27/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Dilema Guru di Hari Guru

Oleh: Mar’ah Sholihah S.Pd
(Praktisi pendidikan)

Hari guru dimasa pandemi, menyisakan kisah tersendiri. Sudah lebih dari 8 bulan pembelajaran dilakukan melalui daring/online. Beragam fenomena dijumpai. Mulai dari proses pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang kurang efektif hasilnya, beban tugas sekolah yang membuat depresi siswa, belum semua siswa memiliki gawai yang memadai, sarana dan fasilitas internet yang belum menjangkau semua daerah, dan lain-lain. Keluhan dari orang tua sebagai ‘pengganti guru’ dirumah pun tak bisa diabaikan. Mengingat dampaknya sudah sangat serius. Beberapa kasus bunuh diri dan kekerasan akibat stress karena pembelajaran daring, baik yang menimpa pelajar maupun orang tua sempat diberitakan media sosial. Hal ini tentu harus menjadi perhatian.

Banyaknya faktor tersebut bisa jadi yang menjadi pertimbangan menteri pendidikan Nadiem Makarim untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka. Sebagaimana diketahui bahwa awal Januari 2021 akan dimulai kembali pembelajaran secara tatap muka untuk anak sekolah. Nadiem memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah, kantor wilayah kementrian Agama, untuk menentukan pemberian ijin pembelajaran tatap muka disekolah yang berada dibawah kewenangannya. Rencana tersebut disampaikan Nadiem pada konferensi pers secara daring pada Jumat (20/11/2020).tribunnews.com

Bagi guru, orang tua dan pelajar kebijakan belajar kembali di tengah pandemi tentu menjadi dilema. Mengingat sampai hari ini. Pemerintah belum mampu untuk melandaikan kurva Covid-19. Kasus ratusan guru di Surabaya yang dinyatakan positif Covid beberapa waktu lalu tentu tak bisa diabaikan. Faktanya penambahan kasus juga masih terus terjadi.

Dilema Guru antara pilihan bersekolah tatap muka kembali, itu berarti harus siap resiko kesehatan bahkan nyawa, atau belajar melalui daring dengan segala macam kekurangannya. Sementara protokol kesehatan sendiri sebagaimana diketahui ditengah masyarakat pun nyatanya susah dipatuhi. Apalagi pelajar yang terkadang abai. Lalu bagaimana jika sekolah dibuka kembali ?

Akibat kebijakan setengah hati

Hal ini terjadi karena kebijakan setengah hati yang dilakukan pemerintah. Andaikan penanganan pandemi dilakukan di awal dengan baik, tentu semua bisa diantisipasi. Sayang di awal pandemi tidak segera dilakukan karantina orang dan wilayah yang terpapar virus Covid 19 akibatnya penyebaran berlangsung dg pesat. Di awal pandemi ketika masyarakat sempat sedikit faham, kebijakan New Normal diberlakukan karena pertimbangan menggerakkan ekonomi masyarakat. Hal ini pun berimbas ke ranah pendidikan. Jika awalnya hanya daring yang dilakukan, di beberapa daerah sekolah mulai menerapkan daring dan luring. Pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka terbatas dg menerapkan Physical distancing. Namun ini pun masih belum optimal. Cluster pendidikan pun bermunculan.

Jika ditanya siapa pihak yang paling merasa terbebani dengan kondisi ini. Maka dia adalah guru. Guru dengan tugas utamanya mengajar dan mendidik pelajar, merasa bertanggung jawab terhadap siswa dan orang tua. Berada di situasi yang tidak mudah, sedangkan tahun pelajaran sudah separuh berjalan. Di satu sisi merasa bertanggung jawab secara moral untuk tetap mengajar dengan kondisi dan fasilitas yang belum memadai, disisi lain ancaman penularan virus juga tak bisa diabaikan. Dan faktanya banyak yang tak menghiraukan ancaman wabah karena merasa tanggung jawab mencerdaskan pelajar jauh lebih menjadi pertimbangan. Apalagi jika mereka menjumpai tak semua pelajar mampu belajar dengan online.

Solusi atasi problem pendidikan

Semua hal tersebut akan berbeda ketika Islam dijadikan sebagai solusi atas beragam.persoalan pendidikan. Dalam Islam Keberhasilan penanganan pandemi Covid akan berimbas kepada seluruh aspek hidupan yang ada. Prinsip di dalam Islam adalah ‘Penjagaan Nyawa’ menjadi prioritas utama. Sebagaiaman dalam

Hadist “hilangnya dunia lebih ringan dihadapan Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim tanpa hak” (HR.An Nasa’i 3987). Keutamaan prioritas keselamatan inilah yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar pada saat menghadapi pandemi wabah di masanya. Beliau mengerahkan segenap tenaga, mencari berbagai macam cara hingga ditemukan solusi penanaganan wabah. Disisi lain jaminan kebutuhan pokok masyarakat dipenuhinya.

Maka disini peran penguasa bertanggung jawab penuh terhadap penanganan wabah pandemi. Hingga dipastikan bisa diatasi.

Jika penanganan wabah ini sudah diatasi, langkah berikutnya barulah kebijakan sekolah tatap muka dilakukan. Sebagaimana pembukaan aktivitas sosial masyarakat lainnya. Hal Itupun jika daerah tersebut benar-bwnar dipastikan aman. Sementara di daerah yang masih beresiko, kebijakan pendidikan dengan daring masih perlu dilakukan. Tentu dengan segenap sarana dan prasarana yang disediakan oleh pemerintah, yang itu mendukung kesuksesan pembelajaran via online.

Selain fasilitas, kurikulum pendidikan berbasis aqidah Islam, akan memberikan banyak pengaruh pada pelajar. pencapaian target pendidikan tak hanya berupa nilai dalam mata pelajaran tapi juga nilai ruhiyah yang akan menghasilkan kepribadian pelajar. Belajar di era pandemi membutuhkan kesabaran, kesungguhan dan kreatifitas yang luar biasa. Denga dorongan ruhiyah baik guru, pelajar dan orang tua, ikhlas menghadapi situasi yang ada dan saling mendukung terlaksanakanya pendidikan.

Bahkan moment ini akan menjadikan semangat tersendiri dikalangan pelajar untuk lebih giat belajar, agar kelak dapat memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat. ilmu yang bermanfaat untuk ummat. Inovasi pendidikan dan kesehatan bukan tidak mungkin akan bermunculan. Semua berlomba untuk memberikan yang terbaik di masa-masa sulit.

Memahamkan secara ruhiyah belajar di masa pandemi, justru menunjukkan esensi penting dalam ibadah menuntut ilmu. Bahwa belajar membutuhkan kesabaran, kesungguhan, perjuangan. Sementara tugas penguasa adalah memenuhi semua sarpras fasilitas pendidikan. Bahkan dengan cuma cuma mengingat pendidikan dalam Islam adakah kebutuhan pokok kolektif yang harusnya menjadi tanggung jawab negara. Jika saat ini internet, gawai menjadi kendala utama, maka haruslah disediakan oleh penguasa.

Sungguh semua solusi tersebut akan dapat dilaksanakan secara optimal jika sistem kehidupan ini diatur sesuai aturan Islam. Karena pokok prinsip belajar di era pandemi adalah sebuah perjuangan hidup, pengorbanan dalam menuntut ilmu. Dengan berbagai fasilitas yang disediakan penguasa maka akan menjadikan

Moment belajar akan menjadi mudah. Bahkan memberikan pengalaman hidup yang luar biasa. Inilah saat dimana guru akan menggembleng siswanya mampu survive , bertahan di segala kondisi. Inilah mental pejuang yang bisa ditanamkan di era pandemi. Jika seluruh elemen menjalankan tugasnya dengan baik maka insya Allah penanganan pendidikan di era pandemi aan melahirkan ketangguhan generasi berlandaskan ketaqwaan pada Allah Rabbul Izzati. ***