27/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Topan Taipan Merajai Kekayaan

Oleh: Chusnatul Jannah

David Rockefeller, orang kaya tertua di dunia pernah mengatakan, “Tidak ada yang harus merasa bersalah kalau berhasil membuat uang.” Dalam pemikiran pebisnis seperti dirinya, berpikir kapitalis adalah prinsip dasar jika ingin mendapatkan banyak uang. “Apa manfaatnya bagiku?” Kalimat tanya itu senantiasa melekat dari seorang kapitalis. Untung dan rugi adalah dua hal yang wajib dipertimbangkan dalam berbisnis maupun berpolitik.

Menjadi orang sukses dan kaya mungkin menjadi impian semua orang. Jika digelari dengan kata ‘orang kaya’ biasanya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi seseorang. Seperti yang terjadi baru-baru ini. Dilansir dari CNN Indonesia (10/12/2020), Forbes Indonesia merilis daftar orang terkaya Indonesia di musim pandemi 2020 ini.

Taipan Merajai Kekayaan

Posisi pertama masih ditempati oleh Hartono bersaudara dengan total kekayaan mencapai US$38,8 miliar atau setara Rp548,2 triliun (asumsi kurs Rp14.160 per dolar AS). Di posisi kedua, ada keluarga Widjaja dari grup Sinar Mas. Mereka menambahkan kekayaan sebesar US$2,3 miliar. Dengan demikian, kekayaan bersih mereka saat ini mencapai US$11,9 miliar. Ada nama Anthoni Salim, Boenjamin Setyawan, dan Chairul Tanjung yang masuk dalam top ten orang terkaya se-Indonesia.

Memberi rangking pada orang-orang terkaya memang kebiasaan para kapitalis. Kaya dalam arti berlimpah harta dan materi. Sementara jika kita melihat kondisi rakyat, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja harus tertatih-tatih. Dikatakan berkecukupan tidak, dikata miskin bahkan ada yang kondisinya jauh lebih mengerikan. Apa urgensinya merilis data orang terkaya di tengah kondisi rakyat yang merana kala masih pandemi?

Jika kita berkeliling ke kota, perhatikan bangunan dan kompleks perumahan yang dihuni orang-orang kaya. Penghuninya terkadang jarang menempati rumah megah itu. Namun, jika kita kembali melihat komplek rumah pinggir jalan. Tak jarang kita jumpai mereka yang tinggal dalam kontrakan kecil bahkan beralaskan kolong jembatan. Kondisi yang sangat bertolak belakang.

Rilis orang terkaya versi Forbes adalah satu contoh betapa kehidupan kapitalistik membuat jurang kehidupan yang berbeda jauh diantara manusia. Ada yang kekayaannya bak melebihi anak sultan. Ada pula yang miskin kelaparan hingga beratap langit dan beralaskan tanah.

Itulah kejamnya kapitalisme. Seperti kata pak haji Rhoma, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Harta kekayaan hanya berputar di kalangan para taipan.

Negara Terjebak Kapitalisme

Jika kita menelisik lebih ke dalam lagi bagaimana kerja kapitalisme berhasil memberi jurang sosial yang kian menganga. Maka lihatlah nusantara. Meski negeri ini kaya dengan berbagai sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, namun kekayaan itu tak membuat rakyat menikmati.

Kesejahteraan hidup seperti barang mahal yang sukar didapat. Sebab, kekayaan alam negeri dikelola dengan cara bagaimana kapitalis berbisnis. Siapa yang bermodal besar, berpeluang besar memiliki kekayaan alam yang mestinya dikelola untuk memenuhi hajat hidup masyarakat.

Sebagai contoh, lahan hutan papua yang luasnya seluas kota Seoul, Korea Selatan itu bisa dimiliki perusahaan asing secara pribadi. Karena siapa mereka bisa memilikinya? Karena pemerintahan demokrasi bekerja sama dengan para kapitalis. Ada pula lahan berhektar-hektar bisa dibeli seorang taipan. Sedangkan rakyat harus membeli tanah sepetak dengan harga mahal untuk membangun sebuah rumah kecil.

Dalam praktiknya, kapitalisme menjadikan rakyat sebagai tumbal kepentingan korporasi. Hal ini akibat kebebasan kepemilikan yang berlaku dalam kapitalisme. Asal kaya dan modal besar, segala hal bisa dibeli. Meski harus menjual aset dan kekayaan alam negeri.

Hal ini berlangsung begitu lama karena diamini para penguasa negeri yang terpilih dalam lingkaran politik demokrasi. Ada harga yang harus dibayar jika penguasa terpilih itu memenangkan kontestasi. Yaitu, kebijakan yang menguntungkan para kapitalis. Sudah banyak berbagai regulasi dan produk UU yang sangat kapitalis liberal. Akibat kebijakan tersebut, rakyat harus menanggung derita berkepanjangan.

Jika kapitalisme seperti ini, adakah solusi alternatif pengganti dari penerapan sistem ini? Ada. Sistem ekonomi Islam terbukti selama penerapannya mampu bertahan 13 abad. Bukan hanya ekonominya, politik Islam benar-benar memperhatikan setiap urusan rakyat. Pendidikan Islam berhasil mencetak generasi cemerlang di masanya.

Dalam Islam, kekayaan tidak boleh beredar di kalangan orang-orang kaya saja. Allah berfirman dalam surat Al Hasyr [59] ayat 7 yang berbunyi, “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”

Dalam Islam, pilar-pilar yang membangun ekonomi adalah kepemilikan, pemanfaatan kepemilikan, dan distribusi harta. Dalam hal kepemilikan, Islam telah membaginya dalam tiga aspek, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dengan pembagian kepemilikan tersebut, akan tampak jelas status hukum harta mana yang boleh dan tidak boleh dimiliki individu.

Jika harta milik umum, negara tidak boleh memperjualbelikannya kepada individu, swasta, atau asing. Seperti minyak, barang tambang, laut, hutan, sungat, jalan raya, bandara, dan sebagainya. Negara wajib mengelolanya agar rakyat bisa memanfaatkannya sesuai kebutuhan mereka.

Penutup

Jika kita dihadapkan pada dua kondisi berbeda, yang satu terus menimbulkan kesengsaraan bagi mayoritas rakyat, yang satu sudah terbukti belasan abad memberi kesejahteraan, Anda memilih yang mana? Hidup dalam keberkahan karena diatur dengan panduan ilahiyah, atau hidup penuh musibah dengan panduan akal manusia?

Bagi taipan, kapitalisme itu menguntungkan. Namun, bagi rakyat kebanyakan, kapitalisme itu menyengsarakan. Itu artinya, kuasa minoritas atas mayoritas tak akan berhenti jika negeri ini masih berkiblat pada kapitalisme yang didukung penguasa demokrasi. ***