 2020. IPU merupakan ukuran
tingkat persaingan usaha yang komprehensif dalam memberikan indikasi apakah suatu
sektor atau daerah tertentu memiliki tingkat persaingan usaha yang tinggi atau rendah.

Indeks ini dikembangkan KPPU sejak tahun 2011 dan berhasil mengukur tingkat
persaingan usaha bahkan secara nasional (pengukuran dilakukan di 34 Provinsi). IPU
juga merupakan salah satu amanat pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, dimana IPU menjadi salah satu target nasional
dalam Program Prioritas 6, yakni dalam hal peningkatan nilai tambah, lapangan kerja dan
investasi di sektor riil, dan industrialisasi.

IPU disusun dengan menggunakan konsep atau paradigma SCP (Structure,
Conduct, dan Performance) dan turut mempertimbangkan sisi dimensi pasar (kondisi
permintaan dan penawaran), dimensi regulasi serta dimensi kelembagaan (pemahaman
responden terhadap kelembagaan dan kebijakan persaingan usaha). Metode yang
digunakan KPPU dalam perhitungan bobot untuk setiap dimensi adalah Principal
Component Analysis (PCA) dan bobot sama.

Penggunaan bobot sama untuk
menjumlahkan skor seluruh dimensi dilakukan agar perbandingan skor indeks
persaingan usaha setiap tahun dapat dilakukan. Berdasarkan survei dan perhitungan
yang dilakukan, diketahui bahwa skor IPU berdasarkan dimensi keseluruhan adalah
sebesar 4.50 (bobot PCA) dan 4.65 (bobot sama). Sementara skor IPU berdasarkan
dimensi SCP adalah sebesar 4.39 (bobot PCA) dan 4.26 (bobot sama).

Dibandingkan
tahun sebelumnya, indeks di tahun 2020 (dimensi keseluruhan dan dengan skor bobot
sama) mengalami penurunan dari sebesar 4.72 pada tahun 2019 menjadi 4.65 pada
tahun 2020.

Memerhatikan berbagai dimensi di atas, dimensi regulasi memiliki skor indeks
yang tertinggi yaitu 6.12. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi yang ada di daerah telah
mengarah atau mendukung pada kondisi persaingan usaha yang sehat. Dari sisi dimensi
SCP, dimensi perilaku (conduct) memiliki skor indeks terendah dibanding dimensi
struktur dan dimensi kinerja (performance).

Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi perilaku
pelaku usaha, persaingan usaha belum mengarah pada persaingan usaha yang tinggi
dan masih terdapat penguasaan pasar oleh beberapa pelaku usaha, adanya potensi kerja
sama dalam penetapan output dan harga, maupun hal lainnya yang mengarah pada
persaingan usaha yang rendah.

Dari sisi pasar, dimensi penawaran memiliki skor indeks
yang juga tidak cukup tinggi untuk mengarahkan pada persaingan yang tinggi. Dimensi
kelembagaan memiliki skor indeks sebesar 4.61, yang menunjukkan bahwa terdapat
indikasi bahwa stakeholder KPPU belum cukup memahami terkait kelembagaan serta
payung regulasi persaingan usaha di Indonesia.

Untuk tahun 2020, dimensi permintaan
memiliki skor yang paling rendah dibandingkan dimensi lainnya pada faktor lingkungan,
hal ini sejalan dengan kondisi umum yang dihadapi terkait dengan pandemi Covid-19.

Sementara itu, hasil survei KPPU juga menemukan bahwa sektor ekonomi yang
memiliki persaingan usaha tertinggi adalah sektor penyediaan akomodasi dan makanan
dan minuman. Tingginya skor pada sektor penyediaan akomodasi makanan dan
minuman tidak lepas dari perkembangan sektor pariwisata dan pembangunan
infrastruktur daerah pada beberapa periode terakhir.

Sektor yang pada umumnya
dikuasai atau dikelola oleh Pemerintah menunjukkan skor indeks persaingan usaha yang rendah, yakni sektor pengadaan listrik dan gas, serta sektor pengolahan air, pengolahan
sampah dan limbah. Sektor pertambangan dan penggalian juga memiliki skor yang relatif
rendah sebagai akibat hambatan alamiah yang disebabkan tingginya modal untuk
memulai usaha di sektor tersebut.

KPPU merupakan satu-satunya otoritas persaingan usaha di dunia yang memiliki
Indeks Persaingan Usaha. Hal ini telah menjadikan KPPU sebagai acuan bagi Negara
lain, khususnya dari berbagai Negara di kawasan ASEAN yang turut memiliki ketertarikan
untuk mengembangkan indeks tersebut. (Ro)